Gotrade News - SpaceX kembali menjadi sorotan setelah grounding Starship oleh FAA, hype IPO dengan target USD 2 triliun, dan rumor merger dengan Tesla. Tiga katalis ini muncul nyaris bersamaan dan menempatkan kerajaan bisnis Elon Musk di pusat perhatian pasar global.
Investor mencermati dampaknya terhadap valuasi seluruh ekosistem Musk, termasuk Tesla (TSLA). Sentimen pasar terbelah antara optimisme jangka panjang dan kekhawatiran soal eksekusi serta valuasi yang dinilai terlalu agresif.
Key Takeaways
- FAA dilaporkan kembali grounding booster Starship setelah insiden uji terbaru, menunda jadwal peluncuran berikutnya.
- SpaceX dikabarkan membidik valuasi IPO hingga USD 2 triliun, mencakup segmen peluncuran, Starlink, dan xAI.
- Analis Wedbush Dan Ives menilai merger SpaceX-Tesla bisa terjadi paling cepat 2027, dengan Terafab sebagai jembatan kolaborasi.
Hype IPO Dan Risiko Valuasi
Melansir Seeking Alpha, SpaceX dikabarkan menyiapkan IPO terbesar sepanjang sejarah dengan target valuasi USD 2 triliun. Angka itu menempatkan SpaceX di atas seluruh kapitalisasi pasar bursa saham banyak negara berkembang.
Struktur post-IPO mencakup tiga segmen, yaitu unit peluncuran SPCX, jaringan satelit Starlink, dan unit kecerdasan buatan xAI. Tiap segmen memiliki profil pertumbuhan, margin, dan kebutuhan modal yang berbeda satu sama lain.
Pertumbuhan Starlink mulai menunjukkan tanda perlambatan meski jumlah pelanggannya menggandakan diri. Adjusted EBITDA Starlink hanya tumbuh 29 persen, sementara rata-rata pendapatan per pengguna terus tertekan oleh kompetisi tarif.
Segmen xAI menjadi salah satu daya tarik utama dengan potensi pendapatan tahunan USD 15 miliar dari kemitraan Anthropic. Namun realisasi angka tersebut bergantung pada eksekusi yang nyaris tanpa cela di tengah persaingan AI yang semakin ketat.
Pada level valuasi USD 2 triliun, saham SpaceX berpotensi diperdagangkan di atas 70 kali penjualan berdasarkan asumsi total addressable market yang dinilai terlalu agresif. Kebutuhan capex yang membengkak juga menambah risiko terhadap profitabilitas jangka pendek.
Penulis Seeking Alpha memperingatkan bahwa investor IPO berisiko membayar terlalu mahal untuk pertumbuhan masa depan yang belum terbukti. Disiplin valuasi menjadi penting untuk membedakan antara cerita yang menjanjikan dan harga yang masuk akal.
Spekulasi Merger Dengan Tesla
Dilansir The Motley Fool, analis Wedbush Dan Ives menilai merger SpaceX dan Tesla bisa terjadi paling cepat tahun 2027. Musk sebelumnya sudah menggabungkan xAI ke dalam SpaceX, sehingga preseden konsolidasi sudah ada.
Tesla dan SpaceX kini berkolaborasi di proyek Terafab, sebuah inisiatif manufaktur chip skala besar. Kolaborasi ini dinilai bisa menjadi jembatan teknis dan operasional menuju merger formal di masa depan.
Tesla sendiri membutuhkan katalis pertumbuhan baru di luar mobil listrik setelah harga sahamnya tertekan sepanjang tahun. Free cash flow Tesla yang mencapai sekitar USD 7 miliar dinilai bisa membantu mendanai ekspansi SpaceX yang padat modal.
Bagi investor, entitas gabungan akan menyederhanakan akses terhadap dua bisnis Musk melalui satu ticker. Namun risikonya adalah peningkatan kompleksitas operasional dan eksposur terhadap eksekusi multi-bisnis sekaligus.
Skenario merger tetap bergantung pada persetujuan dewan direksi Tesla, regulator antitrust, dan respons pemegang saham minoritas. Jika satu pihak menolak, proses bisa molor jauh dari target tahun 2027 yang dilontarkan oleh Ives.
Sementara itu, grounding Starship oleh FAA menjadi pengingat bahwa risiko teknis tetap melekat pada bisnis peluncuran SpaceX. Setiap penundaan kontrak NASA dan komersial berpotensi menggeser timeline pendapatan jangka pendek dari segmen tersebut.












