Status Quo Bias: Arti, Contoh, dan Efek pada Investor

Atalya WianAtalya WianHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Status Quo Bias: Arti, Contoh, dan Efek pada Investor

Ringkasan Gotrade

  • Status quo bias adalah kecenderungan seseorang untuk mempertahankan keputusan atau kondisi yang sudah ada meskipun ada pilihan lain.
  • Bias ini dapat menyebabkan investor enggan menjual saham, mengubah alokasi portofolio, atau mengevaluasi kembali keputusan yang telah dibuat sebelumnya.
  • Mempertahankan investasi tidak selalu berarti mengalami status quo bias. Masalah muncul ketika keputusan dibuat tanpa mempertimbangkan perubahan kondisi, risiko, atau informasi baru.

Pernahkah kamu mempertahankan saham hanya karena sudah lama memilikinya?

Padahal, keadaan bisnis mungkin telah berubah dan ada alternatif investasi lain yang layak dipertimbangkan. Situasi seperti ini dapat dikaitkan dengan status quo bias, yaitu kecenderungan untuk tetap pada pilihan yang sudah ada karena perubahan terasa lebih sulit atau tidak nyaman.

Memahami bias ini penting dalam investasi karena keputusan yang terlihat seperti "tidak melakukan apa-apa" tetap merupakan sebuah keputusan.

Baca juga: Unearned Revenue Adalah: Pengertian, Contoh & Dampak

Apa yang Dimaksud dengan Status Quo Bias?

Status Quo Bias: Arti, Contoh, dan Efek pada Investor

Status quo bias adalah kecenderungan seseorang untuk mempertahankan keadaan atau keputusan yang sudah ada daripada melakukan perubahan. Psikologi pengambilan keputusan dan ekonomi perilaku banyak membahas konsep ini.

Dalam penelitian klasik tentang status quo bias, William Samuelson dan Richard Zeckhauser menemukan bahwa ketika suatu pilihan ditetapkan sebagai status quo atau kondisi awal, orang cenderung lebih sering memilih opsi tersebut dibandingkan ketika tidak ada pilihan awal yang ditentukan.

Baca juga: Rekonsiliasi: Proses, Tujuan, hingga Contohnya dalam Keuangan

Artinya, kualitas setiap pilihan tidak selalu menjadi satu-satunya faktor yang memengaruhi keputusan seseorang. Kondisi yang sudah berjalan atau pilihan yang sudah diambil dapat terasa lebih menarik hanya karena menjadi kondisi awal.

Dalam investasi, kondisi ini dapat muncul ketika investor mempertahankan saham yang sudah lama dimiliki, tidak melakukan rebalancing portofolio, tetap menggunakan strategi lama, atau enggan mempertimbangkan instrumen lain.

Meskipun demikian, keputusan untuk tidak mengubah investasi tidak selalu merupakan keputusan yang salah. Faktor yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik keputusan tersebut.

Apa Arti Status Quo?

Status quo adalah keadaan atau kondisi yang sedang berlaku saat ini. "Mempertahankan status quo" berarti seseorang memilih untuk mempertahankan keadaan yang ada daripada melakukan perubahan.

Sebagai contoh, seorang investor memiliki komposisi portofolio yang terdiri dari 60% saham teknologi, 20% ETF, dan 20% kas. Jika investor terus mempertahankan komposisi ini, ia menjaga kondisi portofolionya tetap sama. Hal tersebut tidak selalu menjadi masalah.

Namun, jika profil risiko, fundamental aset, atau kondisi pasar telah berubah tetapi investor tetap mempertahankan investasinya hanya karena enggan melakukan perubahan, keputusan tersebut dapat dipengaruhi oleh status quo bias.

Mengapa Status Quo Bias Bisa Terjadi?

Status quo bias tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Ada beberapa alasan yang dapat membuat kondisi saat ini terasa lebih nyaman.

1. Perubahan Membutuhkan Keputusan Baru

Mengubah pilihan berarti harus kembali membandingkan berbagai opsi.

Dalam investasi, investor perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum menjual satu saham dan membeli saham lain, termasuk:

  • fundamental perusahaan,

  • valuasi,

  • potensi risiko,

  • prospek industri,

  • dan harga yang dianggap masuk akal.

Sebaliknya, mempertahankan saham yang sudah dimiliki tidak membutuhkan proses pengambilan keputusan sebanyak itu.

Akibatnya, pilihan untuk "tetap seperti sekarang" sering kali terasa lebih mudah.

2. Takut Menyesali Keputusan Baru

Investor juga dapat mempertahankan kondisi lama karena takut membuat keputusan yang salah.

Misalnya, seorang investor menjual saham A, tetapi setelah itu harga saham tersebut justru naik 30%.

Investor dapat merasa menyesal karena keputusan tersebut, meskipun analisis sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi perusahaan sudah lebih buruk dibandingkan sebelumnya.

Ini dikuatkan oleh studi eksperimental yang lebih baru di Journal of Economic Behavior & Organization. Sautua (2017) menemukan bahwa ketika salah satu pilihan merupakan status quo, rasa enggan menyesal (regret aversion) dan keraguan akibat ketidakpastian sama-sama menjadi penentu penting inersia, yaitu kecenderungan memilih opsi yang mempertahankan keadaan saat ini.

3. Terlalu Terbiasa dengan Pilihan Lama

Investor biasanya sudah familiar dengan produk perusahaan, laporan keuangan, manajemen, pergerakan harga, dan sejarah investasinya.

Sementara itu, mempelajari saham atau aset lain membutuhkan proses baru.

Familiaritas dapat membuat pilihan lama terasa lebih aman. Namun, sesuatu yang lebih familiar belum tentu merupakan pilihan yang lebih baik.

4. Tidak Melakukan Apa-Apa Terasa Lebih Aman

Ada perbedaan psikologis antara mengalami kerugian karena melakukan suatu tindakan dan mengalami kerugian karena tidak melakukan apa pun.

Menjual saham yang kemudian naik dapat terasa seperti kesalahan aktif.

Sebaliknya, mempertahankan saham yang kemudian turun sering terasa seperti sesuatu yang "terjadi pada kita".

Perbedaan persepsi ini dapat mendorong investor untuk mempertahankan status quo.

Contoh Status Quo Bias dalam Investasi

1. Mempertahankan Saham karena Sudah Lama Dimiliki

Bayangkan kamu membeli saham perusahaan A tiga tahun lalu. Saat membeli, perusahaan memiliki utang yang rendah, pertumbuhan laba yang cepat, margin laba yang meningkat, dan posisi kompetitif yang kuat.

Tiga tahun kemudian, situasinya berubah. Pertumbuhan melambat, utang meningkat, dan pesaing mulai mengambil pangsa pasar. Namun, kamu tetap mempertahankan saham tersebut dengan alasan: "Sudah pegang dari dulu, sayang kalau dijual."

Status quo bias dapat memengaruhi keputusan jika pilihan tersebut tidak didukung oleh evaluasi fundamental terbaru.

2. Tidak Melakukan Rebalancing Portofolio

Status Quo Bias: Arti, Contoh, dan Efek pada Investor

Misalnya, pada awalnya kamu menargetkan komposisi 50% saham dan 50% aset dengan volatilitas yang lebih rendah.

Setelah beberapa tahun, kenaikan harga saham membuat komposisinya berubah menjadi:

  • 80% saham

  • 20% aset lain

Profil risiko portofolio saham sekarang berbeda dari rencana awal. Namun, investor membiarkannya karena mengubah portofolio terasa sulit. Situasi seperti ini dapat menjadi contoh lain bagaimana status quo bias memengaruhi investasi.

3. Tetap Menggunakan Strategi yang Sudah Tidak Sesuai

Kondisi pasar dapat berubah. Strategi yang efektif ketika suku bunga rendah belum tentu memiliki karakteristik yang sama ketika biaya modal meningkat.

Namun, investor terkadang tetap menggunakan metode lama hanya karena strategi tersebut pernah berhasil. Masalahnya bukan pada konsistensi, melainkan pada keengganan untuk menilai apakah asumsi yang mendasarinya masih berlaku.

4. Mempertahankan Saham Perusahaan yang Sudah Dikenal

Investor juga dapat merasa lebih nyaman mempertahankan saham perusahaan yang sudah dikenal daripada mempelajari perusahaan baru. Misalnya, seseorang terus mempertahankan salah satu saham teknologi setelah mengikuti perusahaan tersebut selama bertahun-tahun.

Padahal, portofolionya sudah sangat terfokus pada sektor teknologi. Jika didukung oleh analisis, keputusan tersebut bisa saja rasional. Namun, familiaritas dan status quo bias perlu dipertimbangkan jika alasannya hanya karena "lebih kenal saham ini".

Baca juga: Diversifikasi Investasi: Arti, Manfaat, dan Contoh

Status Quo Bias Bukan Berarti Investor Harus Sering Trading

Memahami status quo bias tidak berarti investor harus sering trading. Tidak melakukan perubahan juga bisa menjadi pilihan yang tepat.

Misalnya, setelah melakukan evaluasi, kamu menemukan bahwa fundamental perusahaan tetap kuat, thesis investasi belum berubah, valuasi masih sesuai, dan risiko tetap berada dalam batas yang dapat diterima.

Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan saham bisa menjadi keputusan yang rasional. Perbedaannya terletak pada proses berpikir. Mempertahankan posisi karena analisis masih mendukungnya berbeda dengan mempertahankan posisi hanya karena itu adalah pilihan yang sudah ada.

Karena itu, memahami status quo bias bukan berarti mendorong investor untuk terus melakukan transaksi. Sebaliknya, pemahaman ini membantu memastikan bahwa keputusan tetap dibuat berdasarkan informasi yang relevan.

Bagaimana Status Quo Bias Memengaruhi Investor?

Status quo bias dapat memengaruhi beberapa aspek penting dalam pengelolaan portofolio jika tidak disadari.

Portofolio Tidak Lagi Sesuai dengan Tujuan

Komposisi portofolio dapat berubah seiring pergerakan harga. Tanpa evaluasi berkala, tingkat risiko portofolio bisa berbeda dari tujuan awal investor.

Terlalu Lama Mempertahankan Thesis Lama

Kondisi bisnis tidak selalu sama. Faktor seperti pertumbuhan, margin, utang, posisi kompetitif, dan kualitas manajemen dapat berubah. Informasi baru bisa mendapatkan perhatian yang lebih sedikit jika investor terlalu bergantung pada kondisi atau asumsi lama.

Alternatif Investasi Terabaikan

Mempertahankan satu investasi memiliki opportunity cost. Modal yang ditempatkan pada satu aset tidak dapat digunakan pada aset lain pada saat yang sama.

Karena itu, dalam evaluasi investasi, pertanyaan seperti:

"Apakah saham ini masih bagus?"

dapat dikombinasikan dengan pertanyaan:

"Jika saya belum memiliki saham ini hari ini, apakah saya masih akan memilihnya dibandingkan alternatif yang tersedia?"

Pertanyaan kedua dapat membantu mengurangi pengaruh kondisi awal terhadap keputusan.

Cara Mengurangi Status Quo Bias dalam Investasi

Status quo bias merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan manusia dan sulit dihilangkan sepenuhnya.

Namun, investor dapat membangun proses agar keputusan menjadi lebih objektif.

1. Tulis Alasan Membeli Saham

Catat alasan utama ketika membeli saham, misalnya:

  • pertumbuhan pendapatan,

  • peningkatan margin,

  • valuasi,

  • pangsa pasar,

  • atau katalis lainnya.

Dengan begitu, kamu memiliki dasar yang lebih jelas untuk menilai apakah alasan investasi tersebut masih relevan.

2. Tentukan Kondisi yang Dapat Mengubah Thesis

Jangan hanya menentukan alasan pembelian. Tentukan juga kondisi yang membuatmu perlu mengevaluasi kembali posisi.

Misalnya:

  • pertumbuhan turun di bawah target tertentu,

  • utang meningkat dengan cepat,

  • perusahaan kehilangan pelanggan utama,

  • atau terjadi perubahan signifikan pada industri.

Hal ini membantu investor menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada perasaan.

3. Lakukan Evaluasi Portofolio Secara Berkala

Evaluasi portofolio tidak harus dilakukan setiap saat, tetapi dapat membantu memastikan bahwa posisi yang dipertahankan masih memiliki alasan yang kuat.

Beberapa momen yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi antara lain:

  • setelah laporan keuangan,

  • setelah perubahan strategi perusahaan,

  • ketika valuasi berubah signifikan,

  • atau ketika tujuan finansial investor berubah.

4. Tanyakan "Apakah Saya Akan Membelinya Hari Ini?"

Salah satu cara sederhana untuk menguji status quo bias adalah membayangkan bahwa kamu belum memiliki saham tersebut.

Kemudian tanyakan:

"Jika saya memiliki uang dengan nilai yang sama hari ini, apakah saya akan membeli saham ini pada harga sekarang?"

Jika jawabannya tidak, tetapi kamu tetap mempertahankan posisi hanya karena sudah memilikinya, keputusan tersebut layak dievaluasi kembali.

5. Bandingkan dengan Alternatif

Jangan mengevaluasi saham tanpa melihat alternatifnya.

Bandingkan dengan:

  • perusahaan sejenis,

  • sektor yang berbeda,

  • ETF,

  • atau bahkan opsi mempertahankan kas.

Tujuannya bukan mencari aset yang pasti lebih baik, melainkan memastikan bahwa keputusan mempertahankan investasi lama melalui proses evaluasi yang sama dengan keputusan untuk membuat investasi baru.

Status Quo Bias dan Bias Investasi Lainnya

Status quo bias dapat muncul bersamaan dengan bias investasi lainnya.

  • Loss aversion
    Investor enggan menjual saham yang mengalami kerugian karena kerugian terasa lebih menyakitkan dibandingkan keuntungan dengan nilai yang sama.

  • Anchoring
    Investor terlalu bergantung pada harga beli, target lama, atau angka tertentu.

  • Confirmation bias
    Investor lebih memperhatikan informasi yang mendukung pendapatnya dibandingkan informasi yang bertentangan.

  • Endowment effect
    Seseorang dapat memberikan nilai lebih tinggi terhadap sesuatu hanya karena sudah memilikinya.

Bias-bias tersebut dapat saling memperkuat. Keterkaitan antara bias-bias ini dijelaskan dalam studi Daniel Kahneman, Jack Knetsch, dan Richard Thaler (1991) di Journal of Economic Perspectives. Studi tersebut menunjukkan bahwa endowment effect dan status quo bias merupakan wujud dari loss aversion, yaitu rasa kehilangan saat melepas sesuatu yang terasa lebih besar dibandingkan kepuasan saat memperolehnya

Investor dapat mempertahankan saham karena sudah memilikinya, tetap terpaku pada harga beli, takut mengalami kerugian, dan hanya membaca informasi yang mendukung keputusan tersebut.

Karena itu, mengenali bias bukan sekadar mencari satu kesalahan psikologis, tetapi memahami bagaimana berbagai faktor dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan.

Apakah Status Quo Bias Selalu Buruk?

Tidak selalu.

Status quo bias menjadi masalah ketika kecenderungan mempertahankan keadaan lama membuat seseorang mengabaikan informasi yang relevan.

Dalam beberapa situasi, mempertahankan kondisi yang ada justru merupakan keputusan yang masuk akal.

Misalnya, investor telah:

  • melakukan analisis terbaru,

  • mengevaluasi fundamental,

  • mempertimbangkan valuasi,

  • membandingkan alternatif,

  • dan menilai kembali risiko.

Jika hasil analisis tetap mendukung posisi yang sama, tidak ada keharusan untuk mengubah portofolio.

Dengan kata lain, masalahnya bukan pada keputusan untuk tetap, tetapi alasan mengapa kamu memilih untuk tetap.

Kesimpulan

Status quo bias adalah kecenderungan seseorang untuk tetap mempertahankan keadaan atau keputusan yang sudah ada daripada melakukan perubahan.

Bias ini dapat muncul dalam investasi ketika investor mempertahankan saham, strategi, atau alokasi portofolio hanya karena sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.

Namun, mempertahankan sebuah investasi belum tentu berarti kamu mengalami status quo bias.

Perbedaannya terletak pada proses evaluasi. Jika fundamental, valuasi, risiko, dan thesis investasi masih mendukungnya, mempertahankan posisi bisa menjadi keputusan yang rasional.

Saat mengevaluasi portofolio, jangan hanya bertanya apakah investasi yang kamu miliki masih membuatmu nyaman. Pertimbangkan juga apakah kamu masih akan membuat keputusan investasi yang sama berdasarkan informasi yang tersedia hari ini.

Melalui Gotrade, kamu dapat memantau perkembangan perusahaan dan saham AS untuk membantu mengevaluasi keputusan investasi berdasarkan informasi terbaru.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Atalya Wian
Ditulis oleh
Atalya Wian
Atalya adalah content marketer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga keuangan. Spesialis dalam penulisan topik bisnis, teknologi, dan keuangan untuk audiens profesional.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku