Gotrade News - Indonesia mendapat penegasan positif dari dua lembaga keuangan internasional sekaligus di Washington pekan ini. S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil setelah pertemuan pada Senin (14/04).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang hadir langsung membawa kabar tersebut dari Washington DC. Ia sekaligus menegaskan bahwa Indonesia tidak membutuhkan bantuan finansial dari IMF meskipun ketidakpastian global meningkat.
Key Takeaways:
- S&P pertahankan rating BBB stable outlook berkat penerimaan pajak tumbuh hingga 30% di awal 2026
- Indonesia miliki buffer SAL Rp420 triliun dan tolak bantuan IMF secara tegas
- S&P rencanakan kunjungan ke Indonesia pada Juli untuk penilaian ekonomi komprehensif
Penerimaan Pajak Tumbuh, Defisit Terjaga di Bawah 3%
S&P menilai kondisi fiskal Indonesia mengalami perbaikan signifikan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Lembaga pemeringkat tersebut mencatat perbaikan indikator makroekonomi dan mikroekonomi sepanjang kuartal IV 2025.
Dilansir BloombergTechnoz, penerimaan pajak Indonesia tumbuh sekitar 30% dalam dua bulan pertama tahun 2026. Pertumbuhan penerimaan untuk periode Januari hingga Maret bahkan mencapai sekitar 20% secara tahunan.
Purbaya menyampaikan bahwa defisit anggaran Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 2,8% hingga 2,9% terhadap PDB tahun ini. Presiden Prabowo telah memberikan arahan tegas agar defisit anggaran tetap dijaga di bawah ambang batas 3% PDB.
"Kami konsisten dengan kebijakan ini, Presiden Prabowo mengarahkan agar defisit kami tetap di bawah 3%," ujar Purbaya. Konsistensi ini menjadi salah satu faktor utama yang diapresiasi oleh S&P dalam penilaian terbaru mereka.
S&P juga secara khusus menanyakan rasio utang terhadap penerimaan pajak Indonesia kepada delegasi RI. Pejabat Indonesia meyakinkan bahwa rasio tersebut tetap terkendali berkat peningkatan penerimaan dan restrukturisasi organisasi perpajakan.
Lembaga pemeringkat itu mengonfirmasi rencana kunjungan langsung ke Indonesia pada Juli 2026 mendatang. Kunjungan tersebut bertujuan melakukan asesmen menyeluruh terhadap kondisi ekonomi dan anggaran negara secara langsung.
RI Tegaskan Tak Butuh Bantuan IMF
Di sisi diplomatik, Purbaya juga bertemu langsung dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di Amerika Serikat. Pertemuan ini membahas stabilitas makroekonomi dan strategi fiskal Indonesia di tengah gejolak konflik kawasan Timur Tengah.
Mengutip Sindonews, Purbaya menegaskan bahwa Indonesia memiliki SAL (Sisa Anggaran Lebih) senilai Rp420 triliun. Dana tersebut dinilai lebih dari cukup untuk meredam dampak gejolak eksternal tanpa perlu meminjam dari lembaga multilateral.
"Indonesia tidak membutuhkannya karena anggaran kita solid dan kita punya buffer besar senilai Rp420 triliun," kata Purbaya. Pernyataan ini disampaikan saat IMF menawarkan ketersediaan dana darurat bagi negara yang terdampak konflik regional.
Purbaya juga menyoroti bahwa Indonesia telah menerapkan perubahan kebijakan ekonomi sejak akhir 2025 yang menempatkan negara pada posisi yang lebih tangguh. Langkah-langkah tersebut mencakup reformasi perpajakan dan penguatan struktur anggaran yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Kombinasi pertumbuhan penerimaan pajak yang kuat dan disiplin fiskal menjadi fondasi utama kepercayaan internasional terhadap ekonomi Indonesia. Pengakuan S&P dan respons positif IMF memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu ekonomi paling stabil di kawasan Asia.
Sources:
BloombergTechnoz, Bersua IMF, Purbaya Tegaskan RI Tak Butuh Bantuan: Kita Punya SAL, 2026.
Sindonews, Purbaya Bawa Kabar Gembira dari Washington: S&P Pertahankan Rating RI Tetap Triple B, 2026.












