7 Indikator Keuangan Saham Penting untuk Analisis Fundamental

Atalya WianAtalya WianHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

7 Indikator Keuangan Saham Penting untuk Analisis Fundamental

Daftar rasio keuangan mungkin terasa seperti hafalan jika kamu baru mulai belajar analisis fundamental saham. Return on equity (ROE) yang tinggi sering dianggap baik, P/E yang rendah dianggap murah, dan utang yang rendah dianggap aman.

Masalahnya, analisis fundamental tidak sesederhana itu. Sebuah angka baru benar-benar berguna jika kamu memahami alasan di balik perubahannya dan bagaimana posisinya dibandingkan dengan perusahaan sejenis.

Daripada menghafal angka yang dianggap “ideal”, mari lihat tujuh metrik yang dapat membantu menjawab pertanyaan yang lebih penting: apakah bisnisnya berkembang, menghasilkan laba secara efisien, memiliki struktur keuangan yang sehat, dan dihargai secara wajar oleh pasar?

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Sebelum Menghitung Rasio, Cek Sumber Datanya

Sebelum menghitung rasio, pastikan untuk memeriksa sumber datanya. Rasio keuangan hanya akan bermanfaat jika angka yang digunakan berasal dari sumber yang tepat dan dibaca dalam konteks yang sesuai.

Untuk saham di Amerika Serikat, mulailah dengan laporan resmi perusahaan. Laporan tahunan dan laporan keuangan yang telah diaudit dimuat dalam formulir 10-K, sedangkan formulir 10-Q memberikan informasi keuangan kuartalan.

Jangan hanya mengambil satu angka dari screener. Catatan laporan keuangan juga penting karena dapat menjelaskan perubahan akuntansi, transaksi satu kali, utang, buyback, atau faktor lain yang membuat rasio terlihat berbeda dari kondisi bisnis normal.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

7 Indikator Keuangan dalam Analisis Fundamental Saham

Dalam analisis fundamental saham, ada beberapa indikator keuangan yang menjawab pertanyaan berbeda. Karena itu, gunakan masing-masing indikator untuk melihat aspek yang berbeda dari kondisi perusahaan.

1. Pertumbuhan pendapatan

Pertumbuhan pendapatan menunjukkan perubahan jumlah pendapatan yang dihasilkan perusahaan dari aktivitas bisnisnya sebelum dikurangi berbagai biaya.

Pertumbuhan Pendapatan = (Pendapatan Periode Ini - Pendapatan Periode Sebelumnya) / Pendapatan Periode Sebelumnya × 100%

Pertumbuhan pendapatan yang konsisten dapat menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk atau layanan perusahaan terus meningkat.

Meskipun demikian, jangan berhenti pada angka pertumbuhan. Lihat juga apakah pertumbuhan berasal dari kenaikan harga, peningkatan volume penjualan, akuisisi perusahaan lain, atau faktor lainnya.

2. Laba per lembar saham

Laba per lembar saham, atau Earnings per Share (EPS), menunjukkan laba yang tersedia untuk setiap lembar saham.

EPS = Laba yang Tersedia bagi Pemegang Saham Biasa / Rata-Rata Tertimbang Saham Beredar

Peningkatan tren EPS dapat menjadi sinyal positif karena laba yang dihasilkan untuk setiap saham meningkat.

Namun, EPS dan jumlah saham beredar perlu dipertimbangkan bersamaan. Buyback dapat meningkatkan EPS karena jumlah saham berkurang, meskipun laba perusahaan tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Perhatikan juga diluted EPS untuk perusahaan dengan opsi saham atau instrumen lain yang berpotensi menambah jumlah saham beredar.

3. Net profit margin

Net profit margin, atau NPM, menunjukkan berapa bagian pendapatan yang akhirnya menjadi laba bersih.

NPM = Laba Bersih / Pendapatan × 100%

Jika perusahaan memiliki pendapatan US$10 miliar dan laba bersih US$1 miliar, maka NPM-nya adalah 10%.

Namun, jangan membandingkan margin perusahaan dari industri yang sangat berbeda. Perusahaan software, misalnya, memiliki struktur margin yang berbeda dari retailer seperti Walmart.

Yang lebih penting adalah melihat apakah margin membaik atau melemah dan bagaimana posisinya dibandingkan dengan pesaing langsung.

Menilai perubahan margin dan posisinya dibandingkan dengan pesaing langsung adalah hal yang lebih penting.

4. Return on Equity (ROE)

Return on equity (ROE) adalah ukuran laba bersih perusahaan dibandingkan dengan ekuitas pemegang saham.

ROE = Laba Bersih / Rata-Rata Ekuitas Pemegang Saham × 100%

ROE yang tinggi dapat menunjukkan penggunaan modal yang efektif. Namun, tidak ada angka ROE yang otomatis dianggap “baik” untuk setiap perusahaan.

Utang dan buyback juga dapat mengurangi ekuitas sehingga ROE terlihat lebih tinggi. Karena itu, jika ROE meningkat, periksa apakah peningkatan tersebut berasal dari laba yang lebih kuat atau perubahan struktur modal.

5. Rasio utang terhadap ekuitas

Rasio D/E membandingkan jumlah utang perusahaan dengan ekuitas pemegang saham.

D/E = Total Utang / Ekuitas Pemegang Saham

Rasio yang tinggi tidak otomatis buruk, dan rasio yang rendah tidak otomatis baik. Perusahaan dengan arus kas stabil mungkin mampu memiliki utang lebih besar dibandingkan perusahaan dengan pendapatan yang sangat fluktuatif.

Perbandingan juga sebaiknya dilakukan dalam sektor yang sama. Misalnya, struktur neraca bank sangat berbeda dari struktur neraca perusahaan teknologi atau barang konsumen.

6. Arus kas bebas

Arus kas bebas atau Free Cash Flow (FCF) menunjukkan kas yang tersisa setelah perusahaan memenuhi kebutuhan belanja modalnya.

FCF = Arus Kas Operasi - Belanja Modal

FCF yang positif dan bertumbuh dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk membayar utang, melakukan buyback, membayar dividen, atau berinvestasi kembali. Namun, FCF negatif tidak selalu merupakan sinyal buruk.

7. Price to Earnings Ratio (P/E)

Price to Earnings Ratio (P/E) membandingkan harga saham dengan laba per saham atau EPS.

P/E = Harga Saham / EPS

Misalnya, jika harga saham US$100 dan EPS US$5, maka P/E-nya adalah 20x. Artinya, pasar menilai saham tersebut sebesar 20 kali laba per saham saat ini.

Meskipun demikian, P/E yang rendah tidak selalu berarti saham murah.

P/E dapat rendah karena pasar mengantisipasi penurunan laba. Sebaliknya, perusahaan yang terus berkembang sering memiliki P/E lebih tinggi karena investor mengantisipasi pertumbuhan laba di masa depan.

Karena itu, bandingkan P/E dengan perusahaan sejenis, histori valuasinya sendiri, dan prospek pertumbuhan laba.

Cara Membaca 7 Indikator Secara Bersamaan

Setelah memahami fungsi masing-masing indikator, langkah berikutnya adalah mengaitkan angka-angka tersebut untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang kondisi perusahaan.

Jangan melihat tujuh indikator ini sebagai tujuh lampu hijau atau merah yang berdiri sendiri.

Pertanyaan

Indikator yang Dicek

Apakah perusahaan tumbuh?

Pertumbuhan pendapatan, EPS

Apakah pertumbuhan menghasilkan laba?

NPM, ROE

Apakah neraca terlalu bergantung pada utang?

D/E

Apakah laba benar-benar menghasilkan kas?

Free Cash Flow

Apakah harga saham masuk akal?

P/E

Misalnya, sebuah perusahaan memiliki ROE yang tinggi dan EPS yang terus meningkat. Sekilas, kondisi ini terlihat menarik.

Namun, setelah dicek, utangnya meningkat cepat dan free cash flow terus melemah. Artinya, kondisi fundamentalnya belum tentu sekuat yang terlihat dari angka laba.

Sebaliknya, P/E yang tinggi juga tidak selalu berarti saham tersebut buruk. Investor perlu melihat apakah pertumbuhan pendapatan, EPS, margin, dan arus kas cukup kuat untuk mendukung valuasinya.

Kesalahan Membaca Rasio yang Sering Terjadi

Kesalahan dalam membaca rasio sering terjadi ketika investor terlalu fokus pada satu angka tanpa memahami konteks dan alasan di baliknya.

Salah satu kesalahan paling umum adalah mencari satu angka yang dapat memberikan jawaban “beli atau jangan beli”.

Hindari empat kebiasaan berikut:

  1. Menganggap saham dengan P/E rendah pasti murah.

  2. Membandingkan ROE atau margin perusahaan dari industri yang berbeda.

  3. Melihat EPS tanpa mempertimbangkan jumlah saham yang beredar.

  4. Memeriksa laba tanpa mempertimbangkan utang dan arus kas.

Analisis fundamental lebih tepat digunakan untuk mengumpulkan bukti tentang kondisi perusahaan, bukan sebagai alat untuk memprediksi harga saham.

Kesimpulan

Pada akhirnya, indikator keuangan lebih baik digunakan sebagai alat untuk menilai kualitas bisnis daripada sebagai sinyal beli atau jual yang berdiri sendiri.

Mempelajari metrik keuangan saham tidak berarti mencari ROE tertinggi atau P/E terendah. Tujuannya adalah memahami bagaimana sebuah perusahaan menghasilkan pendapatan, mengubahnya menjadi laba dan kas, mengelola utang, lalu membandingkan kualitas bisnis tersebut dengan harga sahamnya.

Mulailah dengan membaca tren dalam beberapa periode, membandingkannya dengan perusahaan sejenis, lalu mencari faktor yang berkontribusi terhadap perubahan angka. Dengan begitu, kamu tidak hanya bergantung pada satu rasio yang terlihat menarik saat membuat keputusan.

Kamu juga dapat menggunakan Gotrade untuk membangun watchlist dan memantau saham AS yang ingin dianalisis. Deposit minimum di Gotrade Indonesia adalah US$5, sementara saham AS fraksional tersedia mulai sekitar Rp15.000.

Kinerja di masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Selalu lakukan riset dan pahami risikonya sebelum membuat keputusan.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google
Atalya Wian
Ditulis oleh
Atalya Wian
Atalya adalah content marketer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga keuangan. Spesialis dalam penulisan topik bisnis, teknologi, dan keuangan untuk audiens profesional.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade