Gotrade News - Rupiah menyentuh Rp17.706 per dolar AS pada 20 Mei 2026, level terendah sepanjang sejarah mata uang Indonesia. Cadangan devisa Bank Indonesia ikut tergerus USD10,27 miliar sejak akhir Desember 2025 hingga April 2026.
Pelemahan ini memicu prediksi pasar bahwa BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5% pada rapat 19-20 Mei 2026. Tekanan kurs juga mulai menjalar ke sektor riil, termasuk industri teknologi informasi yang bergantung pada impor.
Key Takeaways
- Rupiah menyentuh level terendah sepanjang sejarah di Rp17.706 per USD pada 20 Mei 2026.
- Cadangan devisa turun USD10,27 miliar menjadi USD146,20 miliar per akhir April 2026.
- BI diprediksi menaikkan BI Rate 25 bps ke 5% untuk menahan pelemahan kurs.
Tekanan Kurs Dan Erosi Cadangan Devisa
Menurut Kompas, cadangan devisa turun dari USD156,47 miliar pada akhir Desember 2025 menjadi USD146,20 miliar di akhir April 2026. Erosi sebesar USD10,27 miliar tersebut mencerminkan intensitas intervensi BI untuk menjaga stabilitas rupiah.
Untuk menarik kembali aliran modal asing, BI menaikkan yield Sertifikat Rupiah BI dari sekitar 4,9% di awal tahun ke 6,5% pada awal Mei. Strategi ini berhasil menyedot aliran asing senilai Rp78 triliun hingga April 2026.
Repo rate BI juga ikut naik ke 5,1% sebagai sinyal pengetatan likuiditas. Investor membaca pergerakan ini sebagai langkah persiapan menjelang keputusan suku bunga acuan.
Senior Portfolio Manager Fixed Income Manulife Asset Management Indonesia Syuhada Arief menilai BI memiliki ruang untuk menaikkan BI Rate ke 5%. Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memproyeksikan kenaikan 25 basis poin pada rapat dewan gubernur pekan ini.
Investor yang ingin melacak sensitivitas pasar Indonesia terhadap pergerakan kurs dapat mencermati EIDO sebagai ETF eksposur saham Indonesia. Sementara itu, kekuatan dolar AS terhadap mata uang global tercermin pada UUP.
Fundamental Berbeda Dan Imbas Ke Sektor Riil
Dilansir Kompas, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi saat ini berbeda dari krisis 1998. Inflasi tercatat 2,41% pada April 2026, jauh di bawah inflasi 77% pada periode krisis.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan situasi sekarang fundamental berbeda dari krisis 1998. Saat itu kebijakan salah dan instabilitas politik terjadi bersamaan, sedangkan kondisi 2026 tetap berada dalam koridor pertumbuhan.
GDP Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I 2026, kontras dengan kontraksi 13% pada 1998. Rasio kecukupan modal perbankan juga sehat di 25,83%, dibandingkan posisi negatif pada periode krisis.
Meski fundamental terjaga, pelemahan kurs mulai menekan biaya operasional perusahaan berbasis impor. Sensitivitas terhadap suku bunga jangka panjang juga membuat instrumen seperti TLT menjadi pembanding global untuk lintasan yield obligasi.
Melansir Bloomberg Technoz, industri teknologi informasi domestik terpapar langsung karena ketergantungan pada alat impor. Laptop, server, perangkat jaringan, dan komponen elektronik menjadi pos pengadaan yang membengkak.
Ketua Apjatel Jerry M Swandy menjelaskan bahwa pelemahan kurs otomatis meningkatkan tekanan biaya pengadaan. Kondisi ini berpotensi menggeser margin perusahaan telco dan penyedia layanan IT jika tidak segera dimitigasi.
Pelaku pasar kini menanti hasil rapat dewan gubernur BI sebagai penentu arah jangka pendek. Kenaikan suku bunga acuan diharapkan menahan pelarian modal sekaligus menstabilkan nilai tukar.












