Gotrade News - Empat saham Indonesia resmi dikeluarkan dari indeks FTSE Russell pada review kuartalan Juni 2026 yang diumumkan 23 Mei 2026. Saham yang terdepak meliputi DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dengan alasan beragam mulai konsentrasi kepemilikan hingga free float.
Penyingkiran ini menekan aliran modal pasif ke Indonesia dan menurunkan bobot indeks emerging market. Investor pemegang ETF seperti EIDO dan VWO terdampak langsung oleh tekanan rebalancing indeks tersebut.
Key Takeaways
- FTSE Russell mendepak empat saham Indonesia (DSSA, DAAZ, HILL, MLIA) pada review Juni 2026.
- BEI menyiapkan strategi mengidentifikasi emiten potensial untuk kembali masuk indeks global.
- Pemegang ETF Indonesia seperti EIDO dan VWO menghadapi tekanan bobot indeks.
Pemicu Penyingkiran
Menurut KabarBursa, DSSA dikeluarkan dari kategori Large Cap karena konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi. DAAZ tersingkir dari Micro Cap akibat free float di bawah ambang minimum FTSE Russell.
Saham HILL dan MLIA gagal melewati surveillance screen yang dijalankan penyedia indeks. Keempat keputusan tersebut berlaku efektif setelah penutupan perdagangan 19 Juni 2026 dan mulai diterapkan 22 Juni 2026.
Dilansir KabarBursa, DAAZ mengalami tekanan harga signifikan dengan koreksi 67,23 persen dalam setahun terakhir. Harga saham DAAZ ditutup di Rp1.475 setelah turun 27,7 persen dalam sepekan dan 37,87 persen sebulan.
DAAZ melantai pada 11 November 2024 di harga Rp880 dan bergerak di sektor perdagangan komoditas nikel, batu bara, serta jasa pertambangan. Kinerja YTD saham ini tercatat anjlok 40,69 persen, memperberat kegagalan memenuhi syarat free float.
Strategi Comeback BEI
Penjabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan otoritas bursa akan memetakan emiten yang berpotensi masuk indeks global. Menurut BloombergTechnoz, kriteria utama mencakup kapitalisasi pasar dan likuiditas saham yang konsisten.
Jeffrey menyatakan, "Kami setelah ini akan melihat perusahaan-perusahaan tercatat yang potensial untuk bisa masuk kepada indeks-indeks global." BEI akan merujuk pada persyaratan penyedia indeks internasional dalam menyusun pipeline kandidat.
Jeffrey juga mencirikan penyingkiran terbaru sebagai konsekuensi jangka pendek dari reformasi pasar modal Indonesia. Investor jangka panjang dinilai memandang reformasi tersebut positif meskipun bobot indeks sementara tertekan.
BEI menyatakan akan terus memantau kepatuhan free float emiten meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan penyedia indeks. Penurunan bobot Indonesia juga muncul setelah rebalancing MSCI sebelumnya menyingkirkan sejumlah emiten serupa.
Bagi investor global, pengurangan bobot Indonesia di FTSE Russell menurunkan aliran pasif ke pasar saham domestik. ETF Vanguard FTSE Emerging Markets (VWO) paling langsung merasakan dampak rebalancing FTSE ini.
Pemilik iShares MSCI Indonesia (EIDO) menghadapi sentimen serupa karena overlap emiten antar penyedia indeks. Sebagai pembanding regional, iShares China Large-Cap (FXI) menjadi acuan eksposur Asia alternatif.












