Passive Income: Arti, Contoh, dan Cara Membangunnya

Ringkasan Gotrade
- Passive income adalah penghasilan dari aset atau sistem yang tidak mengharuskan kamu bekerja langsung setiap kali pendapatan diterima.
- Passive income tetap membutuhkan modal, waktu, skill, atau usaha awal untuk membangun sumber penghasilannya.
- Contohnya antara lain dividen, pendapatan sewa, royalti, produk digital, dan bisnis yang sudah memiliki sistem.
- Dalam investasi saham, dividen dapat menghasilkan arus kas, sedangkan kenaikan harga saham lebih tepat disebut capital appreciation.
Passive income sering digambarkan sebagai uang yang tetap masuk ketika kamu sedang tidak bekerja. Gambaran tersebut ada benarnya, tetapi konsepnya tidak sesederhana mendapatkan uang tanpa melakukan apa pun.
Sebagian besar sumber passive income membutuhkan sesuatu di awal, seperti modal, waktu, keahlian, aset, atau sistem yang perlu dibangun terlebih dahulu. Setelah itu, sumber pendapatan tersebut dapat berjalan dengan keterlibatan yang relatif lebih rendah.
Lalu, apa itu passive income, apa saja contohnya, dan bagaimana cara membangunnya? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Passive Income?
Sebelum membahas passive income, kamu perlu memahami apa yang dimaksud dengan income. Secara sederhana, income adalah pendapatan atau penghasilan yang diperoleh seseorang maupun bisnis dari aktivitas atau sumber tertentu.
Sementara itu, passive income adalah penghasilan yang berasal dari aset atau sistem dan tidak mengharuskan kamu memberikan tenaga atau waktu secara langsung setiap kali pendapatan diterima.
Misalnya, seorang pekerja menerima gaji karena bekerja setiap bulan. Ini termasuk active income karena pendapatan berkaitan langsung dengan pekerjaan yang dilakukan.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki karya buku dapat memperoleh royalti setiap kali bukunya terjual, bahkan setelah proses penulisannya selesai. Royalti tersebut dapat menjadi salah satu bentuk passive income.
Namun, kata "passive" bukan berarti tidak membutuhkan usaha sama sekali. Sumber pendapatan pasif biasanya tetap membutuhkan modal atau pekerjaan pada tahap awal, kemudian pemeliharaan setelah sistemnya berjalan.
Bagaimana Passive Income Bekerja?
Cara kerja passive income biasanya dimulai dari suatu input awal yang kemudian menghasilkan pendapatan berulang.
Alurnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Modal atau usaha awal → aset atau sistem → menghasilkan nilai → menghasilkan pendapatan
Contohnya, kamu membuat e-book yang membutuhkan waktu beberapa minggu untuk ditulis. Setelah selesai, produk yang sama dapat dijual berulang kali tanpa harus menulis ulang setiap kali terjadi penjualan.
Hal serupa berlaku pada investasi. Kamu menggunakan modal untuk membeli aset tertentu, lalu aset tersebut bisa menghasilkan pembayaran seperti dividen atau bunga tergantung instrumennya.
Karena itu, passive income sebaiknya dipahami sebagai sebuah spektrum. Ada sumber yang hanya membutuhkan sedikit pemeliharaan, tetapi ada juga yang masih membutuhkan keterlibatan secara berkala.
Sumber Passive Income | Modal Awal | Usaha Awal | Pengelolaan Rutin |
Dividen saham | Relatif tinggi | Rendah | Rendah |
Properti sewa | Tinggi | Tinggi | Sedang |
Royalti | Waktu/skill | Tinggi | Rendah |
Produk digital | Waktu/skill | Tinggi | Sedang |
Bisnis dengan sistem | Modal/waktu | Tinggi | Sedang |
Perbedaan Passive Income dan Active Income
Perbedaan utama antara active income dan passive income terletak pada hubungan antara pekerjaan yang dilakukan dan pendapatan yang diterima.
Aspek | Active Income | Passive Income |
Sumber | Pekerjaan langsung | Aset atau sistem |
Ketergantungan pada waktu | Tinggi | Relatif lebih rendah |
Usaha awal | Bervariasi | Biasanya diperlukan |
Usaha berkelanjutan | Tinggi | Rendah hingga sedang |
Contoh | Gaji, freelance, honor | Dividen, sewa, royalti |
Active income bukan berarti lebih buruk dibandingkan passive income. Keduanya justru dapat saling melengkapi.
Bagi banyak orang, active income menjadi sumber modal pertama untuk membangun aset atau sistem yang nantinya dapat menghasilkan passive income.
Contoh Passive Income
Ada berbagai sumber passive income yang dapat dibedakan berdasarkan aset atau sistem yang menghasilkan pendapatan.
1. Dividen Saham
Dividen saham merupakan bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Menurut Investor.gov, dividen adalah bagian dari laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang saham.
Jika kamu memiliki saham perusahaan yang membagikan dividen, kamu bisa menerima pembayaran tanpa harus menjual saham tersebut.
Namun, tidak semua perusahaan membayar dividen. Jumlah dividen juga dapat berubah sesuai kebijakan dan kondisi perusahaan.
2. Pendapatan Sewa
Rumah, apartemen, kendaraan, atau aset lain dapat disewakan untuk menghasilkan pendapatan berkala.
Pendapatan sewa sering dianggap sebagai passive income, tetapi pemilik tetap perlu mempertimbangkan biaya perawatan, periode tanpa penyewa, pajak, dan pengelolaan aset.
3. Royalti
Penulis, musisi, fotografer, atau pemilik karya intelektual tertentu dapat memperoleh royalti ketika karya mereka digunakan atau dijual.
Pekerjaan terbesar biasanya dilakukan ketika menciptakan karya tersebut. Setelah itu, karya yang sama dapat menghasilkan pendapatan beberapa kali.
4. Produk Digital
E-book, template, course, software, hingga aset digital lainnya dapat dijual berulang kali setelah produknya selesai dibuat.
Walaupun demikian, produk digital masih bisa membutuhkan pemasaran, layanan pelanggan, serta pembaruan agar tetap relevan.
5. Bisnis dengan Sistem
Bisnis juga dapat menjadi relatif pasif apabila operasional sehari-harinya sudah dijalankan oleh sistem atau tim.
Namun, jika pemilik masih harus mengurus pelanggan, membuat produk, atau menjalankan hampir seluruh operasional sendiri, penghasilannya lebih tepat dianggap sebagai active atau semi-passive income.
Apakah Investasi Bisa Menjadi Passive Income?
Investasi dapat menjadi salah satu sumber passive income, tetapi tergantung dari mana return investasi tersebut berasal.
Hal ini penting karena keuntungan investasi tidak selalu sama dengan penghasilan pasif.
Dividen
Dalam saham, dividen menjadi contoh yang paling dekat dengan konsep passive income karena investor dapat menerima pembayaran tanpa menjual sahamnya.
Misalnya, kamu memiliki 100 lembar saham dan perusahaan membayar dividen US$1 per saham. Secara sederhana, kamu akan menerima US$100 sebelum mempertimbangkan pajak atau biaya lain yang berlaku.
Namun, perusahaan tidak memiliki kewajiban untuk terus membayar dividen dalam jumlah yang sama.
Distribusi ETF
Beberapa ETF juga memberikan distribusi kepada pemegang unitnya.
Menurut SEC melalui Investor.gov, distribusi dari fund dapat memberikan cash flow kepada investor, tetapi besar pembayaran dan hasil investasinya tetap dapat berubah.
Bagaimana dengan Kenaikan Harga Saham?
Kenaikan harga saham berbeda dari passive income.
Jika kamu membeli saham di harga US$100 dan nilainya meningkat menjadi US$120, terdapat kenaikan nilai sebesar US$20 atau capital appreciation.
Namun, keuntungan tersebut masih berupa kenaikan nilai aset selama saham belum dijual.
Investor.gov juga menjelaskan bahwa return saham dapat berasal dari dua sumber, yaitu kenaikan nilai investasi dan pembayaran seperti dividen.
Karena itu, penting membedakan:
Dividen = arus kas dari kepemilikan saham
Capital gain = keuntungan dari selisih harga jual dan harga beli
Keduanya dapat berkontribusi terhadap return investasi, tetapi mekanismenya berbeda.
Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Investasi Saham? Pahami Sebelum Mulai
Apa Manfaat Passive Income?
Membangun passive income dapat memberikan beberapa manfaat bagi kondisi keuangan.
1. Menambah Sumber Pendapatan
Kamu tidak harus bergantung pada satu sumber pendapatan saja. Penghasilan dari aset dapat menjadi tambahan terhadap gaji atau pendapatan utama lainnya.
2. Mengurangi Ketergantungan pada Waktu Kerja
Pada active income, pendapatan biasanya berhubungan erat dengan waktu yang digunakan untuk bekerja.
Passive income dapat membuat sebagian penghasilan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jumlah jam kerja.
3. Membantu Diversifikasi Sumber Penghasilan
Sama seperti diversifikasi dalam investasi, memiliki lebih dari satu sumber pendapatan dapat mengurangi ketergantungan pada satu sumber.
Namun, setiap sumber passive income tetap memiliki risiko masing-masing.
4. Membantu Membangun Aset Jangka Panjang
Sebagian strategi passive income juga melibatkan pembangunan aset, seperti portofolio investasi, bisnis, properti, atau intellectual property yang dapat digunakan dalam jangka panjang.
Cara Membangun Passive Income
Setelah memahami apa itu passive income, langkah berikutnya adalah menentukan sumber yang sesuai dengan kondisi kamu.
1. Tentukan Tujuan
Mulailah dengan menentukan berapa pendapatan tambahan yang ingin kamu bangun dan untuk tujuan apa.
Target yang spesifik akan membantu memperkirakan modal atau aset yang dibutuhkan.
2. Identifikasi Modal yang Kamu Miliki
Modal bukan hanya uang.
Kamu juga bisa memiliki modal berupa:
waktu
kemampuan
karya
properti
audiens
pengalaman
aset keuangan
Sumber passive income yang cocok akan berbeda untuk setiap orang.
3. Pilih Sumber yang Sesuai
Jika memiliki modal finansial, kamu dapat mempelajari aset seperti saham, obligasi, atau properti.
Jika modal utama kamu adalah keahlian, produk digital atau intellectual property mungkin lebih relevan.
4. Hitung Pendapatan Bersih
Jangan hanya melihat angka pendapatan kotor.
Gunakan perhitungan sederhana:
Pendapatan - biaya - pajak - maintenance = pendapatan bersih
Dengan begitu, kamu dapat mengetahui apakah suatu sumber pendapatan benar-benar memberikan hasil yang sesuai dengan modal dan usaha yang dibutuhkan.
5. Bangun Secara Bertahap
Passive income umumnya membutuhkan waktu untuk berkembang.
Mengejar return tinggi dalam waktu singkat tanpa memahami sumber dan risikonya justru dapat meningkatkan kemungkinan kerugian.
6. Evaluasi Secara Berkala
Meskipun disebut passive income, aset atau sistem tetap perlu diperiksa.
Kamu mungkin perlu menilai ulang biaya, performa aset, risiko, serta apakah sumber tersebut masih sesuai dengan tujuan keuangan.
Berapa Modal yang Dibutuhkan untuk Passive Income?
Besarnya modal bergantung pada target income dan tingkat hasil yang diharapkan.
Sebagai ilustrasi, kamu ingin memperoleh passive income:
Rp3 juta per bulan × 12 = Rp36 juta per tahun
Jika diasumsikan sebuah aset memberikan cash yield sebesar 4% per tahun:
Rp36 juta ÷ 4% = Rp900 juta
Artinya, secara matematis dibutuhkan modal sekitar Rp900 juta untuk menghasilkan Rp36 juta per tahun dengan yield 4%.
Namun, contoh tersebut hanya simulasi. Yield dapat berubah dan belum mempertimbangkan pajak, biaya, inflasi, maupun perubahan nilai aset.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Membangun Passive Income
Passive income tetap memiliki risiko. Beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan antara lain:
menganggap passive income berarti mendapatkan uang tanpa usaha
mengejar yield atau return tinggi tanpa memahami risikonya
mengabaikan pajak, biaya, dan maintenance
menganggap pendapatan akan selalu stabil
menempatkan terlalu banyak modal pada satu aset
menyamakan kenaikan nilai aset dengan cash flow
Investor.gov mengingatkan bahwa semua investasi memiliki risiko dan investor dapat kehilangan sebagian atau seluruh modal yang diinvestasikan.
Karena itu, jangan menilai sumber passive income hanya dari potensi pendapatannya. Perhatikan juga modal, risiko, biaya, dan tingkat keterlibatan yang masih dibutuhkan.
Jadi, Apa Itu Passive Income?
Passive income adalah penghasilan dari aset atau sistem yang tidak membuat pendapatan sepenuhnya bergantung pada pekerjaan langsung setiap kali uang diterima.
Namun, passive income bukan berarti uang datang tanpa usaha. Kamu biasanya tetap membutuhkan modal, waktu, keahlian, atau pekerjaan awal untuk membangun sumber pendapatan tersebut.
Jika memilih investasi sebagai salah satu caranya, pahami pula dari mana return berasal. Pada saham, misalnya, return dapat berasal dari perubahan harga dan, untuk perusahaan tertentu, pembayaran dividen.
Pantau saham dan ETF AS yang kamu pelajari di Gotrade, lalu lihat karakteristik dan risikonya sebelum mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














