Gotrade News - Perang Iran terus menggerakkan pasar minyak global, dengan WTI naik 4,83% dan Brent naik 3,26% pada Selasa (28/04). Futures Wall Street melepas sebagian level rekor sebelumnya karena Selat Hormuz masih efektif tertutup.
Menurut Investing.com pada Selasa (28/04), Presiden Trump menolak proposal damai Iran yang akan mengakhiri konflik dan membuka kembali Hormuz dengan menunda pembahasan nuklir. Penolakan ini memperpanjang tekanan pasokan yang telah mengangkat harga minyak beberapa sesi terakhir.
--- - WTI naik 4,83% dan Brent naik 3,26% saat Selat Hormuz, yang membawa sekitar seperlima minyak global, masih efektif tertutup - Trump menolak proposal Iran soal Hormuz dengan penundaan nuklir, memperpanjang guncangan pasokan dan risiko ekor inflasi - Keuntungan trading minyak di pemain besar seperti BP menyoroti potensi upside bagi eksposur XOM, CVX, dan BP menuju musim laporan Q1 2026 ---
Sekitar seperlima minyak global biasanya melewati Selat Hormuz. Dengan jalur ini efektif tertutup, tekanan tersebut langsung mengalir ke harga futures Brent dan WTI.
Menurut Investing.com pada Selasa (28/04), ketidakpuasan Trump terhadap proposal Iran berpusat pada kegagalan dokumen tersebut menangani penghapusan kapabilitas nuklir Iran. Gedung Putih sebelumnya juga membatalkan keberangkatan negosiator ke Pakistan untuk pembicaraan baru.
Futures Dow tercatat +125 poin (+0,3%) per 06:25 ET, sementara futures S&P 500 turun 17 poin (-0,2%) dan futures Nasdaq 100 turun 172 poin (-0,6%). Tape yang terbelah ini mencerminkan rotasi defensif ke energi dan industri versus tekanan pada saham pertumbuhan.
Kekuatan sektor energi menjadi faktor paling jelas yang menahan indeks. Pemain minyak terintegrasi dengan meja trading global berada di posisi untuk menangkap efek harga sekaligus volatilitas intra bulan.
Menurut Bloomberg pada Selasa (28/04), BP melaporkan lonjakan laba Q1 2026 yang terkait keuntungan trading minyak selama Perang Iran. Cetakan ini menjadi sinyal bagi leverage operasional yang juga dinikmati meja trading XOM dan CVX dalam tape serupa.
Meja saham memperingatkan bahwa gangguan Hormuz yang berkepanjangan dapat mengangkat ekspektasi inflasi dan memaksa bank sentral menunda atau membalik jalur pemangkasan suku bunga. Dinamika inilah yang menahan futures Nasdaq tetap lemah meski energi rali.
Sekitar 35% emiten S&P 500 melaporkan kinerja minggu ini, termasuk kelompok teknologi megacap. Tabrakan antara berita Iran dan komentar capex AI inilah yang menghasilkan kebuntuan arah indeks saat ini.
Menurut Investing.com pada Selasa (28/04), analis menandai risiko teruskan inflasi sebagai variabel makro utama yang perlu dipantau. Penguatan Brent yang berkelanjutan di atas kisaran terbaru akan mempersempit ruang gerak The Fed.
Bagi investor energi, perdagangan saat ini bersifat biner terhadap jalur diplomatik. Pembukaan Hormuz yang kredibel akan dengan cepat melepas premi, sementara kebuntuan yang berlanjut menjaga bid pada XOM, CVX, dan BP.
Manajemen risiko tetap penting bahkan dalam tape yang kuat. Ukuran posisi pada saham energi sebaiknya memperhitungkan risiko gap akibat berita pada setiap kejutan de-eskalasi.
Eksposur tematik pada saham energi global dan Timur Tengah dapat dibangun melalui aplikasi Gotrade dengan akses ke lebih dari 4.000 ticker pasar Amerika.












