Wall Street Anjlok Terseret Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Wall Street Anjlok Terseret Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS

Share this article

Gotrade News - Wall Street kembali anjlok pada perdagangan Senin (19/5) setelah imbal hasil obligasi AS melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2025. Dow Jones turun 322,24 poin atau 0,65% ke 49.363,88, S&P 500 melemah 0,67% ke 7.353,61, dan Nasdaq turun 0,84% ke 25.870,71.

Lonjakan yield Treasury 10 tahun ke 4,687% memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed dan menekan ekuitas teknologi. Ketidakpastian damai antara AS dan Iran juga memperkuat tekanan jual, menjaga harga minyak Brent di atas USD 110 per barel.

Key Takeaways

  • S&P 500 dan Nasdaq melemah tiga hari beruntun, dipimpin sektor teknologi dan material.
  • Yield Treasury 10 tahun menyentuh 4,687%, level tertinggi sejak Januari 2025.
  • Ketegangan AS-Iran menahan harga minyak Brent di atas USD 110 per barel.

Pemicu Tekanan Pasar

Menurut Kompas, kenaikan yield Treasury 10 tahun ke 4,687% sebelum menyesuaikan ke 4,66% menjadi pemicu utama aksi jual. Lonjakan imbal hasil meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter dan menekan valuasi saham pertumbuhan.

Sektor teknologi paling tertekan karena sensitif terhadap kenaikan suku bunga, sementara sektor material turun 2,3%. Investor yang mencari eksposur indeks luas dapat mencermati SPDR S&P 500 ETF (SPY) dan Invesco QQQ Trust (QQQ) yang mencerminkan koreksi tersebut.

Dilansir kumparan, saham yang turun mengalahkan saham yang naik dengan rasio 2,66 banding 1 di NYSE. Sektor defensif kesehatan menjadi titik terang dengan kenaikan 1,1% di tengah pelemahan luas.

Michael James dari Rosenblatt Securities menyatakan tidak ada hal konstruktif yang membuat pelaku pasar yakin akan ada gencatan senjata. Wakil Presiden JD Vance sebelumnya menyebut kedua negara membuat kemajuan menuju damai, namun pasar belum melihat bukti konkret.

Garrett Melson dari Natixis Investment Managers menyoroti volatilitas suku bunga sebagai sumber tekanan tambahan bagi aset berisiko global. Pergerakan yield jangka panjang ini menjadi fokus utama trader institusional selama sesi perdagangan Senin di Wall Street.

Risiko yang Masih Membayangi

Melansir kabarbursa, yield Treasury 30 tahun bahkan mendekati 5,2%, level tertinggi sejak 2007. Investor khawatir gelombang kedua inflasi akan memaksa The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan.

Bursa Asia juga ikut tertekan, dengan Nikkei 225 turun 1,64% ke 59.557,02 pada perdagangan Selasa pagi. WSJ Dollar Index naik 0,35% ke 95,99 saat investor mencari aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik.

Harga minyak WTI tercatat USD 107,77 per barel, sementara Brent berada di posisi USD 110,85 per barel. Premi risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat tekanan inflasi global sulit mereda dalam waktu dekat.

Produksi industri China turun ke 4,1% YoY dari 5,7% pada Maret menambah kekhawatiran pertumbuhan global. Kondisi makro ini memperkuat preferensi investor pada obligasi jangka panjang seperti yang dilacak iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLT).

Investor kini menanti rilis data inflasi AS dan pernyataan pejabat The Fed pekan ini untuk mengukur arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi selama imbal hasil obligasi pemerintah AS belum menemukan titik stabil yang baru.

Sumber


Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade