Setiap perusahaan pasti membutuhkan modal untuk membangun pabrik, mengembangkan produk, melakukan akuisisi dan membiayai operasional perusahaan.
Modal tersebut tidak diperoleh secara gratis oleh perusahaan ada kreditur yang mengharapkan bunga dan ada pemegang saham yang juga mengharapkan return sebanding dengan risiko bisnis yang ada.
Biaya dari seluruh sumber pendanaan ini dirangkum melalui weighted average cost of capital atau biasa disebut sebagai WACC.
Artikel ini akan membahas tentang apa arti dari WACC dan bagaimana investor dapat menggunakannya untuk menilai sebuah saham perusahaan.
Apa Itu Weighted Average Cost of Capital?
Weighted average cost of capital (WACC) adalah rata-rata tertimbang biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan untuk memperoleh modal dari utang dan ekuitas.
Pemegang saham pasti mengharapkan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasinya sedangkan pemberi pinjaman mengharapkan untuk menerima bunga.
Menurut Investopedia dalam perhitungan WACC, biaya utang dan ekuitas diberi bobot sesuai porsinya dalam struktur modal perusahaan.
Sebagai gambaran, berdasarkan data dari NYU Stern per Januari 2026 memperkirakan cost of capital industri komputer dan perangkat periferal di AS sebesar 9,71% berdasarkan hasil dari 36 perusahaan.
Sedangkan untuk industri bank regional memerlukan sebesar 4,98% dari 568 perusahaan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa WACC dapat bervariasi berdasarkan bentuk & risiko bisnis, struktur pendanaan, dan biaya modal setiap industri.
Bagi perusahaan, WACC menjadi acuan tingkat minimum return ketika mengevaluasi proyek investasi. Tetapi perusahaan masih perlu menyesuaikannya dengan tingkat risiko pada setiap proyek.
Bagi investor, WACC bisa membantu kamu menentukan discount rate dalam valuasi DCF sekaligus memahami biaya pendanaan perusahaan. Angka ini juga berguna untuk membandingkan pengembalian bisnis dengan biaya modalnya, serta melihat bagaimana perubahan suku bunga, pajak, dan struktur utang bisa mempengaruhi valuasi perusahaan.
Bagaimana Cara Kerja WACC?
WACC menghitung biaya modal perusahaan dengan menggabungkan biaya ekuitas dan biaya utang sesuai porsinya dalam struktur pendanaan.
Setiap sumber modal memiliki biaya yang berbeda karena pemegang saham dan kreditur menanggung tingkat risiko yang berbeda.
Pemegang saham menyediakan ekuitas dan mengharapkan return sebagai kompensasi atas risiko kepemilikan. Sementara kreditur menyediakan utang dan memperoleh bunga serta pengembalian pokok pinjaman.
Jika 70% modal perusahaan berasal dari ekuitas dan 30% berasal dari utang berarti biaya ekuitas akan memiliki bobot lebih besar dalam perhitungan WACC.
Artinya, perubahan cost of equity akan memberikan pengaruh lebih besar pada hasil akhirnya.
Biaya utang juga biasanya dihitung setelah pajak karena beban bunga, dalam kondisi tertentu, dapat mengurangi penghasilan kena pajak pada perusahaan.
Karena itu, rumus WACC memperhitungkan manfaat pajak tersebut melalui komponen biaya utang setelah pajak.
Rumus WACC
Berikut ini adalah rumus dasar weighted average cost of capital beserta komponen yang digunakan dalam perhitungannya:
Bagian Rd × (1 − T) menunjukkan biaya utang setelah pajak.
Penyesuaian ini digunakan karena bunga utang pada kondisi tertentu dapat mengurangi penghasilan kena pajak perusahaan.
Jika perusahaan memiliki saham preferen atau sumber pendanaan lain, biaya dan bobotnya perlu ditambahkan sebagai komponen terpisah.
Komponen dalam Perhitungan WACC
WACC menggabungkan biaya ekuitas dan biaya utang berdasarkan porsinya dalam struktur modal perusahaan.
Berikut ini komponen yang perlu dihitung:
1. Nilai Pasar Ekuitas
Nilai pasar ekuitas biasanya dilihat dari kapitalisasi pasar perusahaan.
Kapitalisasi pasar = harga saham × jumlah saham beredar
Dalam perhitungan WACC kamu bisa menggunakan nilai pasar ekuitas bukan hanya angka ekuitas pemegang saham di laporan keuangan.
Nilai ekuitas pemegang saham mengikuti pencatatan akuntansi sedangkan WACC menggambarkan biaya modal berdasarkan penilain pasar saat ini.
2. Nilai Pasar Utang
Nilai pasar utang mencakup kewajiban berbunga seperti obligasi dan pinjaman perusahaan.
Jika obligasi perusahaan aktif untuk diperdagangkan maka nilai pasarnya dapat digunakan untuk memperkirakan total utang. Tetapi jika data tersebut sulit untuk ditemukan maka nilai buku utang bisa kamu gunakan sebagai pendekatan dengan mencantumkan keterbatasannya.
3. Cost of Equity
Cost of equity menunjukkan tingkat return minimum yang diharapkan investor saham karena menanggung risiko kepemilikan perusahaan. Salah satu metode yang umum digunakan adalah Capital Asset Pricing Model (CAPM)
Cost of equity = 4% + (1,2 × 6%) Cost of equity = 11,2%
Berdasarkan hasil perhitungan ini beta 1,2 menunjukkan perkiraan saham yang lebih sensitif terhadap pergerakan pasar dibandingkan saham dengan beta 1.
4. Cost of Debt
Cost of debt adalah tingkat return yang diminta kreditur untuk memberikan pendanaan kepada perusahaan.
Untuk obligasi yang diperdagangkan, biaya utang dapat diperkirakan menggunakan yield to maturity (YTM) bukan hanya melalui tingkat kupon. Biaya utang sebelum pajak kemudian disesuaikan dengan manfaat pajak bunga.
Rumusnya adalah:
Cost of debt setelah pajak = cost of debt sebelum pajak × (1 − tarif pajak)
Dengan contoh:
Biaya utang sebelum pajak: 8%
Tarif pajak marginal: 25%
Maka hasilnya adalah:
Cost of debt setelah pajak = 8% × (1 − 25%) Cost of debt setelah pajak = 6%
Angka 6% tersebut merupakan biaya utang setelah pajak. Jadi tidak perlu dikalikan kembali dengan faktor pajak dalam perhitungan berikutnya.
5. Tarif Pajak
Rumus WACC umumnya menggunakan tarif pajak marginal perusahaan, bukannya langsung mengambil effective tax rate dari satu periode laporan keuangan.
Tarif pajak marginal ini digunakan untuk memperkirakan manfaat pajak dari beban bunga dalam perhitungan biaya utang setelah pajak. Tetapi tarif pajak, struktur modal target, beta dan biaya utang tetap membutuhkan sejumlah asumsi.
Menurut CFA Institute perbedaan asumsi dan metode dapat membuat dua analis menghasilkan estimasi WACC yang berbeda untuk perusahaan yang sama.
Contoh Cara Menghitung WACC
Misalkan sebuah perusahaan memiliki data sebagai berikut:
Market value of equity: US$600 juta.
Market value of debt: US$400 juta.
Cost of equity: 11,2%.
Cost of debt sebelum pajak: 8%.
Tarif pajak marginal: 25%.
Total modal:
V = US$600 juta + US$400 juta = US$1 miliar
Bobot ekuitas:
E ÷ V = 600 ÷ 1.000 = 60%
Bobot utang:
D ÷ V = 400 ÷ 1.000 = 40%
Masukkan ke rumus:
WACC = (60% × 11,2%) + (40% × 8% × 75%)
WACC = 6,72% + 2,40%
WACC = 9,12%
Artinya, rata-rata biaya modal perusahaan diperkirakan sebesar 9,12% per tahun.
Angka tersebut bukan berarti perusahaan selalu bisa memberikan return 9,12%.
WACC ini merupakan hurdle rate atau tingkat minimum yang perlu dilampaui oleh investasi perusahaan agar secara ekonomi perusahaan bisa menciptakan nilai.
Fungsi WACC dalam Valuasi Saham
WACC dapat membantu investor menilai biaya modal perusahaan dan melihat apakah bisnis mampu untuk menghasilkan return yang lebih tinggi daripada biaya pendanaannya.
Berikut beberapa penggunaan utamanya:
1. Menjadi Discount Rate dalam DCF
Dalam metode Discounted Cash Flow (DCF) arus kas masa depan perlu dikonversi menjadi nilai saat ini.
Untuk valuasi yang menggunakan Free Cash Flow to the Firm (FCFF), WACC digunakan sebagai discount rate.
Secara sederhana:
Nilai perusahaan = nilai sekarang dari FCFF masa depan
Semakin tinggi WACC maka semakin kecil nilai sekarang dari arus kas yang sama. Sebaliknya jika WACC yang lebih rendah maka akan menghasilkan estimasi nilai perusahaan yang lebih tinggi jika asumsi lain tidak berubah.
Menurut CFA Institute, dalam pendekatan valuasi berbasis FCFF, seluruh arus kas tersebut harus didiskontokan menggunakan WACC karena WACC mencerminkan biaya rata-rata dari seluruh sumber pendanaan perusahaan (utang dan ekuitas).
2. Mengevaluasi Proyek Perusahaan
Perusahaan bisa membandingkan estimasi return suatu proyek dengan WACC untuk menilai apakah proyek tersebut berpotensi menghasilkan nilai, seperti estimasi return proyek: 12% dan WACC perusahaan 9%.
Secara teori, proyek tersebut menghasilkan return 3 poin persentase diatas biaya modal perusahaan. Tetapi, keputusan investasi tidak cukup jika hanya berdasarkan perbandingan tersebut.
Perusahaan juga perlu memperhitungkan risiko operasional, kebutuhan modal, ketidakpastian proyeksi dan kemungkinan proyek tidak berjalan sesuai dengan rencana.
3. Membandingkan ROIC dengan WACC
Return on Invested Capital (ROIC) menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasi dari modal yang digunakan.
Secara umum dapat didefinisikan sebagai berikut:
ROIC lebih tinggi dari WACC berarti perusahaan berpotensi menciptakan nilai ekonomi.
ROIC sama dengan WACC artinya return yang dihasilkan kurang lebih menutupi biaya modal.
ROIC lebih rendah dari WACC berarti perusahaan berpotensi untuk mengurangi nilai ekonomi.
Misalnya, perusahaan memiliki ROIC 15% dan WACC 9%. Selisih keduanya adalah 6 poin persentase.
ROIC − WACC = 15% − 9% = 6%
Selisih positif ini dapat menunjukkan bahwa perusahaan menghasilkan return di atas biaya modalnya.
Tetapi, investor masih perlu memeriksa apakah ROIC tersebut konsisten, berasal dari kegiatan operasional yang berkelanjutan dan tidak hanya meningkat akibat faktor sementara.
Keterbatasan dan Kesalahan dalam Menggunakan WACC
Kesalahan kecil pada salah satu komponen dapat menghasilkan estimasi biaya modal dan valuasi yang berbeda. Beberapa hal berikut ini penting untuk kamu perhatikan:
1. Menggunakan Nilai Buku Ekuitas
Bobot ekuitas dalam WACC umumnya dihitung menggunakan kapitalisasi pasar, bukan hanya nilai shareholder equity dalam laporan keuangan.
Nilai buku mencerminkan pencatatan akuntansi, sedangkan kapitalisasi pasar menunjukkan penilaian investor saat ini.
Karena itu, penggunaan nilai buku dapat menghasilkan bobot modal yang kurang sesuai dengan kondisi pasar.
2. Menggunakan Tingkat Kupon sebagai Cost of Debt
Tingkat kupon menunjukkan bunga kontraktual yang dibayarkan perusahaan ketika obligasi telah diterbitkan.
Angka tersebut belum tentu mencerminkan biaya utang perusahaan berdasarkan harga dan kondisi pasar saat ini. Jika tersedia, yield to maturity biasanya dapat digunakan untuk memperoleh estimasi cost of debt yang lebih relevan.
3. Menghitung Manfaat Pajak Dua Kali
Rumus WACC menggunakan cost of debt sebelum pajak, kemudian menyesuaikannya satu kali dengan faktor (1 − tarif pajak).
Kesalahan dapat terjadi ketika analis menggunakan biaya utang setelah pajak, tetapi masih mengalikannya kembali dengan faktor tersebut.
Perhitungan ganda ini akan membuat biaya utang dan hasil WACC terlihat lebih rendah daripada seharusnya.
4. Menggunakan WACC untuk Arus Kas yang Salah
WACC umumnya digunakan untuk mendiskontokan Free Cash Flow to the Firm atau FCFF karena arus kas tersebut tersedia bagi pemegang saham dan kreditur.
Sementara itu, Free Cash Flow to Equity atau FCFE hanya tersedia bagi para pemegang saham.
Karena itu, FCFE biasanya didiskontokan menggunakan cost of equity, bukan WACC.
5. Menggunakan Satu WACC untuk Semua Proyek
Setiap proyek dapat memiliki lokasi, karakter bisnis dan juga tingkat risiko yang berbeda.
WACC perusahaan secara keseluruhan belum tentu cocok untuk proyek di negara lain atau lini bisnis baru yang jauh lebih berisiko.
Menggunakan tingkat diskonto yang sama untuk semua proyek dapat membuat risiko proyek tertentu terlihat terlalu rendah atau terlalu tinggi.
6. Menganggap Input WACC Bersifat Pasti
Beta historis dapat berubah, equity risk premium merupakan estimasi, nilai pasar utang bisa sulit diperoleh, dan struktur modal perusahaan juga dapat berubah.
Tarif pajak aktual juga bisa berbeda dari asumsi yang digunakan. Karena itu, dua analis dapat menghasilkan WACC berbeda untuk perusahaan yang sama.
7. Tidak Melakukan Sensitivity Analysis
Perubahan kecil pada WACC dan terminal growth rate dapat memberikan dampak besar terhadap hasil valuasi DCF.
Gunakan beberapa skenario untuk melihat rentang nilai, bukan hanya satu angka.
WACC juga kurang praktis untuk perusahaan dengan struktur keuangan yang sangat kompleks.
Maka dari itu gunakan juga WACC bersama analisis arus kas, ROIC, utang, prospek bisnis, dan metrik lain bukannya sebagai satu-satunya dasar dalam pengambilan keputusan.
Gunakan WACC dalam Konteks yang Tepat
Weighted average cost of capital adalah rata-rata biaya yang harus ditanggung perusahaan untuk memperoleh modal dari ekuitas dan utang.
Dalam analisis saham, WACC dapat digunakan sebagai discount rate untuk FCFF, acuan minimum return proyek, serta pembanding terhadap ROIC.
Namun, hasil perhitungannya bergantung pada asumsi cost of equity, cost of debt, tarif pajak, dan struktur modal.
Karena itu, gunakan beberapa skenario dan kombinasikan WACC dengan analisis arus kas, profitabilitas, neraca, serta kualitas bisnis.
Melalui Gotrade, kamu dapat memantau saham AS dan mempelajari fundamental perusahaan sesuai strategi investasimu.
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.