Lihat label ini sebagai indikasi awal bahwa ini adalah perusahaan besar; setelah itu, angka harus diperiksa.
Saham Second Liner
Perusahaan yang ukurannya di bawah blue chip biasanya menggunakan second liner, tetapi saham dan bisnis mereka sudah cukup dikenal pasar.
Banyak dari perusahaan kelompok ini masih dalam proses memperluas bisnis mereka. Mereka meningkatkan kapasitas produksi, memasuki wilayah baru, memperluas jaringan distribusi, atau merilis produk baru. Memang, ruang tumbuhnya dapat diperluas.
Namun, ketidakpastian adalah biayanya.
Rencana ekspansi dapat sangat mahal, hasilnya mungkin tidak terlihat secara langsung, dan laba dapat tertinggal dari peningkatan penjualan. Ekspektasi pasar mudah berubah, jadi pergerakan sahamnya kadang-kadang lebih tajam.
Selain itu, second liner tidak selalu berarti perusahaan yang lebih buruk. Ada bisnis menengah dengan pengelolaan yang baik dan keuangan yang sehat, dan ada juga yang terlihat berkembang cepat, tetapi utangnya terus meningkat.
Jangan terlalu sibuk mencari label yang paling sesuai karena batas blue chip dan second liner tidak baku. Sangat penting untuk melihat bisnisnya secara langsung. Ini penting untuk mengetahui dari mana perusahaan menghasilkan uang, bagaimana keadaan keuangannya, dan apakah rencana pertumbuhannya benar-benar masuk akal.
Perbedaan Blue Chip dan Second Liner
Perbedaannya paling mudah terlihat dari ukuran bisnis, likuiditas saham, dan ruang pertumbuhannya.
Aspek | Blue Chip | Second Liner |
Ukuran bisnis | Besar dan sudah mapan | Lebih kecil atau masih berkembang |
Likuiditas saham | Biasanya diperdagangkan secara luas | Bisa lebih tipis dan berubah-ubah |
Pertumbuhan | Cenderung lebih stabil | Mungkin lebih cepat, tetapi tidak selalu konsisten |
Dividen | Lebih sering membagikan dividen | Dapat menahan laba untuk ekspansi |
Pergerakan harga | Relatif lebih terkendali | Lebih mudah bergerak tajam |
Risiko utama | Pertumbuhan melambat atau valuasi terlalu mahal | Ekspansi gagal, arus kas lemah, atau utang meningkat |
Ini terlihat sangat sederhana. Itu tidak selalu benar.
Jika laporan keuangannya mengecewakan atau valuasinya terlalu tinggi, saham blue chip masih dapat turun. Selain itu, perusahaan besar dapat kehilangan dominasi yang mereka miliki sebelumnya.
Selain itu, ukuran yang lebih kecil dari second liner tidak otomatis membuatnya buruk. Perusahaan menengah sudah menghasilkan keuntungan, memiliki utang terkendali, dan mampu membiayai operasi mereka sendiri.
Tabel ini bukan hasil akhir.
Sebelum memeriksa likuiditas saham, valuasi, dan laporan keuangan perusahaan, anggap ini sebagai gambaran awal.
5 Hal yang Membedakan Blue Chip dan Second Liner
1. Skala Bisnis dan Sumber Pendapatan
Perusahaan blue chip biasanya memiliki operasi yang lebih luas. Jumlah pelanggannya besar, produknya tersebar di banyak wilayah, dan pendapatannya bisa berasal dari beberapa segmen.
Skala tersebut memberi sedikit bantalan. Ketika satu bagian bisnis melambat, bagian lain mungkin masih bisa menopang kinerja perusahaan.
Namun, bisnis besar punya tantangan sendiri.
Semakin besar ukuran perusahaan, semakin banyak tambahan pendapatan yang dibutuhkan untuk mempertahankan laju pertumbuhan yang sama.
Second liner berada di posisi berbeda. Pembukaan beberapa gerai atau satu kontrak baru bisa langsung terlihat dampaknya pada laporan keuangan karena titik awal bisnisnya memang lebih kecil.
Potensinya menarik. Biayanya juga nyata.
Kalau ekspansi tidak berjalan baik, perusahaan tetap harus membayar sewa, karyawan, stok, dan utang. Karena itu, pertumbuhan tidak cukup dilihat dari seberapa cepat pendapatan naik.
Lihat juga berapa biaya yang dibutuhkan untuk mencapainya.
2. Likuiditas Saham
Saham blue chip biasanya memiliki volume transaksi yang besar. Pembeli dan penjual lebih mudah ditemukan, sehingga transaksi dapat dilakukan tanpa terlalu banyak memengaruhi harga.
Selisih antara harga bid dan ask juga cenderung lebih rapat. Meski begitu, saat pasar sedang panik, likuiditas saham besar pun bisa ikut menurun.
Pada second liner, situasinya lebih mudah berubah.
Ketika sedang ramai, volume perdagangannya bisa melonjak. Antrean beli dan jual terlihat penuh. Beberapa minggu kemudian, perhatian pasar pindah dan transaksinya mulai sepi.
Masalahnya sering baru terasa ketika investor ingin menjual.
Harga di layar mungkin masih terlihat tinggi. Namun, jika pembelinya sedikit, menjual dalam jumlah besar bisa mendorong harga turun. Keuntungan yang terlihat di portofolio belum tentu dapat direalisasikan pada harga yang sama.
3. Ruang Pertumbuhan
Perusahaan besar masih bisa tumbuh, tetapi mempertahankan persentase pertumbuhan tinggi biasanya semakin sulit.
Perusahaan yang lebih kecil punya ruang lebih luas. Mereka bisa membuka cabang, menambah produk, mengambil pelanggan dari kompetitor, atau masuk ke pasar baru.
Inilah daya tarik second liner.
Namun, jangan berhenti di angka pendapatan.
Misalnya, penjualan naik 30%. Angkanya terlihat bagus. Setelah itu, cek lagi: apakah arus kas operasi ikut membaik? Apakah margin laba naik? Apakah utang bertambah? Apakah perusahaan menerbitkan saham baru untuk membiayai ekspansi?
Kalau pendapatan tumbuh tetapi kebutuhan dananya ikut membengkak, kualitas pertumbuhannya perlu diperiksa lebih dalam.
Bisnisnya memang membesar. Belum tentu pemegang saham menerima manfaat dengan kecepatan yang sama.
4. Dividen
Blue chip sering dikaitkan dengan dividen karena bisnisnya sudah menghasilkan kas dan tidak semua laba perlu digunakan untuk ekspansi.
Sebagian kas dapat dibagikan kepada pemegang saham. Sisanya bisa dipakai untuk membayar utang, membeli kembali saham, atau mendanai proyek baru.
Tetapi tidak semua blue chip membagikan dividen besar.
Kebijakan setiap perusahaan berbeda. Dividen juga dapat dikurangi ketika kondisi bisnis memburuk atau perusahaan membutuhkan dana lebih banyak.
Second liner pun bisa membagikan dividen. Namun, perusahaan yang sedang berkembang sering memilih menahan laba untuk membeli stok, membuka cabang, atau menambah kapasitas.
Jangan hanya melihat besar dividennya.
Periksa juga apakah pembayaran tersebut didukung oleh laba dan arus kas yang sehat. Dividen yang berasal dari operasi bisnis tentu berbeda dengan dividen yang terus dipertahankan lewat tambahan utang.
5. Sensitivitas terhadap Berita
Saham perusahaan besar diikuti banyak investor dan analis. Laporan keuangan, perubahan regulasi, atau keputusan manajemen biasanya langsung diproses oleh pasar.
Harganya tetap bisa bergerak tajam. Hanya saja, ada lebih banyak pihak yang sedang menilai informasi yang sama.
Pada second liner, satu kabar dapat memicu pergerakan yang jauh lebih besar.
Kontrak baru, rencana ekspansi, pergantian direksi, atau kenaikan laba bisa membuat harga saham melonjak dalam waktu singkat. Kadang memang didukung perubahan bisnis. Kadang pasar hanya terlalu bersemangat.
Harga bahkan bisa naik lebih dulu sebelum dampak beritanya muncul dalam laporan keuangan.
Di sini kamu perlu sedikit menahan diri. Cek apakah kabar tersebut benar-benar mengubah kemampuan perusahaan menghasilkan uang atau hanya membuat sahamnya ramai untuk sementara.
Blue Chip Bukan Berarti Harganya Selalu Stabil
Saham perusahaan besar tetap bisa turun. Kadang cukup dalam.
Penyebabnya bisa datang dari laba yang berada di bawah perkiraan, pertumbuhan yang mulai melambat, perubahan regulasi, atau valuasi yang telanjur tinggi.
Ketika pasar terkoreksi, blue chip juga tidak kebal. Harganya dapat ikut tertekan meski kondisi bisnis perusahaan belum berubah banyak.
Ada pula tantangan dari ukuran perusahaan itu sendiri. Semakin besar bisnisnya, semakin sulit mempertahankan pertumbuhan tinggi dari tahun ke tahun.
Jadi, perusahaan bagus belum tentu menjadi investasi bagus pada setiap harga.
Bisnisnya mungkin sehat. Produknya laku. Manajemennya juga solid. Namun, jika sahamnya dibeli terlalu mahal, hasil investasinya tetap bisa mengecewakan.
Harga beli tetap penting.
Second Liner Tidak Selalu Spekulatif
Second liner sering dianggap sebagai saham yang hanya cocok untuk mengejar kenaikan cepat. Anggapan ini tidak selalu tepat.
Ada perusahaan menengah yang sudah mencatat laba, punya utang terkendali, dan mampu menghasilkan arus kas dari kegiatan operasional. Ukurannya memang belum sebesar blue chip, tetapi bisnisnya belum tentu buruk.
Yang perlu dilihat adalah kualitas pertumbuhannya.
Apakah penjualan naik karena permintaan pelanggan memang membaik? Apakah margin laba ikut naik? Apakah ekspansi dibiayai dari kas perusahaan atau tambahan utang? Apakah jumlah saham beredar terus bertambah?
Jawabannya tidak selalu terlihat dari grafik harga.
Grafik hanya menunjukkan bagaimana pasar memberi harga pada saham. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam bisnis, kamu tetap perlu membuka laporan keuangan dan membaca penjelasan manajemen.
Blue Chip vs Second Liner, Mana yang Lebih Cocok?
Tidak ada satu jenis saham yang cocok untuk semua investor. Pilihannya bergantung pada tujuan, jangka waktu, dan kemampuanmu menghadapi penurunan harga.
Kondisi Investor | Pendekatan yang Bisa Dipertimbangkan |
Baru belajar membaca laporan keuangan | Mulai mempelajari perusahaan besar yang informasinya lebih mudah ditemukan |
Tidak nyaman melihat harga bergerak tajam | Berhati-hati mengambil posisi besar pada saham yang likuiditasnya lebih tipis |
Mengejar pertumbuhan jangka panjang | Dapat mempelajari perusahaan berkembang, sambil memeriksa arus kas dan kebutuhan modal |
Membutuhkan dana dalam waktu dekat | Pertimbangkan kembali penggunaan saham karena nilainya dapat turun saat dana dibutuhkan |
Ingin portofolio lebih tersebar | Pelajari saham dari beberapa sektor atau ETF yang memegang banyak perusahaan |
Pembagian seperti 70% blue chip dan 30% second liner sering digunakan sebagai contoh. Angka tersebut bukan standar yang harus diikuti.
Komposisi yang masuk akal bagi investor berusia 25 tahun belum tentu cocok bagi orang yang akan menggunakan dananya dua tahun lagi. Kondisi pendapatan, dana darurat, kewajiban bulanan, dan tujuan investasi juga ikut menentukan.
Pendekatan yang Bisa Digunakan Pemula
Mulai dari Perusahaan yang Bisnisnya Bisa Dipahami
Kamu tidak harus mengetahui seluruh detail operasional perusahaan. Setidaknya, pahami produk yang dijual, sumber pendapatan, pelanggan utama, dan risiko yang dapat mengganggu bisnisnya.
Kalau alasan membeli hanya karena harganya baru naik, risetnya belum selesai.
Periksa Angka yang Paling Dasar
Lihat perkembangan pendapatan, laba, arus kas operasi, jumlah utang, dan jumlah saham beredar.
Tidak perlu memakai puluhan rasio sejak awal. Lima hal tersebut sudah dapat menunjukkan apakah bisnisnya berkembang dengan sehat atau hanya terlihat tumbuh di permukaan.
Sesuaikan Ukuran Posisi
Saham yang belum kamu pahami tidak perlu langsung mendapat porsi besar.
Ukuran posisi dapat ditambah secara bertahap setelah laporan keuangan dan perkembangan bisnisnya semakin jelas. Pendekatan ini juga membantu mengurangi dampak apabila analisis awal ternyata keliru.
Jangan Menganggap DCA Menyelesaikan Semua Masalah
Dollar cost averaging dilakukan dengan menempatkan dana dalam jumlah relatif sama secara berkala. Cara ini membantu investor menjaga konsistensi tanpa terus menebak waktu terbaik masuk pasar.
Namun, DCA tidak mengubah bisnis buruk menjadi bisnis bagus. Jika kondisi perusahaan terus melemah, membeli secara rutin hanya membuat jumlah dana yang terpapar semakin besar.
Periksa kembali alasan awalmu setiap kali laporan keuangan baru diterbitkan.
Pertimbangkan ETF sebagai Alternatif
Pemula tidak wajib memilih saham individual.
ETF dapat memberikan eksposur ke banyak perusahaan melalui satu instrumen. Cara ini dapat membantu menyebarkan risiko perusahaan, meski tidak menghilangkan risiko penurunan pasar.
Periksa juga isi ETF tersebut. ETF yang didominasi satu sektor belum tentu memberikan diversifikasi seluas yang terlihat dari jumlah sahamnya.
Apakah Saham Blue Chip Cocok untuk Kamu?
Saham blue chip mungkin layak dipelajari jika kamu:
Lebih nyaman memulai dari perusahaan besar dengan informasi yang relatif lengkap.
Menginginkan saham yang umumnya aktif diperdagangkan.
Tidak terlalu mengejar pertumbuhan agresif dalam waktu singkat.
Bersedia tetap memeriksa valuasi dan perkembangan bisnisnya.
Blue chip mungkin kurang sesuai apabila kamu membeli hanya karena nama perusahaannya terkenal atau menganggap harganya tidak mungkin turun.
Apakah Saham Second Liner Cocok untuk Kamu?
Second liner mungkin layak dipelajari jika kamu:
Sudah memahami dasar laporan keuangan.
Siap menghadapi pergerakan harga yang lebih tajam.
Mau memeriksa likuiditas, utang, arus kas, dan potensi dilusi.
Memiliki waktu untuk mengikuti perkembangan bisnis perusahaan.
Second liner mungkin kurang sesuai apabila dana tersebut akan segera digunakan atau penurunan harga kecil saja sudah membuatmu ingin menjual karena panik.
Mulai Bangun Portofolio secara Bertahap
Blue chip dan second liner memiliki kelebihan serta risiko yang berbeda. Blue chip menawarkan bisnis yang umumnya lebih mapan, sedangkan second liner dapat memberi eksposur pada perusahaan yang masih memiliki ruang pertumbuhan.
Kamu tidak harus memilih salah satu dan mengabaikan yang lain. Fokuslah pada bisnis yang bisa kamu pahami, harga yang masuk akal, dan risiko yang sesuai dengan kondisi keuanganmu.
Melalui Gotrade, kamu dapat mengakses saham AS secara fraksional mulai dari $1. Pelajari perusahaan yang ingin kamu miliki, periksa risikonya, lalu bangun portofolio secara bertahap sesuai tujuan investasimu.