Selat Hormuz Tertutup, Minyak Tembus USD110 per Barel

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Selat Hormuz Tertutup, Minyak Tembus USD110 per Barel

Share this article

Gotrade News - Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi tahun ini di tengah penutupan Selat Hormuz. Brent menyentuh USD110,62 per barel sementara WTI naik ke USD107,26 per barel.

Konflik berkepanjangan dengan Iran menekan pasokan global dan mendorong cadangan minyak ke titik kritis. Saham emiten minyak AS menjadi penerima manfaat utama dari lonjakan harga ini.

Key Takeaways

  • Brent naik 1,24 persen ke USD110,62 per barel, WTI menguat 1,75 persen ke USD107,26.
  • Cadangan minyak global turun dari 8 miliar barel ke 7,8 miliar barel sejak konflik dimulai.
  • CEO ExxonMobil memperkirakan kenaikan harga berlanjut jika Selat Hormuz tetap tertutup.

Lonjakan Harga dan Tekanan Pasokan

Melansir KabarBursa, Brent naik USD1,36 atau 1,24 persen ke USD110,62 per barel. WTI menguat USD1,84 atau 1,75 persen ke USD107,26 per barel pada perdagangan terbaru.

Lonjakan ini menyusul serangan drone ke fasilitas nuklir Uni Emirat Arab pekan lalu. Negosiasi AS-Iran macet sementara Presiden Trump mempertimbangkan opsi militer terhadap Teheran.

Brent futures tutup di USD109,26 per barel dengan kenaikan 3,35 persen pada Jumat. WTI futures berakhir di USD105,42 dengan penguatan 4,2 persen pada sesi yang sama.

Secara mingguan, Brent telah menguat 7,8 persen sedangkan WTI melonjak 10,5 persen. Cadangan minyak global tercatat turun 246 juta barel sejak konflik dimulai pada Februari lalu.

Cadangan Kritis dan Prospek Emiten

Menurut Kompas, cadangan global merosot dari 8 miliar barel akhir Februari ke 7,8 miliar barel akhir April. Proyeksi menunjukkan angka ini akan turun ke 7,6 miliar barel pada akhir Mei.

Hanya sekitar 800 juta barel yang benar-benar dapat digunakan tanpa tekanan rantai pasok. Badan Energi Internasional memperingatkan cadangan menipis cepat bisa memicu lonjakan harga lanjutan ke depan.

CEO Exxon Mobil (XOM) Darren Woods menyatakan kenaikan harga pasar akan berlanjut. Skenario tersebut berlaku jika cadangan terus turun dan Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu dekat.

Dilansir IDXChannel, rentang harga minyak diproyeksi berada di USD93-107 per barel. Analis menilai konflik geopolitik akan menjadi katalis utama pergerakan harga sepanjang kuartal ini.

UBS memperkirakan jika Selat Hormuz tertutup hingga September, cadangan global bisa anjlok ke 6,8 miliar barel. Rapidan Energy menambahkan bahan bakar bisa mencapai level kritis pada periode Juli-Agustus.

Saham Chevron (CVX) dan emiten minyak besar lainnya berpotensi mencatat ekspansi margin signifikan. Harga jual yang lebih tinggi membantu memperbesar laba operasional di tengah biaya produksi yang relatif stabil.

Bagi investor yang mencari eksposur ke komoditas energi secara langsung, United States Oil Fund (USO) menjadi instrumen alternatif. ETF ini melacak pergerakan harga WTI futures dan ikut menguat seiring lonjakan harga minyak mentah.

Sumber


Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade