Apa itu CAPEX? Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitungnya

Ringkasan Gotrade
- CAPEX adalah pengeluaran perusahaan untuk memperoleh, membangun, mengganti, atau meningkatkan aset yang digunakan lebih dari satu periode.
- CAPEX bisa digunakan untuk maintenance, growth, atau kebutuhan compliance, sehingga kenaikan CAPEX belum tentu selalu berarti perusahaan sedang bertumbuh.
- Bagi investor saham, CAPEX perlu dilihat bersamaan dengan revenue, free cash flow, ROIC, dan sumber pendanaannya untuk menilai apakah investasi perusahaan menghasilkan return yang memadai.
Sebuah perusahaan mengeluarkan US$5 miliar untuk membangun data center baru.
Kas perusahaan berkurang hari ini tetapi aset tersebut diharapkan bisa menghasilkan revenue selama bertahun-tahun.
Pengeluaran untuk memperoleh atau meningkatkan aset jangka panjang seperti ini biasanya disebut sebagai CAPEX atau capital expenditure.
Bagi investor saham, CAPEX penting karena berkaitan dengan pertumbuhan, kebutuhan modal, free cash flow, dan efisiensi investasi.
Tetapi, CAPEX yang besar belum tentu selalu positif. Hal yang penting untuk dipertanyakan investor adalah “Apa yang dibangun perusahaan dan berapa return yang akhirnya dihasilkan?”
Apa Itu CAPEX?
CAPEX atau Capital Expenditure adalah pengeluaran perusahaan untuk memperoleh, membangun, mengganti atau meningkatkan aset yang digunakan lebih dari satu periode.
Contohnya bisa seperti pabrik, mesin, kendaraan, gedung, data center, server, dan jaringan distribusi.
Menurut IFRS Foundation aset tetap diakui ketika manfaat ekonomi masa depan kemungkinan akan mengalir ke perusahaan dan biayanya bisa diukur secara andal.
Jadi, CAPEX bukan hanya pengeluaran bernilai besar. Pengeluaran baru bisa dikapitalisasi jika memenuhi kriteria sebagai aset sedangkan biaya lainnya tetap dicatat sebagai expense.
Kenapa CAPEX Bisa Berbeda di Setiap Industri?
Besarnya CAPEX sangat bergantung pada business model dan tingkat capital intensity suatu industri. Karena itu, nominal CAPEX antarperusahaan tidak bisa dibandingkan secara langsung.
Beberapa contohnya adalah:
Manufaktur: mesin, production line, pabrik, dan warehouse.
Semiconductor: fabrication facility, manufacturing equipment, dan clean room infrastructure.
Cloud dan teknologi: server, data center, dan network infrastructure. Beberapa software development costs juga bisa dikapitalisasi sesuai accounting treatment yang berlaku.
Retail: pembangunan toko, renovasi besar, distribution center, dan warehouse equipment.
Airlines: pesawat, komponen utama, dan major inspection tertentu jika memenuhi recognition criteria.
Telekomunikasi: tower, fiber network, dan network equipment.
Energy: drilling equipment, pipeline, power plant, dan production facility.
Karena karakter bisnisnya berbeda maka membandingkan CAPEX software company dengan utility atau semiconductor company hanya dari nominalnya saja tidaklah tepat.
Investor juga perlu melihat CAPEX relatif terhadap revenue, cash flow, serta kebutuhan bisnis perusahaan.
Apa Perbedaan CAPEX dan OPEX?
Perbedaan utama dari CAPEX dan OPEX terletak pada tujuan pengeluaran dan periode manfaatnya. Perhatikan tabel berikut ini:
Aspek | CAPEX | |
Tujuan | Memperoleh atau meningkatkan aset jangka panjang | Menjalankan kegiatan operasional sehari-hari |
Periode manfaat | Lebih dari satu periode | Umumnya pada periode berjalan |
Accounting | Dikapitalisasi jika memenuhi kriteria | Umumnya langsung dicatat sebagai expense |
Cash flow | Umumnya masuk investing activity untuk pembelian PP&E | Umumnya masuk operating activity |
Efek ke laba | Dibebankan bertahap melalui depreciation atau amortization | Lebih langsung mempengaruhi laba periode berjalan |
Contoh | Mesin, pabrik, data center | Gaji, marketing, utility, routine maintenance |
Hal yang perlu diingat adalah besar kecilnya pengeluaran bukan penentu CAPEX atau OPEX. Klasifikasinya bergantung pada sifat pengeluaran dan apakah biaya tersebut bisa memenuhi kriteria untuk diakui sebagai aset.
Apa Saja Jenis CAPEX?
Dalam analisis investasi, CAPEX sering dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu sebagai berikut:
1. Maintenance CAPEX
Maintenance CAPEX adalah belanja modal untuk mempertahankan kapasitas, kondisi aset, dan operasi bisnis yang sudah ada.
Contohnya, perusahaan mengganti mesin lama agar kapasitas produksi tidak menurun. Tujuannya bukan untuk menambah volume tetapi untuk menjaga productive capacity.
2. Growth CAPEX
Growth CAPEX digunakan untuk memperluas kemampuan bisnis. Misalnya membangun pabrik atau data center baru, membuka toko atau menambah production line.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas dan potensi revenue. Tetapi adanya growth CAPEX belum tentu akan menghasilkan pertumbuhan yang menguntungkan jika return dari investasi tersebut tidak memadai.
3. Regulatory atau Compliance CAPEX
CAPEX ini dikeluarkan untuk memenuhi standar keselamatan, regulasi lingkungan, ketentuan hukum atau infrastruktur wajib.
Pengeluaran tersebut mungkin tidak akan langsung menghasilkan revenue baru tetapi tetap diperlukan agar perusahaan bisa terus beroperasi.
Apakah CAPEX Ada di Laporan Keuangan?
Ya. Tetapi, CAPEX tidak selalu muncul sebagai satu line item khusus. Dampaknya bisa terlihat di cash flow statement, balance sheet, dan income statement dengan cara yang berbeda.
Perhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Cash Flow Statement
Cash flow statement biasanya menjadi tempat pertama untuk mencari CAPEX. Menurut IAS 7 pembelian aset jangka panjang akan termasuk dalam investing activities.
Dalam laporan perusahaan, kamu bisa mencari istilah seperti capital expenditures, purchases of PP&E atau purchases of property and equipment.
Tetapi, jangan menyamakan seluruh investing cash flow dengan CAPEX karena bagian tersebut juga bisa mencakup akuisisi bisnis, pembelian investasi, dan penjualan aset.
2. Balance Sheet
Ketika CAPEX dikapitalisasi nilainya akan menambah aset seperti Property, Plant and Equipment (PP&E).
Tetapi, perubahan nilai PP&E juga akan dipengaruhi oleh depreciation, impairment, disposals, acquisitions, dan faktor lainnya. Karena itu, kenaikan PP&E belum tentu sama dengan nilai CAPEX.
3. Income Statement
CAPEX yang dikapitalisasi tidak langsung akan dibebankan seluruhnya sebagai expense. Biayanya biasanya dialokasikan selama masa manfaat aset melalui depreciation atau amortization.
Karena itu, perusahaan bisa mengeluarkan cash besar untuk CAPEX tanpa membuat net income turun sebesar jumlah yang sama pada periode tersebut.
Bagaimana Cara Menghitung CAPEX?
Ada dua pendekatan yang bisa digunakan untuk melihat atau memperkirakan CAPEX perusahaan, yaitu:
1. Menggunakan Reported CAPEX dari Cash Flow Statement
Jika perusahaan melaporkan CAPEX secara langsung maka angka tersebut biasanya akan menjadi acuan utama.
Misalnya, cash flow statement telah mencatat:
Purchases of Property and Equipment: US$4 miliar
Maka cash CAPEX pada periode tersebut adalah US$4 miliar sesuai dengan cakupan disclosure perusahaan.
Tetapi kamu harus tetap periksa footnote karena definisi CAPEX bisa berbeda antarperusahaan. Misalnya dalam perlakuan terhadap software yang dikapitalisasi, construction in progress, capitalized interest, dan financed equipment.
2. Mengestimasi dari Perubahan PP&E
Jika angka CAPEX tidak tersedia secara langsung maka salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah:
Estimated CAPEX = Ending Net PP&E − Beginning Net PP&E + Depreciation
Misalnya ketika:
Beginning PP&E: Rp2 triliun
Ending PP&E: Rp2,2 triliun
Depreciation: Rp300 miliar
Maka hasilnya adalah:
Rp2,2 triliun − Rp2 triliun + Rp300 miliar = Rp500 miliar
Tetapi, angka tersebut hanyalah estimasi bukannya angka actual CAPEX karena perubahan PP&E juga bisa dipengaruhi oleh disposal, impairment, acquisition, FX, dan faktor lainnya.
Coba Hitung dan Analisis CAPEX Perusahaan
Setelah menemukan angka CAPEX, kamu bisa membandingkannya dengan revenue, depreciation, dan operating cash flow untuk mendapatkan konteks yang lebih lengkap.
Lebih Baik CAPEX Tinggi atau Rendah?
Tidak ada jawaban yang selalu sama. CAPEX tinggi maupun rendah bisa menjadi hal positif atau negatif tergantung dengan alasan dan hasil dari pengeluarannya.
CAPEX tinggi bisa menunjukkan ekspansi tetapi juga bisa berasal dari maintenance, regulasi, kenaikan harga aset atau proyek dengan return rendah.
Sebaliknya, CAPEX rendah bisa mencerminkan bisnis yang asset-light tetapi juga bisa menunjukkan underinvestment.
Karena itu, investor perlu melihat kembali tujuan CAPEX dan return yang dihasilkan dari modal tersebut. Untuk menilainya, beberapa hal yang bisa diperhatikan antara lain:
1. Cari Tujuan CAPEX
Periksa apakah perusahaan menggunakan CAPEX untuk melakukan expansion, efficiency, replacement atau compliance.
2. Bandingkan dengan Revenue Growth
Lihat apakah kenaikan CAPEX akhirnya bisa diikuti pertumbuhan revenue. Perhatikan juga apakah ada lag, karena aset baru mungkin akan membutuhkan waktu sebelum menghasilkan pendapatan.
3. Periksa Margin
Jika CAPEX digunakan untuk automation atau efisiensi maka investor harus melihat kembali gross margin atau operating margin sudah membaik setelah aset mulai digunakan.
4. Cek Free Cash Flow
Perhatikan apakah perusahaan masih bisa menghasilkan cash flow yang memadai setelah membiayai CAPEX.
5. Lihat ROIC
ROIC membantu melihat apakah perusahaan bisa menghasilkan return yang memadai dari modal yang ditanamkan. CAPEX besar belum tentu akan menarik jika tambahan return yang dihasilkan relatif kecil.
6. Periksa Sumber Pendanaan
Lihat apakah CAPEX dibiayai dari operating cash flow, utang atau penerbitan saham. Ekspansi yang terlalu bergantung pada utang bisa meningkatkan leverage yang tinggi.
7. Bandingkan Guidance dengan Actual CAPEX
Jika management memberikan CAPEX guidance maka investor bisa membandingkannya dengan realisasinya. Perbedaan besar bisa berasal dari cost overrun, additional projects atau percepatan ekspansi.
8. Pantau Utilization
Aset baru akan lebih bernilai jika benar-benar digunakan secara produktif. Karena itu, perhatikan apakah capacity utilization meningkat setelah investasi dilakukan.
Pahami CAPEX untuk Menilai Investasi Perusahaan
CAPEX bisa memberikan gambaran tentang bagaimana perusahaan menggunakan modal untuk mempertahankan atau mengembangkan bisnisnya.
Namun, CAPEX tinggi belum tentu selalu baik dan CAPEX rendah juga belum tentu berarti perusahaan lebih efisien. Investor perlu melihat tujuan pengeluaran, pertumbuhan revenue, free cash flow, ROIC, dan utilization aset untuk memahami hasil investasinya. Pasted markdown
Melalui Gotrade Indonesia, kamu bisa memantau berbagai saham AS sambil membandingkan CAPEX, cash flow, dan fundamental perusahaan yang sedang kamu pelajari.
Download Gotrade untuk mulai mengeksplorasi saham AS.
Referensi
IFRS Foundation. IAS 16 Property, Plant and Equipment.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.











