Gotrade News - S&P Global Ratings resmi mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Konfirmasi rating Investment Grade ini menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat konflik Timur Tengah.
Key Takeaways
- S&P pertahankan rating RI di BBB outlook stabil, tetap Investment Grade
- Warning diberikan soal rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan yang melampaui 15%
- Defisit APBN dijaga di bawah 3% PDB, pertumbuhan pajak kuartal pertama capai 20%
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hasil pertemuan dengan S&P saat kunjungan ke Washington. Pertemuan ini berlangsung bersamaan dengan agenda Spring Meeting IMF dan Bank Dunia pekan ini.
S&P memberikan warning khusus soal rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara. Rasio tersebut saat ini sudah berada di atas ambang batas 15% menurut penilaian lembaga rating itu.
"Mereka memberi warning untuk mendiskusikan lebih dalam bahwa rasio pembayaran bunga dibanding income di atas 15%," ujar Purbaya. Ia menegaskan pemerintah akan terus memonitor kondisi fiskal agar tidak memburuk.
Defisit Terjaga, Pajak Tumbuh Kuat
Purbaya menyampaikan bahwa Presiden Prabowo telah mengarahkan agar defisit tetap di bawah 3% PDB. Target defisit awalnya 2,9% dari PDB, namun berpotensi turun ke level 2,8% seiring perbaikan penerimaan.
Pertumbuhan pajak di dua bulan pertama 2026 mencapai 30%, angka yang cukup impresif. Secara kumulatif Januari hingga Maret, pertumbuhan pajak tercatat sekitar 20% year-on-year.
S&P juga mencatat perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal keempat tahun lalu. Indikator makro dan mikro menunjukkan tren positif sejak era pemerintahan Prabowo berjalan.
Risiko Eksternal Tetap Membayangi
Meski rating dipertahankan, S&P menilai Indonesia paling rentan di ASEAN jika konflik berkepanjangan. Tekanan datang dari kombinasi faktor fiskal dan tekanan eksternal yang bisa memperburuk neraca keuangan.
Kenaikan harga energi global berpotensi mendorong beban subsidi naik sehingga defisit melebar. Harga minyak mentah yang sempat menyentuh US$96,5 per barel menjadi perhatian serius bagi anggaran pemerintah.
Tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi juga bisa memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Dampaknya, biaya pinjaman pemerintah ikut naik dan memperberat beban pembayaran bunga utang.
Konfirmasi rating BBB ini tetap menjadi modal penting bagi Indonesia di pasar obligasi global. Investor asing cenderung lebih percaya diri memegang surat utang negara dengan status Investment Grade.












