Gotrade News - Rupiah menyentuh level terendah sepanjang masa di Rp17.130 per dolar AS pada penutupan Rabu (15/04). Mata uang Garuda melemah 0,12% dan diperkirakan masih tertekan pada perdagangan hari ini.
Key Takeaways
- Rupiah di rekor terendah Rp17.130 dan diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.100-17.200
- IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia dari 5,1% ke 5,0% untuk 2026
- Penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak menjadi tekanan utama nilai tukar
Lukman Leong dari Doo Financial Futures memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.100-17.200 per dolar AS hari ini. "Rupiah masih akan tertekan dan berpotensi melemah meskipun sentimen global mulai membaik," ujarnya.
Faktor domestik yang lemah membuat investor menghindari rupiah saat ini. Volatilitas dipicu perubahan situasi geopolitik di Timur Tengah yang terus berfluktuasi menurut Lukman kepada RRI.
Proyeksi Pertumbuhan Direvisi Turun
IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,1% menjadi 5,0% untuk 2026. Bank Dunia juga merevisi estimasinya menjadi 4,7% lebih rendah dari proyeksi 4,8% pada Oktober 2025 dilaporkan RRI.
Asian Development Bank memproyeksikan pertumbuhan stabil di 5,2% untuk periode 2026-2027. IMF juga memperkirakan ekonomi global melambat menjadi 3,1% pada 2026 akibat konflik Timur Tengah dan hambatan perdagangan.
Tekanan Eksternal Mendominasi
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar rupiah. Kenaikan harga minyak mendorong inflasi global sehingga bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama menurut Ibrahim Assuaibi.
Ketidakpastian geopolitik membuat investor global beralih ke aset aman seperti dolar AS. Indeks dolar diproyeksikan bergerak dengan support di 97.000 dan resistance di 100.900 dalam sepekan ke depan.
Permintaan domestik dan belanja infrastruktur tetap menjadi penopang stabilitas ekonomi Indonesia. Namun tekanan eksternal dari harga energi dan sentimen pasar global masih mendominasi arah rupiah jangka pendek.












