Gotrade News - Rupiah sempat tertekan hingga menyentuh Rp17.300 per dolar Amerika Serikat sebelum berbalik menguat 57 poin ke Rp17.229 pada Jumat (24/04). Pelemahan indeks dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk rebound di akhir sesi.
Pembukaan rupiah berada di Rp17.286 dan sempat terkoreksi lebih dalam di awal perdagangan. Penguatan 0,33% menjadi sinyal bahwa tekanan jual belum sepenuhnya hilang meski ada pemulihan teknikal.
- Intraday low Rp17.300 tercapai lebih cepat dari proyeksi target akhir tahun
- Bank Indonesia bersiaga di pasar lewat triple intervention untuk menahan volatilitas
- Ketegangan geopolitik Timur Tengah dan harga minyak menjadi tekanan eksternal utama
Analis Ibrahim Assu'aibi menjelaskan pelemahan dolar AS menjadi pendorong utama pembalikan arah rupiah. Ia menilai ruang penguatan mata uang berkembang terbuka seiring turunnya imbal hasil obligasi AS.
Bank Indonesia (BI) disebut bersiaga di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai komitmen triple intervention. Langkah ini mencakup operasi di pasar spot, pembelian SBN di pasar sekunder, dan operasi DNDF.
Ibrahim menggarisbawahi ketidakpastian hubungan AS dengan Iran sebagai risiko utama yang membayangi rupiah. Keputusan Presiden Donald Trump untuk tidak tergesa-gesa mengejar kesepakatan memperpanjang kekhawatiran pasar.
Potensi penutupan Selat Hormuz terus mengganggu ekspektasi pasokan minyak global. Kondisi ini mendorong harga minyak dunia bertahan di atas US$100 per barel dan menambah tekanan impor energi Indonesia.
Target pelemahan rupiah ke Rp17.400 pada akhir tahun kini dinilai berpotensi tercapai lebih awal. Para analis memantau risiko lanjutan bila penyesuaian suku bunga The Fed tertunda.
Kadin menilai kondisi ini sebagai peluang bagi eksportir Indonesia untuk memperluas pasar tujuan non-tradisional. Sinyal ini diharapkan meredam kekhawatiran investor terhadap beban defisit transaksi berjalan.
Sentimen pasar pekan depan akan dipengaruhi data inflasi dan rilis ekspor-impor BPS. Pergerakan rupiah menjadi indikator kunci bagi ekspektasi laba emiten manufaktur berbasis impor.












