Kebijakan Moneter: Tujuan hingga Dampaknya bagi Perekonomian

Kholida QothrunnadaKholida QothrunnadaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Kebijakan Moneter: Tujuan hingga Dampaknya bagi Perekonomian

Ringkasan Gotrade

  • Kebijakan moneter adalah kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai mata uang dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
  • Moneter ekspansif mendorong aktivitas ekonomi, sedangkan kebijakan kontraktif membantu menahan inflasi.
  • Kebijakan moneter dapat memengaruhi bunga kredit, konsumsi, investasi, nilai tukar, pasar saham, dan inflasi.
  • Kebijakan moneter berbeda dari kebijakan fiskal dalam hal otoritas, instrumen, dan mekanisme pengaruhnya terhadap perekonomian.

Kebijakan moneter adalah salah satu kebijakan ekonomi yang berperan penting terhadap kondisi keuangan, daya beli, investasi, suku bunga, nilai tukar, hingga pasar saham. Saat bank sentral mengubah arah kebijakan, efeknya bisa sampai aktivitas ekonomi secara lebih luas.

Kebijakan moneter ditetapkan dan dilaksanakan oleh bank sentral. Lalu, apa itu kebijakan moneter pahami bagaimana cara kerjanya, hingga apa dampaknya bagi masyarakat maupun investor.

Pengertian Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dibuat bank sentral dalam memengaruhi kondisi moneter dan keuangan perekonomian. Utamanya melalui suku bunga, likuiditas, dan berbagai instrumen operasi moneter.

Baca juga: Indeks S&P 500: Karakteristik hingga Cara Investasinya

Di Indonesia, kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Bukan hanya berkaitan dengan jumlah uang beredar, praktik modern kebijakan moneter juga meliputi nilai tukar, ekspektasi masyarakat, dan transmisi ke sektor keuangan.

Dalam studi klasik Milton Friedman (1968) di American Economic Review, menjelaskan batas peran kebijakan moneter, di mana kebijakan moneter tidak bisa menahan tingkat pengangguran atau suku bunga pada level tertentu dalam jangka panjang (konsep natural rate, tanpa trade-off inflasi-pengangguran jangka panjang), tetapi ia bisa dan seharusnya menyediakan latar belakang moneter yang stabil serta mengendalikan inflasi.

Konsep Kebijakan Moneter

Secara umum, konsep kebijakan moneter bisa dipahami melalui rantai sederhana berikut:

Baca juga: Saham Undervalued: Ini Ciri hingga Cara Ceknya, Apakah Bagus?

Konsep kebijakan moneter.

Efek tersebut tidak terjadi secara instan. BI menjelaskan bahwa transmisi kebijakan moneter memiliki time lag. Artinya, perubahan kebijakan hari ini bisa membutuhkan waktu sebelum pengaruhnya terlihat penuh pada inflasi atau aktivitas ekonomi.

Tujuan Kebijakan Moneter

Dilansir laman Bank Indonesia, tujuan kebijakan moneter diatur dalam Pasal 7 Undang-undang (UU) No. 23 Tahun 1999 tentang BI yang telah beberapa kali diubah dan terakhir melalui UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Beberapa tujuan utama kebijakan moneter, di antaranya:

  • Menjaga stabilitas nilai Rupiah.

  • Memastikan sistem pembayaran tetap stabil.

  • Ikut menjaga stabilitas sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam hal ini, stabilitas nilai Rupiah yaitu menjaga agar harga barang dan jasa tetap stabil serta mempertahankan kestabilan nilai tukar Rupiah. Dalam kerangka terbaru BI, sasaran kebijakan moneter mencakup:

  • Inflasi yang rendah dan stabil.

  • Nilai tukar Rupiah yang stabil.

  • Cadangan devisa yang cukup.

Semuanya diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. BI juga menjelaskan bahwa stabilitas nilai Rupiah berkaitan dengan dua hal utama, yakni stabilitas harga barang/jasa, dan stabilitas nilai tukar terhadap mata uang negara lain.

Instrumen Kebijakan Moneter

Bank sentral membutuhkan instrumen untuk menerjemahkan keputusan kebijakan menjadi perubahan nyata di pasar keuangan. Instrumen kebijakan moneter BI meliputi instrumen pasar keuangan, BI-Rate, Giro Wajib Minimum (GWM), operasi moneter, dan operasi valuta asing. Instrumen tersebut digunakan untuk mengatur likuiditas, menjaga stabilitas nilai Rupiah, dan mendukung efektivitas kebijakan moneter.

Jenis Kebijakan Moneter

Secara umum, jenis kebijakan moneter dibedakan menjadi ekspansif dan kontraktif.

1. Kebijakan Moneter Ekspansif

Kebijakan moneter ekspansif adalah kebijakan yang diterapkan saat otoritas moneter ingin memberikan dorongan lebih besar kepada aktivitas ekonomi. Kebijakan ini dipakai saat aktivitas ekonomi melemah dan tekanan inflasi relatif rendah atau terkendali.

Secara sederhana alurnya:

Likuiditas ↑ → biaya dana cenderung ↓ → kredit & investasi berpotensi ↑ → permintaan ekonomi ↑

Dampaknya bisa berupa:

  • Biaya pinjaman yang lebih rendah.

  • Kredit lebih mudah berkembang.

  • Konsumsi meningkat.

  • Investasi perusahaan terdorong.

  • Aktivitas ekonomi meningkat.

Kebijakan ekspansif bisa berisiko jika stimulus terlalu besar, saat kapasitas ekonomi sudah tinggi, tekanan inflasi atau pelemahan nilai tukar bisa meningkat.

2. Kebijakan Moneter Kontraktif

Kebijakan moneter kontraktif yaitu kebijakan yang digunakan untuk mengurangi tekanan inflasi atau memperkuat stabilitas ekonomi dan keuangan. Salah satu cara yang paling mudah dipahami yaitu melalui kenaikan suku bunga kebijakan.

Kenaikan suku bunga membuat masyarakat lebih berhati-hati mengambil kredit, sedangkan perusahaan bisa menunda sebagian ekspansi yang membutuhkan pembiayaan. Konsekuensinya, kebijakan ini akan membantu mengendalikan inflasi, namun berpotensi menekan konsumsi dan investasi dalam jangka pendek.

Secara sederhana:

Likuiditas ↓ → biaya dana cenderung ↑ → kredit & permintaan berpotensi ↓ → tekanan inflasi ↓

Dalam Kebijakan Moneter, Inflasi Menjadi Perhatian

BI mengimplementasikan kerangka kerja kebijakan moneter dengan Inflation Targeting Framework (ITF). ITF merupakan framework tentang kisaran target sasaran inflasi yang hendak dicapai dalam beberapa periode kedepan. Hal ini diumumkan kepada publik sebagai perwujudan dari komitmen dan akuntabilitas bank sentral.

Inflasi yang terlalu tinggi bisa mengurangi daya beli masyarakat. Tapi, inflasi yang terlalu rendah atau bahkan deflasi berkepanjangan bisa menimbulkan masalah. Hal ini mencerminkan lemahnya permintaan.

Oleh sebab itu, fungsi bank sentral bukan sekadar berusaha membuat harga "tidak naik", melainkan menjaga stabilitas harga dalam kisaran yang dianggap konsisten dengan kondisi ekonomi.

Sebagai contoh terbaru, untuk 2026 dan 2027, BI mempertahankan sasaran inflasi 2,5% ± 1%. Pada RDG 18–19 Agustus 2026, BI juga mempertahankan BI-Rate di 5,75%.

Contoh Kebijakan Moneter

Contoh kebijakan moneter bisa dilihat dari keputusan Bank Indonesia sepanjang 2026. Pada April 2026, BI-Rate berada di 4,75%. Lalu, BI menaikkan BI-Rate menjadi 5,25% pada Mei, 5,50% pada Juni, dan 5,75% pada Juni, sebelum mempertahankannya pada Juli dan Agustus.

Keputusan tersebut dilakukan dalam konteks upaya memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dan menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2026–2027. Pada Agustus 2026, BI juga menekankan penguatan strategi stabilisasi nilai tukar, pengelolaan struktur suku bunga pasar uang, kecukupan likuiditas, serta pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

Dampak Kebijakan Moneter terhadap Perekonomian

Dampak kebijakan moneter bisa berbeda tergantung arah kebijakan, kondisi ekonomi, dan seberapa kuat transmisi kebijakan berlangsung.

Aspek

Jika kebijakan lebih longgar

Jika kebijakan lebih ketat

Suku bunga

Cenderung turun

Cenderung naik

Kredit

Berpotensi meningkat

Berpotensi melambat

Konsumsi

Cenderung terdorong

Cenderung tertahan

Investasi

Berpotensi meningkat

Berpotensi melemah

Inflasi

Bisa meningkat

Cenderung ditekan

Pertumbuhan ekonomi

Berpotensi terdorong

Bisa melambat

Nilai tukar

Bergantung pada kondisi global/domestik

Dapat mendapat dukungan, tetapi tidak otomatis

Tabel tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kebijakan moneter yang memberikan satu dampak positif atau negatif secara universal. Kebijakan yang baik harus mempertimbangkan trade-off antara stabilitas harga, stabilitas nilai tukar, kondisi keuangan, dan pertumbuhan ekonomi.

Dampaknya bagi masyarakat

Bagi masyarakat, perubahan kebijakan moneter dapat terasa melalui cicilan kredit, bunga deposito, ketersediaan pembiayaan, daya beli, dan harga barang. Contohnya, saat suku bunga meningkat, cicilan pinjaman dengan bunga mengambang dapat menjadi lebih mahal. Di sisi lain, instrumen simpanan tertentu bisa menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik.

Dampaknya bagi bisnis

Perusahaan juga menghadapi perubahan biaya modal. Saat bunga tinggi, proyek ekspansi dengan kebutuhan utang besar dapat menjadi kurang menarik. Sebaliknya, ketika kondisi moneter lebih longgar, biaya pembiayaan yang lebih rendah dapat mendorong ekspansi.

Dampaknya bagi investor saham

Investor saham perlu memperhatikan kebijakan moneter karena perubahan suku bunga dapat memengaruhi biaya modal perusahaan, pertumbuhan laba, sentimen investor, hingga valuasi saham.

Saham dengan valuasi tinggi sering kali lebih sensitif terhadap perubahan tingkat diskonto, sedangkan sektor yang bergantung pada pembiayaan juga dapat merasakan dampak perubahan bunga. Tapi, hubungan ini tidak selalu satu arah. Kinerja perusahaan, prospek laba, kondisi ekonomi global, harga komoditas, serta sentimen pasar tetap berperan.

Perbedaan Kebijakan Moneter dan Fiskal

Kebijakan moneter dan fiskal sama-sama digunakan untuk memengaruhi perekonomian, namun keduanya memiliki otoritas dan instrumen yang berbeda.

Pembeda

Kebijakan Moneter

Kebijakan Fiskal

Otoritas utama di Indonesia

Bank Indonesia

Pemerintah

Fokus

Kondisi moneter, suku bunga, likuiditas, stabilitas Rupiah

Pendapatan dan belanja negara

Instrumen

BI-Rate, operasi moneter, GWM, operasi valas, dll.

Pajak, belanja negara, subsidi, transfer, APBN

Sasaran

Stabilitas nilai Rupiah dan dukungan terhadap pertumbuhan berkelanjutan

Stabilitas ekonomi, pemerataan, layanan publik, dan pertumbuhan

Jalur pengaruh

Pasar uang dan keuangan

APBN, pajak, dan belanja pemerintah

Dalam kondisi ekonomi yang kompleks, kebijakan moneter dan fiskal bisa saling melengkapi. Kementerian Keuangan juga menjelaskan bahwa perbedaan utama keduanya terletak pada otoritas dan instrumen.










Dalam hal ini, kebijakan moneter berfokus pada suku bunga serta kondisi moneter, sementara kebijakan fiskal berhubungan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan pajak.

Eksplorasi saham AS dan ETF lewat Gotrade

Kalau kamu ingin mempelajari dampak kebijakan moneter sambil mengeksplorasi pasar saham Amerika Serikat, Gotrade menjadi wadah untuk akses ke ratusan saham AS dan investasi pecahan. Buka akun Gotrade sekarang dan mulai investasi saham AS dari $1.

Kesimpulan

Kebijakan moneter merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Di Indonesia, BI menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah, mengendalikan tekanan inflasi, menjaga kondisi moneter dan keuangan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Investor juga perlu memahami bagaimana kebijakan tersebut ditransmisikan ke suku bunga, kredit, nilai tukar, inflasi, dan pasar aset. Bagi investor saham, perubahan kebijakan moneter dapat menjadi salah satu konteks penting untuk membaca valuasi dan sentimen pasar. Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan fundamental aset, valuasi, diversifikasi, horizon investasi, hingga profil risiko.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Kholida Qothrunnada
Ditulis oleh
Kholida Qothrunnada
Kholida Qothrunnada adalah editor sekaligus konten strategis dengan latar belakang pendidikan Ilmu Komunikasi, konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman 4+ tahun sebagai reporter ekonomi-bisnis di media nasional. Fokus topik dan minat: keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku