Gotrade News - Rupiah anjlok ke Rp 17.645 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026), level terendah sepanjang sejarah. Pelemahan 1,17% dari sesi sebelumnya membuat depresiasi tahun berjalan mencapai 5,99%.
Lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah dan arus keluar modal asing memperberat tekanan. DPR Komisi XI mencecar Bank Indonesia (BI) di rapat soal efektivitas intervensi yang dinilai belum mampu menahan pelemahan.
Key Takeaways
- Rupiah tembus Rp 17.645 per dolar AS, level terendah sepanjang sejarah dengan depresiasi 5,99% YTD.
- Cadangan devisa turun dari USD 156 miliar menjadi USD 146,2 miliar di tengah intervensi BI.
- DPR menegaskan kondisi saat ini berbeda dari krisis 1998 karena utang luar negeri swasta jauh lebih rendah.
Menurut Kompas.com, Brent kontrak Juli naik 1,98% ke USD 111,42 per barel dan WTI Juni melonjak 2,43% ke USD 107,98. Kenaikan harga minyak menekan rupiah karena Indonesia mengimpor sekitar 1,5 juta barel per hari.
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan harga energi global. Peringatan Presiden AS Donald Trump terkait negosiasi nuklir Iran turut memperkuat sentimen risk-off di pasar negara berkembang.
DPR Cecar BI di Rapat
Dilansir Bloomberg Technoz, anggota Komisi XI Harris Turino mempertanyakan efektivitas instrumen kebijakan BI. Cadangan devisa telah turun dari USD 156 miliar menjadi USD 146,2 miliar sepanjang siklus intervensi.
BI Rate juga sudah dinaikkan ke 6,41% di tengah tekanan rupiah. Kepemilikan SBN BI ikut melonjak dari Rp 332 triliun pada 2025 menjadi Rp 465 triliun di 2026.
Anggota Komisi XI Muhammad Kholid meminta pemerintah meredam kekhawatiran pasar lewat komunikasi yang terkoordinasi. BI, OJK, LPS, dan Kementerian Keuangan diminta menyampaikan pesan konsisten kepada investor.
Kholid menegaskan kondisi hari ini tidak sama dengan krisis 1998 ketika utang dolar swasta sangat besar. Indonesia juga sukses melewati krisis 2008, Taper Tantrum 2013, dan pandemi Covid-19 tanpa keruntuhan struktural.
Tekanan ke Emiten Importir
Melansir Bloomberg Technoz, emiten Grup Salim INDF dan ICBP menghadapi tekanan margin dari pelemahan rupiah. Eksposur muncul lewat pinjaman dan biaya pembelian bahan baku dalam dolar AS.
Manajemen mengakui grup tidak memiliki kebijakan lindung nilai formal atas eksposur valas. Margin laba, beban impor bahan baku, dan kewajiban utang dolar yang jatuh tempo menjadi tiga titik tekanan utama.
Sentimen ke pasar saham Indonesia bisa dilacak lewat iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) sebagai proksi paparan asing. Arus keluar dari EIDO biasanya mencerminkan kehati-hatian investor global terhadap aset rupiah.
Bank dengan eksposur emerging market seperti JPMorgan Chase (JPM) juga ikut terdampak tidak langsung. Tekanan mata uang regional kerap memperketat kondisi pendanaan di meja dagang valas global.
Investor regional juga memantau iShares China Large-Cap ETF (FXI) sebagai pembanding sentimen Asia berkembang. Korelasi antara FXI dan EIDO menguat saat tekanan mata uang regional terjadi bersamaan.
Analis Ibrahim Assuaibi menilai komentar Presiden Prabowo terkesan meremehkan dampak depresiasi rupiah ke masyarakat. Pernyataan pejabat yang tidak konsisten berisiko memperlebar premi risiko di pasar valas.
Sejak Oktober 2024, rupiah telah terdepresiasi sekitar 12% dari level Rp 15.400 per dolar AS. Konsolidasi narasi pemerintah dan BI menjadi kunci untuk meredam volatilitas jangka pendek di pasar.












