Trump Tolak Proposal Iran, Minyak Melonjak Tajam

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Trump Tolak Proposal Iran, Minyak Melonjak Tajam

Share this article

Gotrade News - Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan Senin (11/5) pagi WIB setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal damai terbaru dari Iran. Brent crude naik 3,5% ke US$104,80 per barel dan WTI mendekati US$99 per barel.

Penolakan tersebut memperpanjang konflik 10 minggu di Selat Hormuz dan memicu reli energi. Futures Wall Street tertekan, menggeser arah safe-haven asset bagi investor saham AS.

Key Takeaways

  • Brent crude naik 3,5% ke US$104,80 per barel, WTI mendekati US$99 per barel pasca penolakan Trump.
  • Futures S&P 500 turun 0,3% pada pembukaan perdagangan Asia, dolar AS menguat terhadap mata uang utama.
  • Harga emas tergelincir dari sekitar US$4.689 per ons meski risiko geopolitik meningkat.

Trump menyebut respons Iran sebagai "sama sekali tidak bisa diterima" lewat unggahan media sosialnya pada akhir pekan. Penolakan ini langsung memicu kekhawatiran bahwa Selat Hormuz, jalur transit minyak global terpadat, akan tetap terganggu untuk periode yang lebih lama.

Iran sebelumnya dilaporkan menawarkan relokasi cadangan uranium yang sudah diperkaya ke negara ketiga sebagai bagian dari proposalnya. Namun Teheran tetap menolak membongkar fasilitas nuklirnya, sebuah klaim yang kemudian dibantah oleh kantor berita Tasnim.

Pemicu Lonjakan Minyak

Menurut Bloomberg Technoz, lonjakan harga minyak terjadi setelah pasar membaca penolakan Trump sebagai sinyal bahwa de-eskalasi militer di Timur Tengah masih jauh dari kata selesai. Selat Hormuz nyaris tertutup sejak akhir Februari, kondisi yang disebut International Energy Agency (IEA) sebagai supply shock terbesar dalam sejarah pasar energi modern.

Saham energi AS berpeluang menjadi penerima manfaat utama dari kenaikan harga minyak ini. Investor mulai mencermati eksposur perusahaan terintegrasi seperti Exxon Mobil (XOM) yang produksi upstream-nya sensitif terhadap pergerakan Brent dan WTI.

Brent telah naik 2,7% pada pembukaan pasar Senin karena risiko penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan. Kenaikan ini menambah premi risiko yang sudah ter-priced-in sejak konflik dimulai sekitar 10 minggu lalu.

Sebanyak 40 negara dilaporkan tengah membahas misi pengamanan Selat Hormuz untuk menjamin kelancaran arus minyak. Iran membalas dengan ancaman respons militer apabila armada koalisi memasuki perairannya tanpa izin.

Dampak Ke Pasar Saham AS

Dilansir Bloomberg Technoz, kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,3% pada pembukaan perdagangan Asia Senin pagi. Dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya, mencerminkan perpindahan dana ke aset safe-haven berdenominasi USD.

Pelemahan futures menandakan investor bersiap menghadapi sesi yang lebih hati-hati di Wall Street. Eksposur indeks luas seperti SPDR S&P 500 ETF (SPY) menjadi tolok ukur sentimen risiko pasar saham AS pada pembukaan pekan ini.

Sektor energi berpotensi menahan pelemahan indeks lewat kontribusi positif dari emiten minyak besar. Namun sektor konsumer dan teknologi menghadapi tekanan dari kenaikan biaya energi yang dapat menggerus margin perusahaan.

Dolar yang lebih kuat juga memberikan tekanan tambahan pada emiten multinasional dengan pendapatan dalam mata uang asing. Pelaku pasar kini menanti reaksi imbal hasil Treasury sebagai konfirmasi arah risiko jangka pendek.

Melansir Bloomberg Technoz, harga emas justru bergerak turun dan berada di sekitar US$4.689 per ons setelah sempat naik sekitar 2% pada pekan sebelumnya. Reaksi yang kontra-intuitif ini menunjukkan dolar yang menguat membatasi daya tarik emas sebagai safe-haven.

Kekhawatiran inflasi kembali muncul seiring lonjakan harga minyak yang dapat menjalar ke biaya transportasi dan barang konsumsi. Saham penambang emas seperti VanEck Gold Miners ETF (GDX) menghadapi tarik-menarik antara harga komoditas dan dinamika mata uang.

Pelaku pasar saham AS perlu mencermati tiga jalur transmisi sekaligus dari peristiwa ini. Pertama harga minyak, kedua sensitivitas indeks luas, dan ketiga rotasi safe-haven antara emas, dolar, dan Treasury.

Sources

Disclaimer: Gotrade Indonesia adalah aplikasi investasi yang terdaftar resmi di OJK dan didukung oleh PT Valbury Asia Futures.

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade