Gotrade News - Sektor energi menjadi motor penggerak Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari Jumat, 7 Agustus 2026. Di tengah lonjakan harga minyak dunia, saham-saham energi kompak memimpin kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak pasar dibuka.
Menurut Kompas, indeks sektor energi naik 1,05 persen dan menjadi penggerak paling kuat di antara seluruh sektor. Di belakangnya menyusul sektor infrastruktur yang menguat 0,92 persen dan properti 0,80 persen.
IHSG sendiri langsung dibuka di zona hijau, menguat 0,45 persen atau bertambah 28,822 poin ke level 6.372,533. Kenaikan ini sekaligus menghapus koreksi tipis 0,12 persen yang terjadi pada penutupan Kamis (6 Agustus 2026) di level 6.343,71. Bahkan, Kompas mencatat indeks sempat melaju sekitar 44 poin ke 6.388 pada sesi I perdagangan.
Menguatnya sektor energi hari ini tidak lepas dari reli harga minyak mentah global. Melansir Kompas, harga minyak Brent melonjak 3,83 persen atau naik 3,04 dollar AS ke 82,49 dollar AS per barel. Pada saat bersamaan, minyak jenis WTI ikut menguat 2,75 persen atau bertambah 2,07 dollar AS ke 77,29 dollar AS per barel.
Lalu apa pemicunya? Parlemen Iran berencana membatasi lalu lintas kapal Amerika Serikat dan Israel yang melewati Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling vital di dunia. Ketika kelancaran di titik sesempit dan sepenting ini terancam, pasar langsung cemas soal pasokan. Kekhawatiran itulah yang mengangkat harga minyak sekaligus menyalakan minat investor pada saham-saham berbasis energi.
Reli harga minyak seperti ini biasanya tidak hanya menggerakkan emiten energi di Bursa Efek Indonesia, tetapi juga raksasa energi global. Nama-nama seperti Exxon Mobil (XOM), Chevron (CVX), dan Occidental Petroleum (OXY) termasuk yang paling sensitif terhadap pergerakan harga minyak. Jadi ketika Brent dan WTI melonjak, hal itu kerap menjadi katalis positif bagi pendapatan mereka.
Di dalam negeri, PT Petrosea (PTRO) menjadi salah satu penggerak utama dengan melesat 7,89 persen ke Rp5.125. Menurut Liputan6, MNC Sekuritas menandai PTRO sebagai buy on weakness dengan target harga 5.500 hingga 5.725. Sejumlah saham komoditas lain juga menghijau saat pembukaan, seperti terlihat pada tabel berikut.
Saham
Pergerakan
Harga
Petrosea (PTRO)
+7,89%
Rp5.125
Bumi Resources (BUMI)
+3,35%
Rp185
Adaro Andalan (AADI)
+3,35%
Rp9.250
Pertamina Geothermal (PGEO)
+2,29%
Rp1.115
Meski demikian, penguatan ini tidak sepenuhnya searah. Dilansir Kompas, pada sesi I investor asing justru mencatatkan jual bersih sekitar Rp54 miliar di lima saham energi, meliputi PTRO senilai Rp21,23 miliar, RAJA Rp10,49 miliar, GTSI Rp7,86 miliar, ENRG Rp7,57 miliar, dan PGEO Rp6,85 miliar.
Di sisi lain, arus asing tetap masuk ke sejumlah saham. Masih menurut Kompas, BUMI dibeli bersih Rp34,27 miliar, DSSA Rp22,61 miliar, dan INDY Rp19,80 miliar. Nama-nama dari klaster energi Prajogo Pangestu, termasuk CUAN (PT Petrindo Jaya Kreasi) dan DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa), turut menjadi sorotan pelaku pasar selama sesi berlangsung.
Dari sisi teknikal, Liputan6 mengutip MNC Sekuritas menyebut IHSG memiliki resistance di 6.377 dan 6.454 dengan support di 6.201 dan 6.029. Selain PTRO, beberapa saham yang masuk radar rekomendasi antara lain MEDC (Medco Energi), BNBR (Bakrie & Brothers), dan SSIA. Bagi investor, kombinasi lonjakan harga minyak dan arus asing yang terbelah menandakan momentum positif yang perlu tetap dicermati secara selektif.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Setya Mahardika adalah SEO Specialist dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga fintech. Berfokus pada riset data dan optimasi konten untuk menjembatani audiens dengan berbagai literasi yang mudah dipahami.