Gotrade News - Rupiah bergerak di kisaran Rp17.721 hingga Rp17.870 per dollar AS pada perdagangan Senin pagi (25/5/2026). Mata uang Garuda tertekan tipis 0,05 persen di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia lainnya.
Pelemahan terjadi saat ekspektasi suku bunga Fed yang lebih lama tinggi menguatkan dollar AS di pasar global. Tekanan ini turut membayangi sentimen saham AS sektor sensitif suku bunga dan ekuitas pasar berkembang seperti Indonesia.
Key Takeaways
- Kurs rupiah dibuka di Rp17.726 per dollar AS, lalu bergerak di rentang Rp17.715-17.721 pada pagi hari.
- Kurs jual dollar AS di bank besar tembus Rp17.870 di BRI, Rp17.810 di Mandiri, dan Rp17.800 di BNI.
- Analis memproyeksi rupiah berpotensi melemah menuju Rp18.000 per dollar AS dalam sepekan ke depan.
Menurut Kompas, rupiah dibuka di level Rp17.726 per dollar AS, melemah 0,05 persen dari penutupan akhir pekan lalu. Pergerakan ini menempatkan rupiah sebagai satu-satunya mata uang Asia yang melemah pada pagi tersebut.
Pada saat yang sama, baht Thailand menguat 0,71 persen, won Korea Selatan naik 0,57 persen, dan peso Filipina menguat 0,52 persen. Tren divergensi ini menandakan tekanan spesifik pada fundamental rupiah, bukan sekadar penguatan dollar AS secara luas.
Pemicu Pelemahan Rupiah
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksi rupiah berpotensi terus tertekan menuju level Rp18.000 per dollar AS dalam sepekan ke depan. Indeks dollar AS (DXY) diperkirakan bergerak di kisaran 97,600 hingga 101,00 pada periode 25-29 Mei.
Dilansir Metro TV, Muhammad Amru Syifa dari ICDX mengaitkan pelemahan dengan ekspektasi suku bunga Fed yang akan bertahan lebih lama di level tinggi. Faktor ini membuat aliran dana investor cenderung beralih ke aset berbasis dollar AS.
Di sisi domestik, defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat USD 4 miliar pada kuartal I 2026. Beban defisit kembar ini menjadi sumber tekanan struktural pada nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini.
Risiko yang Masih Membayangi
Kurs jual dollar AS di bank besar menunjukkan disparitas yang lebar dengan kurs pasar spot. Melansir Kompas, BRI mematok kurs jual Rp17.870, Mandiri Rp17.810, BNI Rp17.800, dan BCA Rp17.740 per dollar AS.
Kurs referensi Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp17.717 per dollar AS pada 22 Mei, naik dari Rp17.673 pada 21 Mei. Pergerakan ini mengonfirmasi tren pelemahan rupiah yang berlanjut sejak pekan sebelumnya.
Analis Lukman Leong melihat potensi rupiah bergerak di rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dollar AS pada perdagangan hari ini. Meredanya ketegangan di Timur Tengah dan koreksi harga minyak menjadi katalis positif bagi rupiah dalam jangka pendek.
Kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada 19-20 Mei diharapkan membatasi laju pelemahan. Investor global yang ingin mengukur eksposur dollar AS dapat memantau Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP), sementara eksposur ekuitas Indonesia tersedia melalui iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO).












