Gotrade News - Saham AS memunculkan sinyal peringatan saat utang margin dan metrik valuasi mencapai level historis. Penasihat kekayaan menggambarkan prospek paruh kedua sebagai bullish namun berhati-hati.
S&P 500 menguat 10% sejak awal 2026 hingga 28 Mei. Indeks acuan tersebut diperdagangkan pada 21,8x laba forward, mendekati level tertinggi multi-dekade.
Key Takeaways
- Utang margin bersih mencapai 1,25% dari kapitalisasi pasar AS, mendekati level tertinggi sejak 1997, menurut Axios.
- Buffett Indicator dan rasio Shiller CAPE berada di level yang terakhir terlihat sebelum kejatuhan dot-com.
- J.P. Morgan memproyeksikan return tahunan S&P 500 di bawah 5% selama satu dekade mendatang.
Leverage Rekor dan Valuasi Mahal
Utang margin bersih naik ke 1,25% dari kapitalisasi pasar AS hingga April, menurut Axios. Metrik yang sama mencapai 100% pada Februari 2000 saat puncak dot-com.
Rasio Shiller CAPE berada di level yang tidak terlihat sejak menjelang kejatuhan dot-com. Buffett Indicator, yang membandingkan kapitalisasi pasar dengan PDB, berada di level tertinggi sepanjang masa.
Perdagangan opsi bullish juga melaju cepat. Rasio put-call mendekati level ekstrem rendah, dan volume perdagangan ETF leverage terus meningkat.
Ben Snider, Chief U.S. Equity Strategist di Goldman Sachs, menyatakan kenaikan aktivitas trading ritel berleverage mengarah ke sinyal yang patut diwaspadai. Goldman tetap menaikkan target akhir tahun S&P 500 menjadi 8.000, menyiratkan kenaikan 16,9% pada 2026.
Dana pelacak indeks seperti VOO dan SPY mencerminkan valuasi tinggi tersebut secara langsung. QQQ yang berorientasi teknologi membawa risiko konsentrasi lebih besar, karena teknologi informasi membentuk 35% S&P 500.
Penasihat Bullish Tapi Selektif
Manajer kekayaan tetap konstruktif terhadap saham AS sambil menandai kerentanan pasar. InvestmentNews mensurvei penasihat terkait positioning paruh kedua mereka.
Tim Bartlett, Chief Investment Officer di Unique Wealth, bersikap bullish namun mengantisipasi volatilitas. Ia memilih infrastruktur publik dan swasta yang terkait rantai pasok AI.
Mark Doehla, Portfolio Manager di Great Diamond Partners, menyebut posisinya bullish tetapi agak lemah. Ia menyoroti pendapatan riil konsumen yang melemah, biaya refinancing utang lebih tinggi, dan tekanan margin korporasi.
Doehla memperingatkan harga minyak mentah tinggi, suku bunga tinggi, dan partisipasi ekuitas yang sempit menimbulkan risiko. Ia menyatakan perang, tarif, dan gelembung aset yang tak terkendali dapat memicu penurunan pasar signifikan.
Nick Holuta, Portfolio Manager di Dynasty Financial Partners, tetap konstruktif pada saham AS. Ia memilih rotasi dari software mega-cap ke ekonomi fisik dan infrastruktur AI.
S&P 500 telah memberikan return tahunan rata-rata 10,5% sejak 1957, menurut The Motley Fool. Return lima tahun terakhir mencapai 78% termasuk teknologi dan 47% di luar teknologi.
Metrik valuasi secara historis menjadi alat timing yang buruk. Investor yang menjual pada akhir 2016 berdasarkan sinyal CAPE akan kehilangan kenaikan S&P 500 melebihi 200%.
Saham saat ini menawarkan return tipis dibanding obligasi berdasarkan spread imbal hasil. Metrik tersebut secara historis menandakan return ekuitas masa depan yang lemah.
S&P 500 sempat mengalami koreksi 9% dari puncak pada awal tahun. Indeks tersebut telah pulih sepenuhnya dari kerugian itu, menurut The Motley Fool.
Nvidia, Apple, dan Microsoft kini memiliki kombinasi nilai pasar $12,8 triliun. Konsentrasi tersebut membentuk arah dana pasar luas.












