Gotrade News - SpaceX dijadwalkan melantai di Nasdaq pada 12 Juni 2026 dengan ticker SPCX dan valuasi diperkirakan mencapai USD 2 triliun. Antusiasme terhadap penawaran umum perdana ini ikut mengangkat sentimen saham sektor antariksa lainnya di pasar AS.
Menurut Motley Fool, IPO SpaceX berpotensi menjadi yang terbesar sepanjang sejarah AS. Konsolidasi sektor antariksa juga menguat seiring aksi akuisisi Astrobotic oleh Voyager Technologies senilai USD 300 juta.
Poin Utama
SpaceX akan IPO 12 Juni 2026 dengan valuasi USD 2 triliun, terbesar dalam sejarah AS.
Voyager Technologies akuisisi Astrobotic Technology hingga USD 300 juta, ditargetkan tuntas Juli 2026.
Sektor antariksa menguat, didorong kontrak Space Force untuk Intuitive Machines.
Detail IPO SpaceX
Dilansir Motley Fool, Starlink menyumbang 61% pendapatan SpaceX pada 2025 senilai USD 11,4 miliar. Segmen konektivitas ini menjadi satu-satunya lini bisnis yang membukukan keuntungan bagi perusahaan milik Elon Musk tersebut.
Uji terbang Starship Flight 12 menunjukkan hasil yang beragam pada akhir pekan lalu. Roket pendorong Super Heavy mengalami anomali pada satu mesin saat fase boostback, sementara Ship tahap kedua berhasil membawa 45 ton kargo ke orbit.
Kapasitas muatan Starship memungkinkan penempatan satelit Starlink generasi V2 dan V3. Generasi satelit baru ini terlalu besar untuk dibawa roket Falcon 9 yang selama ini menjadi tulang punggung armada SpaceX.
Melansir Motley Fool, valuasi USD 2 triliun terhadap pendapatan USD 19,3 miliar menghasilkan rasio price-to-sales 103. Pertumbuhan pendapatan kuartal I/2026 melambat ke 15%, meski kontrak Anthropic senilai USD 1,25 miliar per bulan dapat mendorong kinerja ke depan.
Voyager Technologies (VOYG) sepakat mengakuisisi Astrobotic Technology hingga USD 300 juta, termasuk pertimbangan kontingen. Menurut Seeking Alpha, transaksi ini diperkirakan rampung pada awal Juli 2026.
Astrobotic yang berbasis di Pittsburgh bergerak di jasa pengiriman bulan komersial dan sistem tenaga lunar. Akuisisi ini mencerminkan tren konsolidasi pada industri antariksa komersial yang masih berada di tahap awal pertumbuhan.
Sentimen positif juga membanjiri saham Intuitive Machines (LUNR) setelah Cantor Fitzgerald mempertahankan rating Overweight. Penilaian itu menyusul kemenangan kontrak besar dari Space Force yang memperkuat posisi perusahaan di segmen pertahanan antariksa.
Saham Rocket Lab (RKLB) juga menjadi salah satu nama yang banyak dilirik investor pada gelombang antusiasme ini. Posisi Rocket Lab sebagai penyedia layanan peluncuran komersial menempatkannya sebagai pesaing utama SpaceX di segmen menengah.
Selain itu, AST SpaceMobile (ASTS) turut menarik perhatian pelaku pasar di tengah euforia sektor satelit. Perusahaan ini fokus mengembangkan jaringan broadband seluler berbasis satelit yang menjadi pesaing langsung Starlink milik SpaceX.
Data Jay Ritter dari University of Florida menunjukkan rata-rata kenaikan harga IPO pada hari pertama mencapai 30%. Namun, sepuluh IPO terbesar AS secara historis tertinggal 127 poin persentase dari S&P 500 pada kinerja jangka panjangnya.
Delapan saham teknologi yang pernah menembus valuasi setara SpaceX juga mengalami koreksi tajam setelahnya. Rata-rata penurunan mencapai 75% dengan rentang 32% hingga 90%, menjadi pengingat risiko valuasi tinggi bagi investor.
Bagi investor ritel Indonesia, eksposur ke sektor antariksa AS dapat dilakukan melalui saham RKLB, LUNR, dan ASTS di Gotrade. Diversifikasi tematik semacam ini membantu memberikan akses ke tren teknologi global tanpa harus menunggu SpaceX terdaftar.
Pencatatan SpaceX di Nasdaq tetap menempatkan saham SPCX di bawah pengawasan ketat regulator SEC. Status sebagai emiten publik akan menekan SpaceX untuk membuka laporan keuangan kuartalan secara transparan kepada investor.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.