Trump Usulkan Tarif Baru 10% untuk 60 Negara, Pasar Tertekan
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Share this article
Gotrade News - Pemerintah Trump mengusulkan tarif impor baru sekitar 10% atas sekitar 60 mitra dagang utama. Usulan tersebut diumumkan pada Rabu, 3 Juni 2026, dengan dalih penegakan larangan barang hasil kerja paksa.
Kabar ini menekan sentimen pasar yang sebelumnya berasumsi tembok tarif sudah dibongkar. Investor kini harus menilai ulang risiko perdagangan global yang kembali menguat.
Poin Utama
Sekitar 60 negara terancam tarif 10% hingga 12,5% lewat Section 301.
China, Jepang, dan Korea Selatan masuk kelompok tarif tertinggi 12,5%.
Tarif darurat lama dibatalkan Mahkamah Agung pada Februari 2026.
Menurut investingLive, tarif 10% diusulkan atas sekitar 60 negara termasuk Kanada, Meksiko, Uni Eropa, Taiwan, dan Inggris. Tarif lebih tinggi 12,5% membidik China, India, Jepang, Korea Selatan, Brasil, dan Swiss.
Dilansir CBS News, sebanyak 16 negara yang dianggap mulai menegakkan aturan kerja paksa mendapat tarif lebih rendah 10%. Sejumlah produk seperti daging sapi, tomat, dan kopi dikecualikan dari tarif baru ini.
Dasar hukum tarif kini bergeser ke Section 301 dari Undang-Undang Perdagangan 1974. Menurut investingLive, dasar ini menggantikan kewenangan darurat yang dibatalkan Mahkamah Agung pada Februari 2026.
Pergeseran hukum itu disebut lebih kokoh secara legal dibanding mekanisme tarif sebelumnya. Langkah ini menutup celah hukum yang sempat membuat banyak tarif Trump rontok di pengadilan.
Tarif impor yang lebih tinggi berpotensi menekan margin perusahaan ritel dan barang konsumen. Peritel besar seperti Walmart (WMT) sangat bergantung pada rantai pasok dari negara-negara yang dibidik tarif.
Merek dengan produksi lintas negara seperti Nike (NKE) juga rawan terhadap kenaikan biaya impor. Tarif 12,5% atas mitra dagang utama bisa menambah beban harga pokok penjualan mereka.
Industri otomotif termasuk yang paling sensitif terhadap perubahan tarif global. Produsen seperti General Motors (GM) menghadapi risiko biaya komponen impor yang lebih mahal.
Kenaikan biaya komponen biasanya berujung pada harga jual kendaraan yang lebih tinggi. Beban itu pada akhirnya berisiko menggerus daya beli konsumen di tengah inflasi yang masih tinggi.
Jadwal dan Reaksi Pejabat
Dilansir CBS News, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut pekerja Amerika dipaksa bersaing di lapangan yang tidak setara. Ia menilai banyak negara belum punya larangan kerja paksa yang cukup tegas.
Menurut investingLive, komentar publik tertulis ditampung hingga 6 Juli, sementara dengar pendapat panel dimulai 7 Juli. Pemerintah ingin tarif baru berlaku sebelum tarif global Section 122 yang lama berakhir pada Juli.
Tenggat Juli itu memberi tekanan waktu yang ketat bagi tim dagang AS. Jeda yang sempit membuat negosiasi dengan mitra dagang berjalan lebih cepat dari biasanya.
Dilansir CBS News, Menteri Keuangan Scott Bessent memperkirakan tarif Section 301 menggantikan tarif sementara dalam lima bulan. Ia menyebut payung hukum baru itu lebih tahan uji di pengadilan.
Sejumlah mitra dagang langsung menyuarakan keberatan atas dasar usulan tarif tersebut. Mereka menilai tuduhan lemahnya penegakan aturan kerja paksa tidak sepenuhnya berdasar.
Bagi investor ritel, pelajarannya adalah memantau jadwal komentar dan dengar pendapat hingga awal Juli. Detail final tarif baru akan menentukan seberapa besar dampaknya ke harga konsumen.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.