Gotrade News - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada Selasa (28/04) di tengah sentimen risk-off global. Mata uang Garuda turun 12 poin ke Rp17.223 per dolar AS dari posisi Rp17.211 sebelumnya.
Pelemahan terjadi seiring eskalasi tensi geopolitik AS-Iran di Selat Hormuz. Indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia ikut menanjak dalam sesi yang sama.
Key Takeaways
- Rupiah melemah 0,07% ke Rp17.223 per dolar AS dari Rp17.211
- Outflow asing dari saham capai US$118,5 juta pada 27 April 2026
- Inflow ke surat utang negara tercatat US$91,7 juta per 24 April
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut penyebab utama berasal dari sentimen risk-off Timur Tengah. Pasar bereaksi atas laporan AS belum menerima usulan perdamaian terbaru dari Iran.
Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.150 hingga Rp17.300 per dolar AS hari ini. Rentang tersebut mempertimbangkan tekanan dari indeks dolar dan minyak yang menguat bersamaan.
Bloomberg Technoz mencatat investor asing melepas saham Indonesia senilai US$118,5 juta pada 27 April. Angka itu menjadi outflow harian terbesar selama sebulan terakhir, menandai empat hari beruntun aksi jual.
Saham perbankan menjadi sasaran utama aksi jual investor asing dalam empat sesi terakhir. Investor global mengurangi eksposur ekuitas Asia di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
Di sisi lain, investor global justru menambah kepemilikan surat utang negara senilai US$91,7 juta. Posisi net buy SUN tercatat hingga 24 April 2026, mengindikasikan rotasi ke aset defensif.
Sebagian retail mulai mendiversifikasi tabungan ke valuta asing seiring proyeksi rupiah menuju Rp20.000. Strategi ini lazim ketika ekspektasi pelemahan menjadi konsensus pasar.
Kami menilai pelemahan rupiah belum mencerminkan tekanan fundamental, melainkan reaksi sentimen jangka pendek. Posisi cadangan devisa dan inflow SUN masih menjadi penyangga utama.
Bagi investor ritel yang ingin diversifikasi geografis, eksposur dolar lewat ETF saham AS bisa menjadi opsi. Kami pantau iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) sebagai cermin sentimen asing terhadap aset Indonesia.
Risiko utama hari ini adalah eskalasi lanjutan AS-Iran yang memperdalam pelemahan rupiah. Kami memantau sinyal Bank Indonesia atas kemungkinan intervensi jika Rp17.300 ditembus.












