Gotrade News - Saham kecerdasan buatan rontok setelah data tenaga kerja AS yang panas memicu aksi jual besar. Indeks S&P 500 turun 2,6%, NASDAQ anjlok 4,2%, dan Dow Jones melemah 1,3% dalam sesi tersebut.
Penurunan ini menyalakan kembali kekhawatiran soal gelembung valuasi di sektor AI yang sudah membara berbulan-bulan. Investor mulai mempertanyakan apakah harga saham teknologi raksasa masih masuk akal di tengah ketakutan kenaikan suku bunga.
Key Takeaways
Broadcom (AVGO) anjlok 7,49% dan Nvidia (NVDA) turun 5,93% dalam aksi jual saham AI.
Data tenaga kerja AS yang panas memicu kekhawatiran The Fed menaikkan suku bunga.
Gelombang jual menyebar ke Asia, dengan Kospi Korea Selatan anjlok 9%.
Melansir The Motley Fool, Broadcom (AVGO) ditutup di $387,52, turun $31,39 atau 7,49% pada sesi 5 Juni 2026. Penurunan ini menjadikan margin laba sebagai sorotan utama meski pendapatan perusahaan masih melonjak.
Saham Nvidia (NVDA) juga terpukul, melemah 5,93% ke level $205,70 pada sesi yang sama. Nvidia kini bertengger di dekat valuasi sekitar $5 triliun, angka yang membuat banyak investor merasa was-was.
Menurut The Motley Fool, pemicu langsung aksi jual adalah laporan ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari ekspektasi. Data sekuat ini meningkatkan peluang The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga lebih lama.
Tekanan Menyebar ke Asia
Dilansir Investing.com, gelombang jual ikut menghantam pasar Asia ketika perdagangan AI mulai terurai. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 9% dalam satu sesi yang brutal bagi saham teknologi.
Saham SK Hynix turun 4,1% sementara Samsung Electronics merosot 7,8%, menurut data Investing.com. Sentimen negatif diperparah oleh data tenaga kerja AS yang memicu ketakutan kenaikan suku bunga global.
Penurunan Kospi sebesar 9% mencerminkan ketergantungan berat Korea Selatan pada ekspor cip dan teknologi. Ketika permintaan AI dipertanyakan, saham produsen memori menjadi yang paling rentan terhadap koreksi tajam.
Beberapa raksasa teknologi seperti Amazon, Alphabet, dan Microsoft kini membangun chip AI mereka sendiri. Langkah ini menambah tekanan kompetitif pada pemasok chip mapan di tengah valuasi yang sudah tinggi.
Aksi jual menegaskan betapa eratnya pasar global terhubung pada satu tema perdagangan AI. Ketika sentimen di Wall Street berbalik, pasar Asia pun ikut terseret dalam hitungan jam saja.
Eksposur sektor yang lebih luas tercermin pada VanEck Semiconductor ETF (SMH), keranjang saham semikonduktor unggulan. Instrumen ini ikut tertekan karena hampir semua nama besar chip kompak melemah dalam sesi tersebut.
Sorotan utama Broadcom kini tertuju pada margin laba meski pendapatan perusahaan masih melonjak kencang. Investor khawatir biaya yang membengkak bisa menggerus profitabilitas saat persaingan chip semakin sengit.
Tekanan tambahan datang dari valuasi Nvidia yang menyentuh kisaran $5 triliun sebelum koreksi ini. Angka sebesar itu membuat ruang kesalahan menyempit ketika sentimen pasar berbalik dengan cepat.
Sebagian analis justru memandang koreksi tajam ini sebagai peluang beli generasional jika fundamental tetap kokoh. Namun risiko tetap nyata selama arah kebijakan suku bunga The Fed belum pasti.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.