Memilih saham tidak cukup hanya dengan melihat harga yang terlihat murah atau pertumbuhan bisnis yang sedang bagus. Kondisi keuangan perusahaan juga perlu diperhatikan karena tekanan keuangan yang tidak terlihat sejak awal dapat memengaruhi keberlangsungan bisnis dan menjadi risiko bagi investor.
Salah satu cara yang bisa digunakan untuk melihat kondisi tersebut adalah Altman Z-Score. Model ini menggabungkan beberapa rasio keuangan untuk membantu memberikan gambaran mengenai risiko financial distress perusahaan. Lalu, bagaimana sebenarnya Altman Z-Score bekerja dan apa yang bisa diketahui investor dari hasil perhitungannya?
Apa Itu Altman Z-Score?
Pernah menemukan saham yang terlihat murah, tetapi ternyata kondisi keuangan perusahaannya sedang memburuk? Kondisi seperti ini sering disebut value trap, yaitu ketika harga saham tampak menarik, tetapi fundamental perusahaan justru melemah.
Menurut Investopedia, Altman Z-Score adalah model analisis keuangan yang digunakan untuk mengukur risiko financial distress berdasarkan kombinasi beberapa rasio keuangan. Model ini membantu investor menilai kesehatan keuangan perusahaan dan mengidentifikasi potensi risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Meski begitu, Altman Z-Score bukan alat untuk memastikan sebuah perusahaan akan bangkrut. Hasilnya sebaiknya digunakan sebagai salah satu indikator dalam analisis fundamental, bukan satu-satunya dasar saat memilih saham.
Siapa yang Mengembangkan Altman Z-Score?
Dalam penelitian Edward Altman yang pertama kali dipublikasikan pada 1968, model ini dikembangkan untuk membantu mengidentifikasi perusahaan manufaktur publik yang berpotensi mengalami kesulitan keuangan sebelum benar-benar bangkrut.
Seiring waktu, model tersebut terus dievaluasi dan dikembangkan agar tetap relevan dengan perubahan kondisi bisnis. Hingga saat ini, Altman Z-Score masih digunakan oleh investor, analis, akademisi, maupun lembaga keuangan sebagai salah satu alat untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan.
Mengapa Altman Z-Score Penting bagi Investor?
Altman Z-Score menjadi salah satu alat yang dapat membantu investor menilai kesehatan keuangan perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi. Melalui kombinasi beberapa rasio keuangan, model ini memberikan gambaran mengenai tingkat risiko financial distress yang mungkin dihadapi perusahaan. Dalam penelitian mengenai penerapan metode Altman Z-Score pada perusahaan ritel yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020–2022, metode ini juga digunakan untuk mengidentifikasi perusahaan yang berpotensi mengalami financial distress berdasarkan analisis laporan keuangan.
1. Membantu mengenali risiko financial distress
Altman Z-Score membantu mengidentifikasi perusahaan yang mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan keuangan. Dengan mengetahui risikonya lebih awal, kamu bisa mempertimbangkan kembali apakah perusahaan tersebut masih layak untuk dianalisis lebih lanjut.
2. Membantu menghindari value trap
Harga saham yang murah belum tentu menjadi peluang investasi. Altman Z-Score membantu memberikan gambaran apakah penurunan harga terjadi karena valuasi yang menarik atau justru dipicu oleh kondisi keuangan perusahaan yang memburuk.
3. Mempermudah screening saham
Saat membandingkan beberapa saham dalam sektor yang sama, Altman Z-Score dapat menjadi alat screening awal untuk menyaring perusahaan dengan kondisi keuangan yang relatif lebih sehat. Cara ini membuat proses analisis menjadi lebih efisien sebelum melihat indikator lainnya.
4. Melengkapi analisis fundamental
Altman Z-Score sebaiknya tidak digunakan secara terpisah. Padukan dengan indikator fundamental lain, seperti pertumbuhan pendapatan, arus kas (cash flow), tingkat utang, dan valuasi agar kamu memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.
Bagaimana Altman Z-Score Bekerja?
Altman Z-Score bekerja dengan menggabungkan lima rasio keuangan menjadi satu skor yang membantu menilai tingkat risiko financial distress perusahaan. Semakin baik kondisi keuangan perusahaan berdasarkan rasio-rasio tersebut, umumnya semakin tinggi pula skor yang dihasilkan.
Mengapa Altman Z-Score Menggunakan Lima Rasio Keuangan?
Salah satu keunggulan Altman Z-Score adalah tidak bergantung pada satu indikator saja. Model ini menggabungkan lima rasio yang mewakili aspek berbeda dari kesehatan keuangan perusahaan, sehingga hasil analisis menjadi lebih menyeluruh.
Setiap rasio memiliki fungsi yang berbeda. Ada yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek, ada yang menilai profitabilitas, hingga kemampuan aset menghasilkan pendapatan.
Rasio
Mengukur
Working Capital / Total Assets
Likuiditas perusahaan
Retained Earnings / Total Assets
Akumulasi laba dan kemampuan membangun modal internal
EBIT / Total Assets
Profitabilitas operasional
Market Value of Equity / Total Liabilities
Solvabilitas dan kekuatan struktur modal
Sales / Total Assets
Efisiensi penggunaan aset
Kelima rasio tersebut saling melengkapi sehingga Altman Z-Score tidak hanya menilai apakah perusahaan menghasilkan laba, tetapi juga melihat apakah perusahaan memiliki likuiditas yang memadai, struktur modal yang sehat, dan aset yang digunakan secara efisien.
Jenis-Jenis Altman Z-Score
Altman Z-Score memiliki beberapa versi yang disesuaikan dengan karakteristik perusahaan. Karena itu, penting menggunakan model yang tepat agar hasil analisis lebih relevan. Secara umum, berikut tiga model Altman Z-Score yang paling sering digunakan.
1. Original Altman Z-Score
Model ini merupakan rumus yang pertama kali diperkenalkan oleh Edward Altman pada 1968. Model tersebut dirancang khusus untuk perusahaan manufaktur yang sudah tercatat di bursa (public manufacturing companies).
Karena menggunakan rasio penjualan dan nilai pasar ekuitas, model ini paling sesuai diterapkan pada perusahaan yang memiliki karakteristik seperti sampel penelitian awal Altman.
2. Z'-Score
Seiring berkembangnya dunia usaha, Edward Altman memperkenalkan versi Z'-Score yang disesuaikan untuk perusahaan swasta.
Perbedaan utamanya terletak pada beberapa komponen perhitungan sehingga model ini tetap relevan meskipun perusahaan tidak memiliki nilai pasar saham yang dapat diukur secara langsung.
Model ini digunakan untuk perusahaan manufaktur swasta yang tidak memiliki nilai pasar saham (market value of equity) yang tersedia secara publik.
3. Z''-Score
Versi Z''-Score dikembangkan agar analisis dapat diterapkan pada perusahaan non-manufaktur yang memiliki struktur aset dan model bisnis berbeda dengan perusahaan manufaktur.
Dilansir dari Corporate Finance Institute, penggunaan model yang sesuai dengan karakteristik perusahaan dapat membantu menghasilkan analisis yang lebih relevan dibanding menggunakan satu rumus untuk semua sektor.
Rumus Z''-Score
Z'' = 6,56X₁ + 3,26X₂ + 6,72X₃ + 1,05X₄
Model ini digunakan untuk perusahaan non-manufaktur, sehingga lebih sesuai diterapkan pada perusahaan di luar sektor manufaktur.
Jenis Perusahaan
Model yang Disarankan
Manufaktur publik
Original Altman Z-Score
Manufaktur swasta
Z'-Score
Non-manufaktur
Z''-Score
Rumus Altman Z-Score
Model Altman Z-Score menghitung tingkat risiko financial distress dengan menggabungkan lima rasio keuangan yang masing-masing memiliki bobot berbeda.
Rumus Altman Z-Score klasik adalah:
Z = 1,2X₁ + 1,4X₂ + 3,3X₃ + 0,6X₄ + 1,0X₅
Setiap komponen dalam rumus tersebut mewakili aspek yang berbeda dari kesehatan keuangan perusahaan.
Rumus Z''-Score
Z'' = 6,56X₁ + 3,26X₂ + 6,72X₃ + 1,05X₄
Lalu satu kalimat.
Model ini digunakan untuk perusahaan non-manufaktur.
Komponen
Arti
X₁
Working Capital ÷ Total Assets
X₂
Retained Earnings ÷ Total Assets
X₃
EBIT ÷ Total Assets
X₄
Market Value of Equity ÷ Total Liabilities
X₅
Sales ÷ Total Assets
Kelima rasio tersebut saling melengkapi sehingga hasil akhirnya tidak hanya menggambarkan profitabilitas perusahaan, tetapi juga kondisi likuiditas, struktur modal, dan efisiensi operasionalnya.
Dari Mana Data Altman Z-Score Diperoleh?
Data untuk menghitung Altman Z-Score berasal dari laporan keuangan perusahaan dan harga saham. Sebagian besar komponennya, seperti working capital, retained earnings, total assets, total liabilities, EBIT, dan sales, dapat ditemukan di neraca maupun laporan laba rugi. Sementara itu, market value of equity dihitung dari harga saham dikalikan jumlah saham yang beredar. Agar hasil analisis lebih akurat, pastikan seluruh data yang digunakan berasal dari periode laporan yang sama.
Untuk perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), laporan keuangan dapat diperoleh melalui situs resmi BEI maupun halaman keterbukaan informasi masing-masing emiten. Menggunakan sumber resmi membantu memastikan data yang dipakai berasal dari laporan keuangan yang telah dipublikasikan perusahaan.
4 Cara Menghitung Altman Z-Score
Agar lebih mudah dipahami, misalkan sebuah perusahaan manufaktur memiliki working capital sebesar Rp300 miliar, retained earnings Rp500 miliar, EBIT Rp260 miliar, market value of equity Rp2,2 triliun, total liabilitas Rp1 triliun, penjualan Rp2,4 triliun, dan total aset Rp2 triliun.
Langkah pertama adalah menghitung masing-masing rasio yang digunakan dalam rumus. Setelah itu, setiap rasio dikalikan dengan koefisiennya sesuai rumus Altman Z-Score, kemudian seluruh hasilnya dijumlahkan.
Berdasarkan data tersebut, nilai Altman Z-Score yang diperoleh adalah 3,48.
Langkah 1 Ambil data dari laporan keuangan:
Working Capital
Retained Earnings
EBIT
Total Assets
Total Liabilities
Sales
Market Value of Equity
Langkah 2 Hitung lima rasio:
X₁ = Working Capital ÷ Total Assets
X₂ = Retained Earnings ÷ Total Assets
X₃ = EBIT ÷ Total Assets
X₄ = Market Value of Equity ÷ Total Liabilities
X₅ = Sales ÷ Total Assets
Langkah 3 Masukkan hasil ke rumus:
Z = 1.2X₁ + 1.4X₂ + 3.3X₃ + 0.6X₄ + 1.0X₅
Langkah 4 Interpretasikan hasil:
✔ Di atas 2,99 → Risiko lebih rendah
✔ 1,81–2,99 → Perlu analisis lebih lanjut
✔ Di bawah 1,81 → Risiko lebih tinggi
Contoh Menghitung Altman Z-Score pada Perusahaan Nyata
Selain menggunakan contoh sederhana, kamu juga bisa menghitung Altman Z-Score pada perusahaan yang benar-benar tercatat di bursa. Misalnya Caterpillar Inc. atau Ford Motor Company yang termasuk perusahaan manufaktur di Amerika Serikat.
Untuk menghitungnya, ambil data working capital, retained earnings, EBIT, total assets, total liabilities, serta sales dari laporan tahunan (Form 10-K). Setelah itu, hitung masing-masing rasio sesuai rumus Altman Z-Score untuk mengetahui tingkat risiko financial distress perusahaan tersebut.
Jika ingin mencoba sendiri, kamu dapat melihat laporan keuangan berbagai saham Amerika melalui aplikasi Gotrade. Data tersebut bisa digunakan untuk menghitung setiap komponen Altman Z-Score sehingga proses analisis menjadi lebih praktis.
Cara Membaca Hasil Altman Z-Score
Nilai Altman Z-Score membantu investor memperkirakan tingkat risiko financial distress perusahaan. Semakin tinggi skornya, semakin rendah risiko perusahaan mengalami tekanan keuangan berdasarkan model klasik.
Nilai Z-Score
Interpretasi
Di atas 2,99
Risiko financial distress relatif rendah.
1,81–2,99
Grey zone, sehingga perlu analisis tambahan sebelum menarik kesimpulan.
Di bawah 1,81
Menunjukkan risiko financial distress yang lebih tinggi dan perlu dicermati lebih lanjut.
Tips untuk Investor: Jangan langsung membandingkan Altman Z-Score antar perusahaan dari sektor yang berbeda. Nilai Z-Score akan lebih relevan jika digunakan untuk membandingkan perusahaan dengan model bisnis dan karakteristik industri yang sama.
Perlu diingat bahwa batas interpretasi tersebut berlaku untuk model klasik pada perusahaan manufaktur publik. Jika menggunakan Z'-Score atau Z''-Score, batas nilainya dapat berbeda sehingga hasil analisis juga perlu disesuaikan dengan model yang digunakan.
Cara Menggunakan Altman Z-Score dalam Analisis Saham
Setelah mengetahui cara menghitung dan membaca hasilnya, langkah berikutnya adalah memanfaatkan Altman Z-Score sebagai bagian dari analisis fundamental. Berikut beberapa cara sederhana yang bisa kamu lakukan.
1. Gunakan sebagai screening awal
Mulailah dengan menyaring perusahaan yang memiliki kondisi keuangan relatif sehat. Cara ini dapat membantumu mempersempit pilihan sebelum melakukan analisis yang lebih mendalam.
2. Bandingkan dengan perusahaan sejenis
Agar hasilnya lebih relevan, bandingkan Altman Z-Score dengan perusahaan yang berada dalam sektor atau industri yang sama.
3. Padukan dengan indikator lain
Jangan hanya mengandalkan satu metrik. Lengkapi analisis dengan melihat pertumbuhan laba, arus kas, tingkat utang, hingga valuasi perusahaan.
4. Jadikan bahan pertimbangan, bukan keputusan akhir
Gunakan Altman Z-Score untuk melengkapi analisis, bukan sebagai satu-satunya dasar membeli atau menjual saham.
Kelebihan dan Keterbatasan Altman Z-Score
Seperti indikator fundamental lainnya, Altman Z-Score memiliki kelebihan sekaligus keterbatasan. Memahami keduanya dapat membantumu menggunakan metrik ini secara lebih bijak dalam analisis saham.
Kelebihan
Membantu mengenali risiko financial distress sejak dini.
Menggabungkan beberapa rasio keuangan dalam satu indikator sehingga analisis lebih praktis.
Menggunakan data dari laporan keuangan yang mudah diakses.
Cocok digunakan sebagai alat screening sebelum melakukan analisis lebih lanjut.
Keterbatasan
Tidak dapat memastikan perusahaan akan bangkrut atau harga saham akan turun.
Kurang sesuai digunakan pada sektor tertentu, seperti perbankan dan lembaga keuangan.
Hanya menggunakan data historis sehingga belum mencerminkan prospek bisnis di masa depan.
Tetap perlu dikombinasikan dengan analisis fundamental lainnya agar hasilnya lebih menyeluruh.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Menggunakan Altman Z-Score
Meskipun Altman Z-Score dapat membantu menilai risiko financial distress, hasilnya tetap perlu diinterpretasikan dengan tepat. Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan investor saat menggunakan metrik ini.
Menganggap skor tinggi berarti saham pasti bagus. Altman Z-Score hanya mengukur kesehatan keuangan perusahaan, bukan potensi kenaikan harga saham atau valuasinya.
Membandingkan perusahaan dari sektor yang berbeda. Hasil Altman Z-Score akan lebih relevan jika digunakan untuk membandingkan perusahaan dalam industri yang sama karena setiap sektor memiliki karakteristik bisnis yang berbeda.
Menggunakan model Altman Z-Score yang tidak sesuai. Original Altman Z-Score, Z'-Score, dan Z''-Score dikembangkan untuk jenis perusahaan yang berbeda sehingga penting memilih model yang tepat.
Hanya melihat satu periode laporan keuangan. Kondisi perusahaan dapat berubah dari waktu ke waktu. Membandingkan skor selama beberapa periode biasanya memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai tren kesehatan keuangan perusahaan.
Mengandalkan Altman Z-Score sebagai satu-satunya indikator investasi. Sebaiknya kombinasikan hasilnya dengan analisis fundamental lain, seperti pertumbuhan pendapatan, arus kas, tingkat utang, dan valuasi perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Gunakan Altman Z-Score dengan Bijak
Altman Z-Score membantu mengukur risiko financial distress, tetapi bukan satu-satunya indikator dalam memilih saham. Sebelum berinvestasi, tetap pertimbangkan faktor lain seperti prospek bisnis, pertumbuhan pendapatan, arus kas, valuasi, dan kondisi industri agar keputusanmu lebih menyeluruh.
Siap mulai menganalisis saham? Unduh aplikasi Gotrade dan akses berbagai saham Amerika untuk membangun keputusan investasi berdasarkan riset yang lebih terarah.
FAQ
1. Apa itu Altman Z-Score?
Altman Z-Score adalah model analisis fundamental yang digunakan untuk mengukur risiko financial distress perusahaan berdasarkan kombinasi beberapa rasio keuangan.
2. Berapa nilai Altman Z-Score yang dianggap aman?
Pada model klasik, nilai di atas 2,99 umumnya menunjukkan risiko financial distress yang relatif rendah, sedangkan nilai di bawah 1,81 mengindikasikan risiko yang lebih tinggi. Namun, batas tersebut dapat berbeda tergantung model Altman Z-Score yang digunakan.
3. Apakah Altman Z-Score bisa digunakan untuk semua perusahaan?
Tidak selalu. Model awal Altman Z-Score dirancang untuk perusahaan manufaktur publik. Untuk perusahaan swasta atau non-manufaktur, tersedia versi model yang telah disesuaikan.
4. Apakah skor Altman Z-Score yang tinggi berarti saham pasti bagus?
Tidak. Skor yang tinggi hanya menunjukkan kondisi keuangan perusahaan relatif lebih sehat berdasarkan model Altman Z-Score. Investor tetap perlu mempertimbangkan faktor lain seperti valuasi, prospek bisnis, dan pertumbuhan laba sebelum mengambil keputusan investasi.
5. Apakah investor pemula perlu menghitung Altman Z-Score sendiri?
Tidak harus. Memahami konsep dan cara membaca hasilnya sudah menjadi langkah awal yang baik. Seiring bertambahnya pengalaman, kamu dapat mulai menghitung Altman Z-Score sendiri menggunakan data dari laporan keuangan perusahaan.
Referensi:
Investopedia. Understanding the Altman Z-Score Formula and Its Interpretation. Updated April 8, 2026.
Nurhidayati, R., & Amalia, R. Analisis Financial Distress Menggunakan Metode Altman Z-Score Modifikasi dan Springate pada Perusahaan Ritel yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020–2022.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Gabriella dengan pengalaman 2+ tahun sebagai Content Writer yang telah menangani berbagai niche, mulai dari digital marketing, mental health, parenting, travel, furniture, teknologi, hingga finansial. Ia memiliki ketertarikan dalam menulis topik seputar finansial dan investasi. Berbekal latar belakang S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, ia terbiasa melakukan riset, keyword research, menulis artikel yang mengikuti prinsip E-E-A-T, serta melakukan editing dan proofreading agar konten lebih akurat, relevan, dan nyaman dibaca.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.