Rupiah Anjlok ke Rp18.111 Usai The Fed Tahan Bunga

Setya MahardikaSetya Mahardika
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade

Bagikan artikel

Rupiah Anjlok ke Rp18.111 Usai The Fed Tahan Bunga

Gotrade News - Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp18.111 per dolar AS pada Kamis (30/07), setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan menahan suku bunga. Pada saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun. Ada tiga faktor utama yang menekan rupiah, yakni keputusan The Fed, harga minyak yang masih tinggi, dan penguatan dolar AS. Kombinasi ini menegaskan bahwa arah kebijakan moneter AS tetap menjadi penentu terbesar bagi pergerakan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Key Takeaways

  • The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% .
  • Rupiah ditutup melemah 38 poin ke Rp18.111 per dolar AS.
  • Yield Treasury 30 tahun menyentuh 5,23%, tertinggi sejak 2007.
  • Peluang kenaikan bunga 25 poin pada September dinilai pasar sekitar 63%.

Berdasarkan pernyataan resmi Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tertanggal 29 Juli 2026, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (federal funds rate) di kisaran 3,50%-3,75%. Dalam pernyataannya, The Fed menilai aktivitas ekonomi AS masih tumbuh dengan laju yang solid, meski di tengah ketidakpastian yang tinggi. Sebagian ketidakpastian itu bersumber dari konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, inflasi masih berada di atas target 2% akibat sejumlah gangguan pasokan, termasuk di sektor energi.

Vote 9-3 dan Tiga Dissenter yang Ingin Menaikkan Bunga

Yang membuat keputusan ini terbaca hawkish adalah komposisi suaranya. Berdasarkan pernyataan FOMC, tiga anggota komite memberikan suara menentang keputusan menahan bunga dan justru menginginkan kenaikan seperempat poin persentase, yakni Beth M. Hammack dari The Fed Cleveland, Neel Kashkari dari Minneapolis, dan Lorie K. Logan dari Dallas. Dissent bertiga ini menandakan adanya faksi di dalam komite yang menilai tekanan inflasi belum cukup mereda untuk membiarkan kebijakan tetap di tempat.

Baca juga: Laba Emiten Semester I 2026 Terbelah, BJBR Melejit

Ini menjadi rapat FOMC kedua di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh. Dilansir Fox Business, Warsh menyebut keputusan menahan bunga sebagai langkah yang "especially prudent at these uncertain times" dan menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga kredibilitasnya. "This Fed will not waver. Our credibility rests on performing our duties," ujar Warsh. Menurut data CME FedWatch pasca-keputusan yang dikutip Fox Business, peluang kenaikan 25 basis poin pada September sempat naik menjadi 57,2% dari 55,8%.

Rupiah Tertekan Dolar dan Harga Minyak Tinggi

Dampak keputusan The Fed langsung terasa di pasar valuta asing dalam negeri. Menurut Kompas, rupiah ditutup melemah 38 poin atau 0,21% ke Rp18.111 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.073. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, menguat 0,17% ke level 101,052.

Masih menurut Kompas, pelemahan rupiah dipicu oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, yaitu keputusan The Fed menahan suku bunga, harga minyak yang tetap tinggi di tengah ketegangan AS-Iran, serta tingginya permintaan dolar karena transaksi minyak dunia umumnya menggunakan mata uang tersebut. Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menilai kombinasi faktor itu menjadi tekanan utama yang menahan penguatan rupiah. "Selama harga minyak masih tinggi dan pasar memperkirakan The Fed tetap hawkish, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan mereda," ujarnya seperti dikutip Kompas.

Baca juga: Gotrade Daily: AWS Amazon Melejit, Rekor untuk Microsoft

Yield Treasury 30 Tahun Tembus Level Tertinggi 19 Tahun

Sinyal hawkish The Fed juga terlihat jelas di pasar obligasi. Menurut Trading Economics, yield Treasury 10 tahun naik sekitar 7 basis poin ke kisaran 4,69%, level tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield Treasury 30 tahun menyentuh 5,23%, tertinggi dalam 19 tahun atau sejak 2007. Lonjakan yield ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa biaya pinjaman akan bertahan lebih tinggi dan lebih lama.

Ekspektasi pasar pun bergeser tajam. Dilansir Trading Economics, pasar kini memberi peluang sekitar 63% untuk kenaikan 25 basis poin pada September, turun dari hampir 80% sebelum keputusan dirilis. Pergeseran ini menunjukkan pelaku pasar mulai mengurangi taruhan pada kenaikan agresif, meski nada hawkish The Fed tetap membayangi.

Bagi pasar saham AS, arah suku bunga yang lebih tinggi dan lebih lama biasanya paling terasa pada saham perbankan yang sensitif terhadap net interest margin dan biaya dana. Nama-nama seperti JPMorgan Chase (JPM), Bank of America (BAC), dan Goldman Sachs (GS) menjadi barometer bagaimana sektor keuangan menyerap dinamika yield Treasury yang bergerak ke level ekstrem seperti sekarang.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Setya Mahardika
Ditulis oleh
Setya Mahardika
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade