Gotrade News - Rupiah menguat ke level Rp17.991 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (3/8/2026), ditopang membaiknya sentimen risiko global dan aliran modal asing yang deras ke instrumen pendapatan tetap domestik. Menurut Kompas, kurs referensi Jisdor Bank Indonesia ditutup di Rp17.991 dan kurs spot di Rp17.997, menguat 25 poin atau 0,14 persen dari sesi sebelumnya, sementara Jisdor naik 0,37 persen dari Rp18.058.
Penguatan hari ini terjadi di tengah latar belakang struktural yang positif bagi posisi eksternal Indonesia. Menurut Bank Indonesia, aliran investasi portofolio asing pada triwulan II 2026 mencatat net inflows sebesar US$8,5 miliar, terutama didukung Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Aliran ini masuk ke instrumen pendapatan tetap dan pasar uang, bukan pembelian bersih saham di bursa, sehingga menjadi penyangga bagi rupiah dan neraca modal, bukan sinyal ekuitas.
Pemicu Penguatan Rupiah Hari Ini: De-eskalasi Geopolitik dan Harga Minyak
Pendorong penutupan rupiah hari ini berbeda dari faktor kuartalan tersebut. Dilansir Kompas, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan dipicu keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan besar ke Iran, dengan negosiasi dijadwalkan dimulai Senin. Meredanya ketegangan geopolitik menekan harga minyak dunia dan meredakan kekhawatiran inflasi, sementara mayoritas mata uang regional Asia turut menguat terhadap dolar. Indeks dolar AS (DXY) tercatat di level 99,79.
Aliran Portofolio Asing US$8,5 Miliar Ditopang SBN dan SRBI
Melansir Katadata, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan aliran portofolio asing tersebut ditopang SBN dan SRBI serta berlanjut ke triwulan III 2026 seiring naiknya imbal hasil instrumen keuangan domestik. Daya tarik imbal hasil ini menjadi salah satu alasan modal asing tetap mengalir ke pasar surat utang Indonesia.
Kekuatan aliran modal ini juga tercermin pada posisi cadangan devisa. Menurut Bank Indonesia, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar US$145,6 miliar. Dalam pengambilan kebijakan pada 22 Juli 2026, BI turut mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
BI Tarik Rp198 Triliun dari Cadev, Turun dari Puncak US$156 Miliar
Momentum positif ini tidak berdiri sendiri tanpa biaya. Menurut Katadata, Bank Indonesia telah menarik Rp198 triliun dari cadangan devisa untuk intervensi valas guna menstabilkan rupiah dan membayar utang pemerintah. Destry Damayanti menjelaskan tekanan itu tercermin pada penurunan posisi cadangan.
"Posisi cadangan devisa kita tertinggi di 2026 itu sekitar US$156 miliar. Nah, sekarang ini posisinya US$145 miliar," kata Destry Damayanti, seperti dilaporkan Katadata.
Meski turun, BI menilai posisi cadangan masih memadai. Cadangan devisa saat ini setara sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang, berada di atas standar kecukupan internasional yang sebesar 3 bulan.
Puncak cadev 2026
US$156 miliar
Posisi akhir Juni 2026
US$145,6 miliar
Dana ditarik untuk intervensi
Rp198 triliun
Kecukupan impor
Sekitar 5,4 bulan
Sinyal peringatan lain datang dari neraca dagang. Menurut Katadata, meski surplus perdagangan Januari-Juni 2026 tercatat US$3,58 miliar, pada Juni 2026 Indonesia mencatatkan defisit dagang sebesar US$0,45 miliar. Kombinasi cadangan yang menyusut dan defisit bulanan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan rupiah masih menghadapi tekanan mendasar yang perlu dicermati.
Bagi investor Indonesia, rupiah yang lebih kuat menurunkan biaya rupiah untuk membeli saham AS yang dihargakan dalam dolar, meski nilai tukar dapat bergerak dua arah dan bukan jaminan arah ke depan. Pergerakan rupiah tetap bergantung pada dinamika global dan kebijakan moneter yang berjalan.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika adalah SEO Specialist dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga fintech. Berfokus pada riset data dan optimasi konten untuk menjembatani audiens dengan berbagai literasi yang mudah dipahami.