Saving rate adalah salah satu metrik paling penting dalam keuangan pribadi, tapi ironisnya juga salah satu yang paling sering dihitung dengan cara yang keliru. Ada yang menghitung berdasarkan gross income, ada yang net income.
Ada yang memasukkan cicilan rumah sebagai "pengeluaran", ada yang menganggapnya bagian dari saving. Perbedaan cara hitung ini bisa menghasilkan angka yang sangat berbeda untuk situasi keuangan yang sama.
Artikel ini membahas cara menghitung saving rate secara akurat, agar angka yang kamu lihat benar-benar mencerminkan kesehatan keuanganmu.
Rumus Saving Rate
Rumus dasar saving rate cukup sederhana:
Saving Rate = (Total yang Ditabung + Diinvestasikan) ÷ Total Income × 100%
"Total yang ditabung dan diinvestasikan" mencakup semua uang yang tidak dibelanjakan untuk konsumsi: dana darurat, tabungan tujuan, investasi saham atau ETF, kontribusi pensiun, dan bentuk penyimpanan lainnya.
Melansir Investopedia, saving rate mengukur proporsi penghasilan yang berhasil disimpan dalam bentuk apapun, baik tabungan maupun investasi. Angka ini menjadi indikator seberapa besar kapasitas seseorang untuk membangun kekayaan dari waktu ke waktu.
Yang sering membuat bingung adalah definisi "total income". Di sinilah perdebatan gross vs net income menjadi relevan.
Gross vs Net Income: Mana yang Dipakai?
Gross income basis
Gross income adalah penghasilan sebelum dipotong pajak, BPJS, dan potongan wajib lainnya. Menghitung saving rate berdasarkan gross income akan menghasilkan angka yang lebih kecil karena pembaginya lebih besar.
Pendekatan ini sering dipakai dalam konteks perencanaan pensiun dan literatur keuangan internasional karena memberikan gambaran yang konsisten terlepas dari perbedaan tarif pajak antar individu.
Net income basis
Net income atau take-home pay adalah uang yang benar-benar masuk ke rekeningmu setelah semua potongan wajib. Menghitung saving rate berdasarkan net income menghasilkan angka yang lebih besar dan, bagi banyak orang, lebih intuitif karena mencerminkan uang yang benar-benar bisa dikelola.
Untuk konteks perencanaan keuangan pribadi sehari-hari, net income basis lebih praktis karena kamu hanya bisa mengontrol uang yang sudah masuk ke rekening. Yang terpenting: pilih satu metode dan gunakan secara konsisten agar progres bisa dibandingkan dari bulan ke bulan.
Apakah Cicilan Termasuk Pengeluaran?
Ini pertanyaan yang sering muncul dan jawabannya tergantung jenis cicilannya.
- Cicilan konsumtif seperti cicilan gadget, kartu kredit, atau pinjaman untuk liburan jelas merupakan pengeluaran. Uang yang digunakan untuk melunasi utang konsumtif tidak menambah aset, jadi tidak bisa dihitung sebagai saving.
- Cicilan aset produktif seperti cicilan rumah (KPR) berada di zona abu-abu. Sebagian dari pembayaran KPR memang membangun ekuitas (mengurangi pokok utang), yang secara teknis meningkatkan kekayaan bersihmu. Tapi sebagian lainnya adalah bunga, yang murni biaya.
Pendekatan paling konservatif dan jujur: hitung seluruh cicilan sebagai pengeluaran. Ini memberikan gambaran saving rate yang lebih realistis dan tidak menipu diri sendiri.
Jika ingin lebih nuansa, kamu bisa menghitung dua versi: saving rate tanpa KPR (untuk melihat kapasitas saving murni) dan saving rate dengan porsi pokok KPR dihitung sebagai saving (untuk melihat total wealth building).
Contoh Simulasi per Level Gaji
Untuk membuat konsep ini lebih konkret, berikut simulasi saving rate pada tiga level penghasilan yang umum di Indonesia. Semua menggunakan net income basis.
Gaji Rp5 juta per bulan
Pengeluaran pokok Rp3 juta, keinginan Rp1 juta, saving dan investasi Rp1 juta. Saving rate: 20%. Angka ini sudah sangat solid untuk level penghasilan ini. Kuncinya adalah menjaga pengeluaran pokok tetap efisien dan konsisten menyisihkan di awal bulan.
Gaji Rp10 juta per bulan
Pengeluaran pokok Rp4,5 juta, keinginan Rp2,5 juta, saving dan investasi Rp3 juta. Saving rate: 30%. Di level ini, tantangan utama bukan kemampuan menabung, melainkan lifestyle inflation. Perhatikan bahwa kebutuhan pokok tidak naik secara proporsional dengan penghasilan, yang berarti ruang saving seharusnya lebih besar.
Gaji Rp20 juta per bulan
Pengeluaran pokok Rp6 juta, keinginan Rp5 juta, saving dan investasi Rp9 juta. Saving rate: 45%. Penghasilan yang lebih tinggi memberikan leverage alami karena kebutuhan dasar relatif tetap. Yang membedakan orang dengan saving rate 25% vs 45% di level ini biasanya bukan penghasilan, melainkan keputusan gaya hidup.
Dari ketiga simulasi ini terlihat satu pola: semakin tinggi penghasilan, semakin besar potensi saving rate, tapi hanya jika pengeluaran tidak ikut naik secara proporsional.
Target Realistis Jangka Pendek dan Panjang
Menetapkan target saving rate yang terlalu ambisius sejak awal sering berujung pada kegagalan. Pendekatan yang lebih sustainable adalah meningkatkan secara bertahap.
Untuk jangka pendek (3-6 bulan)
Fokus pada mencapai saving rate yang stabil dan konsisten, bahkan jika angkanya baru 10-15%. Konsistensi di tahap ini jauh lebih penting dari besarnya angka. Jika saat ini saving rate kamu 5%, menargetkan 10% dalam tiga bulan sudah merupakan peningkatan 100% yang sangat meaningful.
Untuk jangka menengah (1-2 tahun)
Target 20-25% adalah sweet spot bagi kebanyakan orang. Di level ini, kamu sudah punya kapasitas untuk membangun dana darurat sekaligus berinvestasi secara rutin. Mengutip OECD, benchmark 20% sering dijadikan standar minimum untuk perencanaan pensiun yang sehat.
Untuk jangka panjang (3-5 tahun)
Saving rate di atas 30% menjadi realistis jika kamu secara aktif menggabungkan expense optimization dan income growth. Setiap kenaikan penghasilan yang tidak diikuti kenaikan pengeluaran secara otomatis meningkatkan saving rate tanpa perlu effort tambahan.
Yang paling penting: review angka ini setiap kuartal. Saving rate bukan angka statis. Ia akan berubah seiring perubahan penghasilan, kebutuhan, dan fase hidup. Selama trennya naik dalam jangka panjang, kamu berada di jalur yang benar.
Sudah tahu saving rate kamu dan siap mengalokasikan porsi investasinya? Mulai beli fractional shares saham dan ETF AS di Gotrade dari $1 dan jadikan investasi rutin bagian dari sistemmu.
Kesimpulan
Menghitung saving rate dengan benar membutuhkan kejelasan tentang tiga hal: apa yang dihitung sebagai saving, basis income yang digunakan, dan bagaimana memperlakukan cicilan. Dengan rumus yang konsisten dan simulasi yang realistis, saving rate berubah dari angka abstrak menjadi alat navigasi yang membantu kamu memahami di mana posisimu dan ke mana arah keuanganmu.
FAQ
Apa rumus saving rate yang benar?
Saving Rate = (total tabungan + investasi) ÷ total income × 100%. Pilih gross atau net income secara konsisten, dan pastikan semua bentuk saving termasuk dalam perhitungan.
Lebih baik pakai gross atau net income untuk menghitung saving rate?
Untuk perencanaan harian, net income lebih praktis karena mencerminkan uang yang benar-benar bisa dikelola. Yang penting gunakan basis yang sama setiap bulan agar hasilnya bisa dibandingkan.
Berapa saving rate yang ideal untuk pemula?
Mulai dari 10-15% dan tingkatkan bertahap. Konsistensi lebih penting dari angka besar yang tidak bertahan.











