Gotrade News - Saham PT Timah (TINS) melonjak 4,57% ke level Rp 3.890 pada penutupan perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026, setelah pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung langsung emiten pelat merah tersebut. Reli ini terjadi seiring rencana pemerintah membentuk bursa komoditas baru yang berpotensi mengubah cara harga mineral strategis Indonesia ditetapkan. Volume perdagangan mencapai 130,69 juta lembar dengan nilai transaksi Rp 507,05 miliar, mengerek kapitalisasi pasar TINS ke Rp 28,97 triliun.
Reli Saham Timah (TINS)
Menurut Katadata, harga saham TINS bergerak di rentang Rp 3.710 hingga Rp 4.050 sepanjang sesi. Secara year-to-date (YTD) saham ini sudah menguat 25,08%, sementara dalam sebulan terakhir naik 8,96%. Dalam pidatonya, Prabowo secara eksplisit menyebut emiten tersebut dengan mengatakan, "Mungkin yang punya saham di PT Timah (TINS) berarti kekayaannya naik 300%".
Indikator
Nilai
Harga penutupan
Rp 3.890 (+4,57%)
Rentang harian
Rp 3.710 - Rp 4.050
Nilai transaksi
Rp 507,05 miliar
Kapitalisasi pasar
Rp 28,97 triliun
Kinerja YTD
+25,08%
Sentimen positif ini bukan semata euforia sesaat. Fundamental TINS di bawah Direktur Utama Restu Widiyantoro memang tengah membaik tajam. Laba bersih perseroan pada semester I 2026 melonjak 779% secara tahunan menjadi Rp 2,79 triliun, dari sebelumnya hanya Rp 318,47 miliar. Pendapatan tumbuh 147% menjadi Rp 10,41 triliun, dengan margin bersih melompat ke 26,05% dari 7,11% pada periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan kinerja ini ditopang lonjakan produksi dan harga jual. Produksi bijih timah naik 75% menjadi 12.232 ton dan logam timah bertambah 58% ke 10.865 ton, sementara harga jual rata-rata terkerek 52% ke US$49.794 per ton. Ekspor masih mendominasi dengan porsi 97% dari total penjualan, di mana China menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 36%.
Kerangka Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
Katalis di balik reli ini adalah pengumuman Prabowo dalam pidato Nota Keuangan. Dilansir Liputan6, Prabowo menegaskan, "Pemerintah yang saya pimpin akan segera mengoperasionalkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 1 Januari 2027". Bursa ini akan mencakup sejumlah komoditas unggulan, mulai dari sawit, nikel, timah, batu bara, emas, kopi, hingga karet.
Melansir Katadata, rasional di balik kebijakan ini adalah kedaulatan harga. Prabowo menilai Indonesia sebagai produsen besar komoditas tidak sepatutnya harganya ditentukan oleh bursa asing di negara yang tidak memiliki sumber daya tersebut.
"Kalau mereka tidak mau bayar harga yang kita tetapkan, mereka tidak usah beli," ujar Prabowo sebagaimana dikutip Katadata.
Untuk mewujudkannya, pemerintah menyiapkan Harga Referensi Indonesia bagi komoditas ekspor utama. Tujuannya adalah membangun pasar yang dalam, transparan, likuid, dan tepercaya yang mempertemukan produsen, petani, eksportir, pembeli, serta investor di bawah satu pengawasan. Kebijakan ini juga sejalan dengan skema ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Pemerintah menyatakan akan membahas regulasi pendukungnya bersama DPR.
Akses Investor Global ke Tema Komoditas Serupa
Ambisi Indonesia menata bursa mineralnya menegaskan betapa strategisnya tema emas, tembaga, dan nikel di mata pasar global. Investor internasional selama ini mengakses tema serupa lewat produsen tambang yang tercatat di bursa AS. Salah satu yang paling relevan adalah Freeport-McMoRan (FCX), yang mengoperasikan tambang tembaga dan emas raksasa Grasberg di Papua, Indonesia. Untuk paparan ke emas, ada Newmont (NEM) sebagai salah satu penambang emas terbesar dunia, sementara Southern Copper (SCCO) menjadi pilihan untuk eksposur tembaga. Ketiganya menawarkan cara bagi investor untuk menunggangi siklus komoditas yang sama yang kini menjadi fokus kebijakan Prabowo.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.