Apa Itu OPEX? Jenis, Contoh, dan Cara Menghitungnya

Ringkasan Gotrade
- OPEX (Operating Expense) adalah biaya yang digunakan perusahaan untuk menjalankan aktivitas operasional sehari-hari.
- Contoh OPEX meliputi gaji karyawan, biaya pemasaran, sewa, teknologi, dan administrasi.
- Investor dapat menggunakan OPEX untuk memahami efisiensi perusahaan melalui laporan keuangan.
- OPEX yang meningkat tidak selalu buruk karena dapat menunjukkan investasi perusahaan untuk pertumbuhan.
Saat memilih saham investor biasanya akan melihat pendapatan, laba bersih, dan pertumbuhan bisnis.
Tetapi, ada satu komponen penting dalam laporan keuangan yang perlu diperhatikan, yaitu OPEX (Operating Expense).
OPEX menunjukkan seberapa efisien perusahaan mengelola biaya operasionalnya untuk menghasilkan pendapatan.
Dua perusahaan bisa memiliki pendapatan yang sama tetapi perusahaan dengan biaya operasional yang lebih rendah berpeluang menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
Karena itu, memahami OPEX mampu membantu investor dalam menilai efisiensi dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan profit.
Apa Itu OPEX?
OPEX adalah singkatan dari Operating Expense atau Operating Expenditure yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menjalankan kegiatan operasional sehari-hari.
Secara sederhana, OPEX mencakup semua biaya yang diperlukan agar bisnis terus berjalan tetapi tidak digunakan untuk membeli aset baru yang memiliki manfaat jangka panjang.
Menurut CFI operating expenses merupakan biaya yang muncul dari aktivitas operasional utama perusahaan seperti biaya administrasi, penjualan, dan biaya umum yang diperlukan untuk menjalankan bisnis.
Mengapa OPEX Penting dalam Bisnis?
Setiap perusahaan membutuhkan biaya untuk menjalankan operasional dan menghasilkan produk atau layanan.
Tetapi, meningkatkan pendapatan saja tidaklah cukup. Perusahaan juga perlu memastikan biaya yang dikeluarkan sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Sebagai contoh:
Perusahaan A
Revenue: Rp10 miliar
OPEX: Rp7 miliar
Perusahaan B
Revenue: Rp10 miliar
OPEX: Rp4 miliar
Dengan pendapatan yang sama perusahaan B mampu memiliki biaya operasional yang jauh lebih efisien sehingga memiliki peluang untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
Tetapi, OPEX yang lebih rendah bukan berarti perusahaan akan lebih baik.
Beberapa bisnis memang membutuhkan biaya operasional yang lebih besar untuk mendukung pertumbuhan bisnisnya, seperti:
Perusahaan teknologi untuk meningkatkan biaya research & development.
Perusahaan retail untuk membuka cabang lebih banyak.
Perusahaan consumer goods digunakan untuk meningkatkan aktivitas pemasaran.
Karena itu, investor perlu melihat alasan di balik perubahan OPEX, bukan hanya apakah angkanya naik atau turun. OPEX yang meningkat bisa menjadi tanda inefisiensi, tetapi juga bisa menunjukkan perusahaan sedang berinvestasi untuk berkembang.
Contoh OPEX Berdasarkan Kategori
Setiap perusahaan memiliki jenis biaya operasional yang berbeda tergantung pada model bisnisnya. Tetapi, sebagian besar OPEX biasanya berasal dari biaya yang diperlukan untuk menjalankan aktivitas operasional.
Beberapa contoh kategori OPEX yang umum yaitu:
Kategori | Contoh Biaya |
Employee Expense | Gaji, bonus, tunjangan, dan biaya tenaga kerja |
Marketing Expense | Iklan, promosi, campaign, dan aktivitas pemasaran |
Rent Expense | Sewa kantor, toko, gudang, atau fasilitas operasional |
Utility Expense | Listrik, internet, air, dan kebutuhan utilitas lainnya |
Technology Expense | Software, cloud service, dan sistem pendukung bisnis |
Maintenance Expense | Perawatan mesin, peralatan, atau aset operasional |
Administrative Expense | Biaya legal, accounting, insurance, dan kebutuhan administrasi |
Contoh OPEX Berdasarkan Industri
Besarnya dan jenis OPEX bisa berbeda tergantung pada model bisnis perusahaan. Perusahaan teknologi, retail, dan manufaktur biasanya memiliki kebutuhan operasional yang berbeda sehingga komponen biaya yang dominan juga tidak sama.
1. Perusahaan Teknologi
Perusahaan teknologi biasanya memiliki OPEX yang besar pada tenaga kerja dan infrastruktur digital. Biaya operasionalnya mencakup gaji software engineer dan tim pengembangan produk, cloud computing, software subscription, serta customer support.
2. Perusahaan Retail
Perusahaan retail umumnya memiliki biaya operasional yang berkaitan dengan aktivitas toko dan distribusi. Contohnya adalah biaya sewa toko dan gudang, gaji pegawai, biaya distribusi, serta pemasaran dan promosi untuk menarik pelanggan.
3. Perusahaan Manufaktur
Perusahaan manufaktur membutuhkan OPEX untuk mendukung kegiatan produksi dan operasional sehari-hari. Beberapa contohnya adalah biaya perawatan mesin, administrasi, kebutuhan kantor, dan tenaga kerja pendukung.
Jenis-Jenis OPEX
Secara umum, biaya operasional (OPEX) dapat dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan bagaimana biaya tersebut berubah mengikuti aktivitas bisnis.
1. Fixed OPEX
Fixed OPEX adalah biaya operasional yang relatif tetap meskipun aktivitas bisnis mengalami perubahan.
Contohnya seperti sewa kantor, gaji karyawan tetap atau biaya software bulanan. Misalnya, perusahaan tetap perlu membayar sewa kantor setiap bulan meskipun penjualan sedang menurun.
2. Variable OPEX
Variable OPEX adalah biaya operasional yang berubah mengikuti tingkat aktivitas bisnis maka semakin besar aktivitas perusahaan semakin besar pula biaya yang dikeluarkan.
Contohnya seperti biaya pengiriman, komisi penjualan, dan biaya distribusi yang meningkat ketika jumlah penjualan bertambah.
3. Semi-Variable OPEX
Semi-variable OPEX merupakan biaya yang memiliki kombinasi antara komponen tetap dan variabel.
Contohnya seperti listrik, internet, dan biaya maintenance tertentu. Perusahaan tetap memiliki biaya dasar yang harus dibayar tetapi total biaya bisa saja meningkat ketika penggunaan atau saat aktivitas bisnis bertambah.
Cara Menghitung OPEX
Untuk menghitung OPEX kamu perlu menjumlahkan seluruh biaya yang digunakan perusahaan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.
Rumus OPEX adalah:
Total OPEX = Employee Cost + Marketing Cost + Rent Cost + Technology Cost + Other Operating Expenses
Dalam laporan keuangan perusahaan AS, OPEX biasanya mencakup biaya seperti Research & Development (R&D), Sales & Marketing, serta General & Administrative (G&A).
Sebagai contohnya, sebuah perusahaan teknologi memiliki biaya operasional dalam satu tahn seperti berikut ini:
Research & Development (R&D): US$500 juta
Sales & Marketing: US$300 juta
General & Administrative (G&A): US$150 juta
Cloud dan software: US$50 juta
Maka:
Total OPEX = US$500 juta + US$300 juta + US$150 juta + US$50 juta = US$1 miliar
Artinya, perusahaan tersebut telah mengeluarkan sekitar US$1 miliar untuk menjalankan aktivitas operasionalnya selama periode tersebut.
Untuk menghitung OPEX perusahaan lebih mudah dan melihat langsung dampaknya terhadap profitabilitas kamu bisa gunakan OPEX & Operating Margin Calculator berikut ini:
Peran OPEX dalam Laporan Keuangan
Investor biasanya biasanya bisa menemukan OPEX dalam laporan laba rugi (income statement) perusahaan.
Menurut SEC laporan laba rugi digunakan untuk menunjukkan pendapatan dan biaya perusahaan dalam suatu periode termasuk biaya yang berkaitan dengan aktivitas operasional.
Dalam laporan keuangan perusahaan AS, OPEX biasanya akan muncul dalam beberapa komponen seperti:
Selling Expense: Biaya yang berkaitan dengan aktivitas penjualan dan pemasaran.
General & Administrative Expense (G&A): Biaya operasional umum seperti administrasi, manajemen, dan kebutuhan kantor.
Research & Development Expense (R&D): Biaya untuk pengembangan produk dan inovasi.
Dengan melihat OPEX, investor bisa memahami bagaimana perusahaan mengelola pengeluarannya termasuk apakah biaya operasional meningkat, menurun atau menjadi lebih efisien dari waktu ke waktu.
Bagaimana Investor Menggunakan OPEX untuk Analisis Saham?
OPEX membantu investor melihat seberapa efisien perusahaan mengelola biaya operasionalnya. Beberapa hal yang dapat kamu iperhatikan antara lain:
1. Membandingkan Pertumbuhan OPEX dengan Revenue
Investor bisa melihat apakah biaya operasional tumbuh lebih cepat atau lebih lambat dibanding pendapatan.
Contoh:
Tahun 2024: Revenue US$100 juta, OPEX US$40 juta
Tahun 2025: Revenue US$130 juta, OPEX US$45 juta
Revenue naik 30% sementara OPEX hanya naik 12,5%. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin efisien karena pendapatan tumbuh lebih cepat daripada biaya operasional.
2. Melihat OPEX Ratio
Investor juga bisa menggunakan OPEX Ratio untuk mengukur seberapa besar pendapatan yang digunakan untuk biaya operasional.
Rumus OPEX Ratio:
OPEX Ratio = OPEX ÷ Revenue × 100%
Contohnya adalah:
Revenue US$1 juta dan OPEX US$300 ribu menghasilkan OPEX Ratio sebesar 30%. Artinya, 30% pendapatan perusahaan digunakan untuk biaya operasional.
Rasio ini sebaiknya kamu bandingkan dengan perusahaan sejenis dan tren historis perusahaan.
3. Memahami Penyebab OPEX Naik
Kenaikan OPEX tidak selalu berarti buruk. Biaya yang meningkat karena ekspansi, seperti membuka cabang baru, meningkatkan pemasaran atau menambah tim bisa menjadi investasi untuk pertumbuhan.
Tetapi, jika OPEX meningkat tanpa diikuti pertumbuhan pendapatan hal tersebut bisa menjadi tanda adanya inefisiensi.
Perbedaan CAPEX vs OPEX
OPEX sering dibandingkan dengan CAPEX (Capital Expenditure) karena keduanya sama-sama merupakan pengeluaran perusahaan. Namun, keduanya memiliki tujuan yang berbeda perhatikan tabel berikut ini:
OPEX | CAPEX | |
Tujuan | Mendukung operasional sehari-hari | Membeli atau meningkatkan aset jangka panjang |
Periode manfaat | Biasanya digunakan dalam periode berjalan | Memberikan manfaat dalam jangka panjang |
Contoh | Gaji, listrik, sewa, software | Gedung, mesin, kendaraan, peralatan |
Dampak | Dicatat sebagai biaya operasional | Dicatat sebagai investasi aset |
Sebagai contoh ketika perusahaan membeli komputer untuk karyawan maka pembelian komputer tersebut termasuk CAPEX karena merupakan aset yang digunakan dalam jangka panjang.
Sementara itu, biaya maintenance, perbaikan atau langganan software untuk komputer tersebut termasuk OPEX karena digunakan untuk mendukung operasional sehari-hari.
Apakah OPEX Tinggi Berarti Saham Perusahaan Buruk?
Tidak selalu. OPEX yang tinggi bukan berarti perusahaan memiliki kinerja yang buruk. Dalam beberapa kasus, biaya operasional yang besar justru menunjukkan perusahaan sedang berinvestasi untuk pertumbuhan.
Contohnya ketika perusahaan teknologi meningkatkan OPEX untuk merekrut engineer, memperbesar aktivitas Research & Development (R&D) atau membangun infrastruktur digital.
Meskipun biaya meningkat dalam jangka pendek, strategi tersebut mampu membantu perusahaan meningkatkan pendapatan di masa depan.
Karena itu, investor tidak cukup hanya melihat besar kecilnya OPEX saja. OPEX perlu dianalisis bersama faktor lain seperti pertumbuhan revenue, profit margin, dan strategi bisnis perusahaan.
Pahami OPEX Sebelum Menilai Kinerja Perusahaan
OPEX membantu investor memahami bagaimana perusahaan mengelola biaya untuk menjalankan bisnisnya.
Biaya seperti gaji, pemasaran, sewa, teknologi, dan administrasi menjadi bagian penting dalam melihat efisiensi operasional perusahaan.
Tetapi, OPEX tidak bisa dinilai hanya dari besar atau kecilnya angka saja. Biaya yang tinggi bisa menjadi tanda ekspansi dan investasi untuk pertumbuhan sementara biaya yang rendah bukan berarti perusahaan lebih baik.
Karena itu, investor perlu melihat bagaimana OPEX berubah dari waktu ke waktu membandingkannya dengan pertumbuhan revenue, profit margin, serta strategi bisnis perusahaan.
Dengan memahami OPEX, investor bisa memiliki gambaran yang lebih lengkap sebelum menganalisis saham.
Kamu bisa menggunakan Gotrade untuk memantau saham AS yang sedang dipelajari, melihat laporan keuangan perusahaan serta membandingkan kinerja bisnis sebelum mengambil keputusan investasi.
Buka akun Gotrade dan mulai analisis saham AS yang ingin kamu pelajari!
Referensi
Corporate Finance Institute (CFI). “Operating Expenses: Definition, Example, Type, Explain.”
U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), “Company Financial Filing – Operating Costs and Expenses Disclosure.”
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














