Saham Undervalued: Ini Ciri hingga Cara Ceknya, Apakah Bagus?

Ringkasan
- Saham undervalued adalah saham yang harganya lebih rendah dari nilai intrinsiknya di pasar saham.
- Ciri-ciri saham undervalued antara lain rasio PER dan PBV lebih rendah dari rata-rata industri, sementara kinerja keuangannya tetap stabil atau bertumbuh.
- Cara sederhana mengetahui saham undervalued adalah menghitung nilai intrinsiknya, kemudian membandingkannya dengan harga pasar saat ini.
Saham undervalued menjadi salah satu saham yang menarik investor untuk dibeli. Namun, untuk mengetahui apakah sebuah saham benar-benar undervalued, sebaiknya investor memperkirakan nilai intrinsiknya terlebih dahulu.
Pasalnya, tidak semua saham undervalued otomatis bagus dibeli. Dalam hal ini, harga murah bisa juga mencerminkan masalah bisnis. Untuk itu pelajari pengertian apa itu Saham undervalue, ciri, hingga contohnya dalam artikel ini.
Pengertian Saham Undervalued
Secara sederhana, undervalued artinya "dinilai lebih rendah dari seharusnya". Dalam analisis fundamental, saham undervalued adalah saham yang diperdagangkan di harga pasar lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Nilai wajar sebenarnya dari perusahaan dilihat berdasarkan kondisi keuangan, arus kas, hingga prospek bisnisnya.
Contoh gambaran sederhana: Kalau nilai intrinsik saham perusahaan Z dihitung sebesar Rp1000 per lembar, tapi harga pasarnya saat ini hanya Rp800, maka saham tersebut bisa dikategorikan undervalued (pasar menghargainya lebih rendah dari nilai sebenarnya).
Konsep saham undervalued awalnya pada gagasan nilai intrinsik (intrinsic value) dan margin of safety yang diperkenalkan Benjamin Graham dan David Dodd dalam buku klasik Security Analysis (1934), yakni saat harga pasar sebuah saham berada di bawah taksiran nilai wajar bisnisnya.
Mengapa Saham Undervalue Bisa Terjadi?
Ada beberapa alasan sebuah saham bisa menjadi undervalued, secara umum yakni:
Sentimen pasar yang berlebihan → karena investor terlalu panik menilai berita sementara sehingga harga saham turun lebih dalam dari nilai wajarnya.
Perhatian pasar yang kurang → saham perusahaan yang jarang dibahas analis/investor bisa dihargai lebih rendah meski fundamentalnya masih baik.
Akibat sektoral atau kondisi ekonomi → ini dikarenakan dari tekanan suku bunga tinggi yang menekan harga saham meski kondisi perusahaan masih sehat.
Permintaan yang melambat sementara → penurunan permintaan produk/jasa yang disebabkan siklus bisnis bisa menekan harga saham meski bukan masalah jangka panjang.
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan perilaku investor. Dalam studi Lakonishok, Shleifer, dan Vishny (1994) di The Journal of Finance menemukan bahwa strategi value memberikan imbal hasil lebih tinggi karena memanfaatkan perilaku investor kebanyakan yang kurang optimal (cenderung mengekstrapolasi kinerja masa lalu secara berlebihan), dan bukan karena saham value secara fundamental lebih berisiko.
Ciri-ciri Saham Undervalued
Untuk mengenali ciri saham undervalued, kamu perlu memahami kombinasi antara data fundamental, valuasi, dan sentimen pasar. Berikut ciri umum untuk mengenali saham yang undervalued:
1. Rasio Price to Earnings (P/E) Lebih Rendah dari Rata-rata
Rasio P/E membandingkan harga saham dengan laba bersih per saham Earnings Per Share (EPS). Kalau P/E jauh lebih rendah dari rata-rata industri atau pesaingnya, ini bisa menandakan saham sedang undervalued.
Contoh: Sektor teknologi punya rata-rata P/E 25, sementara saham tertentu hanya 10, padahal pertumbuhannya masih stabil. Itu bisa menjadi sinyal undervalued.
2. Rasio Price to Book (P/B) Rendah
P/B dilakukan dengan mengetahui perbandingan harga saham dengan nilai buku perusahaan. Dalam hal ini rasio harus di bawah 1. Namun, kondisi ini tidak selalu artinya saham undervalued karena bisa saja mencerminkan masalah bisnis, kualitas aset, atau rendahnya tingkat pengembalian perusahaan.
3. Dividend Yield Relatif Tinggi
Dividend yield yang tinggi dibandingkan rata-rata historis atau perusahaan sejenis berpotensi menandakan undervalued. Utamanya, kalau perusahaan masih mampu membayar dividen secara berkelanjutan.
4. Fundamental Perusahaan Tetap Kuat
Saham yang harganya turun belum tentu punya bisnis yang memburuk, apalagi perusahaan masih mencatat laba yang stabil, arus kas sehat, dan utang yang terkendali. Untuk melihat apakah penurunan harga hanya dipengaruhi sentimen pasar atau memang ada masalah fundamental, hal ini perlu dianalisis lebih lanjut .
5. Sentimen Pasar
Tekanan atau sentimen negatif ke sektor atau perusahaan terkadang membuat harga saham turun lebih dalam dari kondisi fundamentalnya. Kalau, tekanan tersebut hanya bersifat sementara dan prospek bisnis tetap baik, kondisi ini dapat menjadi salah satu alasan saham terlihat relatif murah.
Cara Melihat Apakah Harga Saham Undervalue
Untuk melihat saham undervalued bisa dihitung dengan pendekatan nilai intrinsiknya. Begini rumus perhitungannya:
Nilai intrinsik = EPS × (1 + estimasi pertumbuhan laba) × PER acuan industri
Dalam hal ini, EPS adalah laba bersih per lembar saham. Pendekatan lain yang lebih mendalam bisa menggunakan metode discounted cash flow (DCF) dengan memperhitungkan proyeksi arus kas masa depan perusahaan.
2. Bandingkan Harga Pasar Saat Ini
Apabila hasil nilai intrinsik berada jauh di atas harga pasar saat ini. Artinya, saham tersebut berpotensi undervalued.
3. Bandingkan Rasio dengan Rata-rata Industri
Ketahui Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) saham tersebut. Pastikan memang lebih rendah dibanding rata-rata perusahaan sejenis di sektor yang sama (bukan dibandingkan sektor yang berbeda karakteristik).
4. Cek Tren Kinerja Perusahaan
Bukan terus menurun, laba dan pendapatan perusahaan pastikan stabil atau bertumbuh. Hal ini jadi pembeda utama antara undervalued sungguhan dan value trap.
Kalkulator Nilai Intrinsik Saham
Untuk membantu memperkirakan apakah harga saham berada di bawah nilai wajarnya, kamu bisa bisa menggunakan Kalkulator Nilai Intrinsik Saham di bawah ini.
Apa Saja Saham Undervalued di Tahun 2026?
Perlu diketahui, kalau status undervalued sebuah saham bisa berubah setiap hari karena mengikuti pergerakan harga pasar dan laporan terbaru keuangan. Artinya, saham yang undervalued hari ini bisa saja kembali ke harga wajar di minggu depan, maupun sebaliknya.
Jadi daftar statis akan cepat kedaluwarsa begitu dipublikasikan.Umumnya, daftar semacam ini disusun analis atau media keuangan dengan cara menjalankan kerangka screening. Misalnya dengan rasio PER/PBV rendah dibanding sektor, tren kinerja stabil hingga katalis pemulihan ke seluruh saham yang tercatat di bursa menggunakan alat stock screener.
Investor bisa melakukan hal ini secara mandiri, dengan langkah-langkah berikut secara umum:
Gunakan fitur screener yang tersedia di aplikasi sekuritas atau platform data pasar
Terapkan kriteria dari ciri saham undervalued
Lakukan riset lanjutan pada kandidat yang muncul (bukan langsung membeli hanya karena namanya ada di sebuah daftar "saham undervalued" di internet).
Contoh Saham Global yang Pernah Dinilai Undervalued oleh Pasar
Contoh saham global dalam daftar ini menunjukkan kalau saham yang mengalami tekanan harga tidak selalu bisnis yang buruk. Tapi perlu diingat kalau status undervalued tetap bergantung pada kondisi fundamental dan estimasi nilai wajar pada saat tersebut.
1. Apple (AAPL) di Awal 2000-an
Apple pernah diperdagangkan dengan valuasi sangat rendah, termasuk P/E sekitar 5,76 kali pada Desember 2000. Saat investor masih meragukan prospek bisnis perusahaan.
Namun, seiring perbaikan bisnis dan munculnya berbagai produk baru, termasuk iPod dan kemudian iPhone, kinerja serta valuasi Apple meningkat secara signifikan.
2. Amazon (AMZN) Setelah Gelembung dot-com
Saham Amazon sempat jatuh lebih dari 90% dari puncaknya setelah gelembung dot-com pecah. Kala itu perusahaan masih menghadapi kerugian dan keraguan investor, namun Amazon kemudian berhasil mengembangkan bisnis e-commerce dan layanan cloud hingga menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.
3. Meta Platforms (META) pada 2022
Pada 2022, Meta sempat mengalami tekanan besar hingga kehilangan sekitar 66,3% kapitalisasi pasarnya sepanjang tahun. Kemudian, perusahaan melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk restrukturisasi dan pengurangan sekitar 11.000 karyawan di mana ini membantu memperbaiki efisiensi bisnisnya.
Perbedaan Saham Undervalued, Overvalued, dan Value Trap
Bedanya saham undervalued dan overvalued dilihat dari nilai yang dihargainya. Dalam hal ini, saham undervalued merujuk ke aset yang dihargai di bawah nilai intrinsiknya.
Sementara, saham overvalued artinya saham yang dinilai terlalu tinggi dari harga pasarnya. Ini menunjukkan bahwa aset tersebut mungkin akan mengalami koreksi harga.
Saham undervalued berbeda dari saham overvalued (dihargai lebih tinggi dari nilai wajarnya) dan berbeda pula dari value trap (murah namun kinerjanya terus memburuk). Secara umum, berikut merupakan beberapa poin bedanya undervalued, overvalued, serta value trap:
Aspek | Undervalued | Overvalued | Value Trap |
Harga vs nilai intrinsik | Harga kurang dari nilai intrinsik | Harga lebih dari nilai intrinsik | Harga rendah, namun nilai intrinsiknya ikut menurun |
Dasar penilaian | Fundamental kuat, prospek bisnis baik, arus kas sehat | Harga terlalu tinggi, tidak sebanding dengan kinerja, valuasi mahal | Fundamental terus memburuk meski rasio valuasi terlihat murah |
Fundamental | Sehat, berpotensi tumbuh | Bisa sehat, namun ekspektasi pasar berlebihan | Terus memburuk, tanpa katalis pemulihan |
Potensi | Harga punya peluang naik menuju nilai wajarnya, bisa jadi peluang investasi | Peluang kenaikan lebih terbatas | Harga bisa terus turun karena memang mencerminkan pelemahan bisnis, bukan salah harga sementara |
Risiko | Nilai wajar bisa salah dihitung, kondisi bisnis bisa memburuk setelah dibeli | Harga bisa tetap mahal cukup lama, koreksi tidak selalu terjadi cepat | Investor terjebak mengira "murah" padahal penurunan harga justru wajar dan berkelanjutan |
Undervalued dan value trap seolah bisa terlihat "murah" di permukaan, namun bedanya ada pada arah fundamentalnya. Makanya, mengecek tren kinerja beberapa tahun terakhir jauh lebih penting daripada sekadar melihat rasio PER atau PBV yang rendah.
Di sisi lain, umumnya saham yang overvalued tidak bisa dibenarkan oleh prospek pendapatan atau rasio P/E-nya. Saham ini juga dinilai sering menarik investor yang ingin melakukan short selling dan mengambil keuntungan dari penurunan harga.
Baca Juga: Saham Overvalued Itu Baik atau Buruk? Ini Arti hingga Cara Melihatnya
Kelebihan dan Kekurangan Saham Undervalued
Kelebihan | Kekurangan |
Berpotensi menghasilkan keuntungan ketika harga saham kembali mendekati nilai wajarnya. | Tidak ada kepastian kapan pasar akan menyadari nilai wajar saham, hal ini membuat investor mungkin perlu menunggu lama. |
Punya margin of safety karena saham dibeli di bawah estimasi nilai wajarnya. | Berisiko menjadi value trap jika saham murah karena fundamental perusahaan memang memburuk. |
Cocok untuk investor yang punyai fokus jangka menengah hingga panjang. | Membutuhkan riset fundamental yang lebih mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. |
Apakah Saham Undervalued Bagus?
Saham undervalue fundamental bagus jika artinya harga murah yang disertai kinerja keuangan sehat dan prospek bisnis yang jelas. Mengapa? karena kondisi ini memang berpotensi menjadi peluang investasi yang baik.
Tapi, kalau saham yang sekadar "terlihat murah" tanpa fundamental yang kuat justru bisa menjadi jebakan yang merugikan dalam jangka panjang. Lalu, apakah saham undervalued wajib dibeli? tidak selalu, tergantung dilihat dari apakah saham tersebut benar-benar undervalued atau malah value trap.
Jadi, sebelum memutuskan membeli saham undervalued, pastikan sudah melalui kerangka screening lengkap di atas dan bukan sekadar tergoda oleh rasio PER atau PBV yang terlihat rendah sekilas.
Sudah Paham Saham Undervalued? Praktikkan Screening Saham AS lewat Gotrade
Kerangka mencari saham undervalued di atas bukan cuma berlaku untuk saham lokal, tapi prinsipnya juga sama dan bisa diterapkan pada saham-saham luar negeri seperti Amerika Serikat.
Bagi yang ingin mempraktikkan langsung analisis fundamental dasar pada saham dan ETF AS sebagai titik awal screening, aplikasi saham seperti Gotrade. Hal ini memungkinkan investor Indonesia mengakses data tersebut. Buka akun Gotrade sekarang dan mulai investasi saham AS dari $1.
Kesimpulan
Saham undervalued artinya saham yang harganya masih di bawah nilai wajar berdasarkan fundamental dan prospek bisnisnya. Investor yang menerapkan strategi value investing mencari momen seperti ini untuk membeli saham dengan harga diskon dan menjualnya saat pasar menyadari nilainya.
Ciri-ciri umum saham undervalued antara lain rasio P/E dan P/B rendah, dividend yield menarik, serta fundamental yang kuat meskipun harga sedang tertekan.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














