Bahkan model yang dibuat dengan baik tetap bisa menghasilkan nilai yang berbeda ketika asumsi yang digunakan berubah.
Dua analis bisa saja menilai perusahaan yang sama tetapi mendapatkan hasil berbeda karena menggunakan asumsi pertumbuhan, margin, discount rate atau perusahaan pembanding yang tidak sama.
Dalam materi Damodaran on Valuation pendekatan valuasi dibedakan menjadi discounted cash flow dan relative valuation.
DCF ini menghubungkan nilai perusahaan dengan estimasi cash flow di masa depan dan tingkat risikonya sedangkan relative valuation melihat bagaimana pasar memberikan valuasi terhadap perusahaan atau aset yang sebanding.
Karena itu, valuasi tidak perlu diperlakukan sebagai upaya mencari satu harga yang pasti benar hingga dua angka di belakang koma yang lebih penting adalah kamu bisa memahami beberapa hal berikut ini:
Asumsi apa yang digunakan dalam perhitungan
Estimasi nilai yang masih masuk akal
Seberapa besar hasil valuasi berubah ketika asumsi utama berubah
Ekspektasi apa yang sudah tercermin dalam harga saham saat ini
Rapikan Data Keuangan Sebelum Mulai Valuasi
Kesalahan valuasi sering dimulai dari data yang digunakan bahkan sebelum rumus mulai untuk dihitung.
Menurut SEC, laporan tahunan Form 10-K memuat laporan keuangan perusahaan termasuk income statement, balance sheet, cash flow statement dan informasi pendukung lainnya.
Laporan keuangan tahunan dalam 10-K juga melalui audit oleh auditor independen.
Untuk valuasi saham AS, kamu bisa menggunakan Form 10-K sebagai sumber data tahunan dan Form 10-Q untuk melihat perkembangan pada periode kuartalan.
Beberapa data yang biasanya perlu disiapkan antara lain adalah:
Pendapatan.
Operating income.
Net income.
EPS.
EBITDA jika dibutuhkan.
Operating cash flow.
Capital expenditure.
Kas.
Utang.
Diluted shares.
Estimasi pertumbuhan.
Kamu tidak bisa langsung menggunakan angka dari satu periode tanpa melihat apa yang terjadi di baliknya. Misalnya saat laba perusahaan melonjak karena penjualan aset yang hanya terjadi sekali.
Jika angka tersebut langsung digunakan untuk menghitung P/E maka valuasi saham bisa terlihat lebih rendah dibandingkan kondisi bisnis normalnya.
Dalam kondisi seperti ini, kamu kondisi ini kamu bisa mempertimbangkan normalized earnings dengan memisahkan pendapatan atau biaya material yang sifatnya tidak berulang.
4 Cara Menghitung Valuasi Saham
Tidak ada satu metode valuasi yang cocok bagi semua perusahaan.
P/E dan P/B menggunakan pendekatan relatif sedangkan EV/EBITDA melihat nilai bisnis dengan mempertimbangkan struktur modal dan DCF memperkirakan nilai berdasarkan cash flow masa depan.
Karena masing-masing metode melihat perusahaan dari sudut pandang yang berbeda maka kamu perlu membaca hasilnya bersamaan dengan karakter bisnis dan kondisi keuangannya.
1. P/E untuk Membandingkan Harga dengan Laba
Price-to-Earnings Ratio bisa dihitung menggunakan rumus:
P/E = Harga Saham ÷ EPS
Sebagai contoh:
Harga saham: US$50.
EPS: US$2,50.
Maka hasilnya:
P/E = US$50 ÷ US$2,50 = 20x
Artinya, pasar bisa memberikan valuasi sekitar 20 kali laba per saham saat ini. Tetapi, angka 20x belum cukup untuk menentukan apakah saham tersebut bisa disebut murah atau mahal.
Kamu masih perlu membandingkan dengan perusahaan yang memiliki bisnis, pertumbuhan, margin, risiko dan struktur keuangan yang relatif sebanding.
Misalnya, EPS normalisasi perusahaan adalah US$3 dan perusahaan sejenis diperdagangkan pada P/E 18 sampai 22 kali.
Maka estimasi nilai relatifnya:
18 × US$3 = US$54 hingga 22 × US$3 = US$66
Pendekatan P/E memberikan estimasi harga mulai dari US$54 sampai US$66. Angka tersebut bukanlah intrinsic value tetapi estimasi nilai relatif berdasarkan multiple yang digunakan.
P/E juga kurang informatif ketika perusahaan sedang merugi, terdapat keuntungan satu kali, EPS berubah besar akibat buyback/dilusi atau struktur utang perusahaan yang dibandingkan sangat berbeda.
2. P/B untuk Melihat Harga terhadap Nilai Buku
Price-to-Book Ratio dihitung menggunakan rumus:
P/B = Harga Saham ÷ Book Value per Share
Untuk rumus book value per share adalah:
Book Value per Share = Ekuitas Pemegang Saham ÷ Jumlah Saham
Misalnya adalah:
Maka:
P/B = US$15 ÷ US$10 = 1,5x
Apakah 1,5x berarti harga sahamnya mahal? Belum tentu.
Book value memiliki arti yang berbeda pada setiap jenis bisnis. Pada perusahaan dengan aset berwujud yang besar, book value menjadi metrik yang lebih relevan dibandingkan dengan bisnis yang sebagian besar nilainya berasal dari aset tidak berwujud.
Hubungan antara laba, book value dan nilai ekuitas juga telah lama dibahas dalam penelitian valuasi.
Menurut penelitian yang berjudul Earnings, Book Values, and Dividends in Equity Valuation laba dan nilai buku digunakan sebagai bagian dari kerangka untuk memahami nilai ekuitas pada perusahaan.
P/B di bawah 1 bukan berarti saham sedang diskon. Valuasi rendah juga bisa berkaitan dengan ROE yang lemah, kualitas aset yang diragukan, kerugian bisnis, risiko kredit atau ekspektasi penurunan pada book value.
3. EV/EBITDA Bukan Untuk Melihat Nilai Bisnis Secara Lebih Utuh
P/E hanya berfokus pada nilai ekuitas sedangkan EV/EBITDA menggunakan enterprise value sehingga utang dan kas ikut akan ikut untuk diperhitungkan.
Rumusnya adalah:
Enterprise Value = Market Cap + Debt − Cash
Selanjutnya:
EV/EBITDA = Enterprise Value ÷ EBITDA
Sebagai Contoh:
Market cap: US$8 miliar.
Utang: US$3 miliar.
Kas: US$1 miliar.
Maka enterprise value akan menjadi:
US$8 miliar + US$3 miliar − US$1 miliar = US$10 miliar
Jika EBITDA perusahaan sebesar US$1 miliar maka:
EV/EBITDA = 10x
EV/EBITDA membantu kamu untuk membandingkan perusahaan dengan struktur utang yang berbeda. Tetapi, EBITDA bukanlah cash flow.
Metrik ini belum memperhitungkan kebutuhan capital expenditure, perubahan working capital, bunga dan juga pajaknya.
Bisnis yang membutuhkan investasi besar setiap tahun bisa terlihat murah berdasarkan EV/EBITDA meskipun free cash flow-nya lemah.
4. DCF Untuk Memperkirakan Nilai dari Cash Flow Masa Depan
Discounted Cash Flow atau DCF digunakan untuk menjawab berapa nilai sekarang dari cash flow yang mungkin dihasilkan bisnis pada masa depan.
Untuk pendekatan Free Cash Flow to Firm atau FCFF rumus yang digunakan adalah:
Enterprise Value = PV dari FCFF Periode Proyeksi + PV dari Terminal Value
Salah satu cara menghitung terminal value adalah menggunakan metode perpetual growth:
TV = FCFF Tahun Berikutnya ÷ (WACC − g)
Keterangan:
Satu hal penting yang perlu kamu perhatikan dalam perhitungan DCF adalah jenis cash flow dan tingkat diskonto yang harus konsisten.
Jika kamu menggunakan FCFF maka tingkat diskonto yang sesuai adalah WACC dan hasil awalnya berupa enterprise value.
Sementara itu cash flow to equity bisa menggunakan cost of equity untuk memperoleh equity value.
Berdasarkan materi Discounted Cash Flow Valuation menjelaskan bahwa penting untuk mencocokkan jenis cash flow dengan tingkat diskonto yang sesuai. Jika kedua hal ini memiliki ketidaksesuaian maka hasil valuasi bisa menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Contoh Cara Menghitung DCF hingga Nilai per Saham
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki proyeksi Free Cash Flow to Firm atau FCFF selama lima tahun seperti berikut ini:
Tahun | FCFF |
1 | US$105 juta |
2 | US$112 juta |
3 | US$120 juta |
4 | US$128 juta |
5 | US$136 juta |
Asumsi yang digunakan adalah:
WACC: 9%.
Terminal growth: 3%.
Net debt: US$300 juta.
Diluted shares: 50 juta.
1. Hitung Terminal Value
Langkah pertama kamu perlu menghitung estimasi FCFF pada tahun ke-6 menjadi:
US$136 juta × 1,03 = US$140,08 juta
Lalu gunakan rumus perpetual growth untuk menghitung terminal value:
Terminal Value = US$140,08 juta ÷ (9% − 3%)
Maka hasilnya adalah:
US$2,33 miliar
2. Hitung Enterprise Value
Selanjutnya seluruh FCFF tahun pertama hingga kelima serta terminal value akan dimasukan kedalam didiskonto nilai sekarang menggunakan WACC 9%.
Berdasarkan perhitungan tersebut maka estimasi enterprise value akan menjadi sekitar:
US$1,98 miliar
3. Ubah menjadi equity value
Karena enterprise value mencerminkan nilai bisnis sebelum memperhitungkan klaim utang bersih maka kurangi net debt sebesar US$300 juta:
US$1,98 miliar − US$300 juta = sekitar US$1,68 miliar
Maka nilai ini merupakan estimasi equity value.
4. Hitung nilai per saham
Langkah terakhir kamu perlu membagi equity value dengan jumlah diluted shares:
US$1,68 miliar ÷ 50 juta saham = sekitar US$33,59 per saham
Hasil perhitungannya adalah US$33,59 terlihat seperti angka yang sangat tepat dan spesifik. Tetapi kenyataannya angka tersebut merupakan estimasi karena seluruh perhitungan DCF bergantung pada asumsi yang kamu gunakan.
Lihat Dampak Perubahan Asumsi pada Hasil DCF
Salah satu cara untuk memahami ketidakpastian dalam DCF adalah dengan melakukan sensitivity analysis. Caranya adalah ubah beberapa asumsi utama yang kamu gunakan dan lihat seberapa besar dampaknya terhadap estimasi nilai per saham.
Sebagai contoh dengan proyeksi FCFF lima tahun yang sama. Maka hasilnya bisa berubah menjadi berikut ini:
WACC | Terminal Growth | Estimasi Nilai per Saham |
8% | 3% | US$41,64 |
9% | 3% | US$33,59 |
10% | 3% | US$27,85 |
9% | 2% | US$29,01 |
Hasilnya adalah tidak ada perubahan proyeksi bisnis selama lima tahun pertama perbedaan yang terjadi hanya berasal dari WACC dan asumsi pertumbuhan jangka panjang.
Meski begitu, estimasi nilai per saham bergerak dari sekitar US$28 menjadi US$42.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan asumsi yang relatif kecil mampu memberikan dampak besar pada hasil DCF.
Karena itu, DCF lebih berguna jika dibaca sebagai estimasi valuasi daripada menganggap US$33,59 sebagai satu harga yang sudah pasti benar.
Kamu juga bisa menggunakan kalkulator di bawah ini untuk mencoba berbagai skenario valuasi saham berdasarkan asumsi yang kamu tentukan.
Gunakan Valuasi sebagai Estimasi Bukannya Angka Pasti
Cara menghitung valuasi saham tidak hanya menggunakan P/E, P/B atau memasukkan angka ke dalam spreadsheet DCF.
Kamu bisa mulai dari kualitas datanya seperti normalisasi laba, periksa cash flow, utang, kas dan jumlah saham. Kemudian kamu bisa pilih metode valuasi yang sesuai dengan karakter bisnis.
P/E dan metode multiple membantu kamu melihat bagaimana pasar menilai perusahaan dibandingkan perusahaan sejenis. Sementara itu, DCF berguna untuk menghubungkan valuasi dengan proyeksi cash flow, pertumbuhan dan tingkat risiko yang kamu gunakan.
Namun, hasil valuasi sebaiknya tidak digunakan sebagai satu harga yang pasti gunakan valuasi sebagai estimasi untuk harga saham.
Kamu juga bisa gunakan beberapa skenario untuk mendapatkan estimasi valuasi yang lebih masuk akal sekaligus memahami asumsi apa yang paling mempengaruhi hasil perhitungan.
Kamu bisa menggunakan Gotrade untuk memantau saham AS, lalu membandingkan harga pasar dengan hasil valuasi serta perkembangan fundamental perusahaan sebelum menentukan keputusan investasi.
Disclaimer: Estimasi valuasi sangat bergantung pada asumsi dan tidak menjamin harga pasar akan bergerak menuju nilai yang dihitung. Materi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.