Apa Itu Margin Call? Alasan, Cara Menghitung, dan Risikonya

Ringkasan Gotrade
- Margin call terjadi ketika equity akun tidak lagi memenuhi persyaratan margin yang berlaku.
- Penyebab margin call dapat berupa penurunan harga, penggunaan buying power yang terlalu besar, atau kenaikan house requirement dari broker.
- Untuk mengurangi risiko margin call, kamu perlu memperhatikan maintenance requirement, jumlah pinjaman, equity buffer, ukuran posisi, dan risiko forced liquidation.
Kamu memiliki modal US$5.000 lalu meminjam US$5.000 untuk membuka posisi saham senilai US$10.000.
Jika harga sahamnya turun 10% maka nilai posisi menjadi US$9.000. Tetapi, utang kepada broker tetap US$5.000 akhirnya equity kamu turun menjadi US$4.000.
Artinya, meskipun harga saham hanya turun 10% tetapi modal sendiri sudah turun sebanyak 20%, dari US$5.000 menjadi US$4.000.
Inilah mengapa margin trading memiliki risiko yang lebih besar. Jika equity terus turun hingga melewati batas minimum yang ditentukan broker maka akun kamu akan terkena margin call.
Apa Itu Margin Call?
Margin call adalah kondisi ketika equity dalam margin account turun hingga tidak bisa lagi memenuhi persyaratan margin minimum yang ditetapkan oleh broker.
Menurut Investor.gov, equity dalam margin account merupakan nilai sekuritas dikurangi jumlah yang masih terutang kepada broker. Jika equity turun di bawah maintenance requirement maka broker bisa meminta tambahan dana atau sekuritas.
Karena itu, margin call bukan terjadi karena harga saham yang turun. Masalahnya muncul ketika nilai equity yang menopang posisi sudah berada di bawah batas minimum yang berlaku.
Mekanisme ini relevan pada akun yang menggunakan margin borrowing. Pada cash account investor akan membayar penuh sekuritas yang dibeli sehingga tidak menggunakan pinjaman margin.
Cara Kerja dan Penyebab Margin Call
Ada beberapa kondisi yang bisa membuat equity akun tidak lagi memenuhi persyaratan margin sehingga terjadi margin call, yaitu:
1. Nilai Posisi Turun
Ketika harga saham turun maka posisi nilai saham akan ikut turun sementara pinjaman relatif tetap. Akibatnya, equity akan semakin kecil.
Jika equity turun di bawah maintenance requirement maka akun akan mengalami margin deficiency.
2. Transaksi Melebihi Buying Power
Margin account memiliki batas daya beli. Jika transaksi membutuhkan equity lebih besar daripada yang tersedia maka investor akan diminta untuk menambah dana dan memenuhi persyaratan margin.
Menurut FINRA margin call juga bisa muncul ketika transaksi melebihi buying power akun.
3. Broker Menaikkan House Requirement
Broker bisa menetapkan house maintenance requirement di atas minimum regulasi dan menaikkannya ketika risiko suatu saham meningkat.
Sebagai contoh saat equity ratio akun sebesar 37,5% sementara requirement awal 30%. Jika broker menaikkan requirement menjadi 40% maka akun bisa langsung berada di bawah batas meskipun harga saham tidak berubah.
Karena itu, risiko margin bukan hanya tentang seberapa jauh harga bisa turun tetapi juga berapa besar persyaratan margin yang berlaku pada akun dan posisi tersebut.
Cara Menghitung Kapan Margin Call Terjadi
Perhatikan contoh sederhana margin call berikut ini:
100 saham × US$100 = US$10.000
Modal sendiri = US$5.000
Margin loan = US$5.000
Maintenance requirement = 30%
Pada awal posisi:
Equity = US$10.000 − US$5.000 = US$5.000
Equity ratio = US$5.000 ÷ US$10.000 = 50%
Maka artinya nilai akun masih berada di atas batas minimum sebesar 30%.
Jika Harga Turun ke US$80
Lalu nilai posisi mulai menjadi:
100 × US$80 = US$8.000
Maka yang terjadi adalah:
Equity = US$8.000 − US$5.000 = US$3.000
Equity ratio = US$3.000 ÷ US$8.000 = 37,5%
Saat turun ke angka US$80 nilai akun masih berada di atas maintenance requirement.
Jika Harga Turun ke US$70
Kemudian nilai posisi menjadi:
100 × US$70 = US$7.000
Equity = US$7.000 − US$5.000 = US$2.000
Equity ratio = US$2.000 ÷ US$7.000 ≈ 28,6%
Karena nilainya sudah mulai berada di bawah batas 30% maka akun telah mengalami margin deficiency.
Berapa Harga Batasnya?
Untuk satu posisi long sederhanany adalah:
Trigger Market Value = Margin Loan ÷ (1 − Maintenance Requirement)
Dengan loan US$5.000 dan maintenance requirement 30%, maka hasilnya:
US$5.000 ÷ 70% = US$7.142,86
Lalu digunakan untuk 100 saham, maka:
US$7.142,86 ÷ 100 = sekitar US$71,43 per saham
Jadi, equity ratio akan menyentuh 30% ketika harga saham berada di sekitaran US$71,43.
Dalam akun nyata, batasnya bisa berbeda karena akan dipengaruhi oleh margin interest, beberapa posisi sekaligus, house requirement, aturan khusus saham tertentu, options, short position atau perubahan nilai aset lain.
Karena itu, perhitungan ini hanyalah ilustrasi sederhana saja bukannya pengganti perhitungan resmi dari broker.
Apa yang Terjadi Setelah Margin Call?
Tindakan setelah margin call bergantung pada ketentuan broker dan jenis akun. Secara umum, ada beberapa kemungkinan terjadi, yaitu:
1. Menambah Kas
Investor bisa menambahkan dana agar equity kembali memenuhi persyaratan margin. Tetapi, tambahan dana tidak akan menghilangkan risiko posisi. Jika harga terus bergerak berlawanan maka equity bisa kembali turun.
2. Menambahkan Sekuritas yang Memenuhi Syarat
Pada beberapa margin account sekuritas tertentu bisa digunakan sebagai tambahan collateral. Nilai dan kelayakannya akan mengikuti ketentuan broker.
3. Mengurangi Posisi
Investor bisa menjual sebagian posisi untuk mengurangi exposure serta kebutuhan margin dengan itu kerugian pada bagian yang dijual akan menjadi terealisasi.
4. Broker Menjual Aset
Jika kekurangan margin tidak bisa diperbaiki, maka broker bisa menjual aset dalam akun untuk menutup shortfall. Menurut Investor.gov, broker mampu menentukan sekuritas mana saja yang akan dijual.
Karena itu, setelah margin call fokus kamu bukan hanya menambah dana tetapi juga mengevaluasi apakah ukuran posisi dan risikonya masih sesuai.
Margin Call dan Forced Liquidation, Apa Bedanya?
Keduanya berkaitan memang saling berkaitan tetapi memiliki arti yang berbeda, yaitu:
Aspek | Margin Call | Forced Liquidation |
Kondisi | Equity tidak memenuhi persyaratan margin | Broker menjual posisi atau aset dalam akun |
Tujuan | Memperbaiki margin deficiency | Mengurangi exposure dan menutup kekurangan margin |
Harus berupa penjualan? | Belum tentu | Ya |
Investor bisa menambah dana? | Bisa, sesuai ketentuan broker | Penjualan sudah dilakukan broker |
Harus terjadi berurutan? | Belum tentu | Dalam kondisi tertentu broker dapat menjual tanpa menunggu investor |
Margin call menunjukkan bahwa akun sudah tidak lagi memenuhi persyaratan margin sedangkan forced liquidation adalah tindakan broker menjual posisi untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Jadi, menerima margin call bukan berarti seluruh posisi akan langsung dilikuidasi.
Apakah Broker Pasti Memberi Waktu untuk Memenuhi Margin Call?
Belum tentu. Ketentuan setiap broker dan margin agreement bisa berbeda-beda.
SEC menjelaskan bahwa broker bisa menjual sekuritas dalam akun untuk memenuhi margin deficiency dan dalam kondisi tertentu broker tidak diwajibkan memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada investor.
Karena itu, istilah margin call jangan dipahami sebagai:
“Broker pasti akan menghubungi dan memberi waktu untuk menambah dana.”
Sebelum menggunakan margin kamu harus pahami terlebih dahulu batas margin, prosedur margin call, dan kondisi yang memungkinkan broker melakukan likuidasi posisi.
Cara Mengurangi Risiko Margin Call
Risiko margin call dapat dikurangi dengan memahami struktur margin dan menjaga equity tetap memiliki ruang terhadap batas minimum. Perhatikan lima hal berikut ini:
1. Ketahui Maintenance Requirement
Periksa kembali maintenance requirement yang berlaku pada akun dan saham yang kamu gunakan. Broker bisa menetapkan house requirement yang lebih tinggi dan mengubahnya sesuai dengan kondisi risiko.
2. Gunakan Leverage Secukupnya
Semakin besar pinjaman dibandingkan dengan modal sendiri maka semakin sensitif equity terhadap pergerakan harga. Karena itu, penggunaan leverage perlu disesuaikan kembali dengan kemampuan kamu dalam menanggung kerugian.
3. Sisakan Buffer dan Hindari Konsentrasi Berlebihan
Kamu jangan hanya melihat persentase kerugian dari harga entry. Kamu juga harus memperhatikan equity, pinjaman, requirement, dan seberapa besar portofolio akan terkonsentrasi pada satu saham.
4. Jangan Bergantung Sepenuhnya pada Stop Loss
Stop order memiliki risiko dalam eksekusi. Saat terjadi gap, earnings atau market shock harga jual aktual bisa saja berbeda dari level yang telah kamu rencanakan.
5. Evaluasi Sebelum Menambah Dana
Menambah dana bisa memperbaiki equity ratio tetapi juga menambah modal pada posisi yang sedang tertekan. Maka dari itu kamu perlu memeriksa kembali thesis, ukuran posisi, volatilitas, dan requirement sebelum melakukan top up.
Kenali Risikonya Sebelum Margin Call Terjadi
Margin call terjadi ketika equity akun tidak lagi memenuhi persyaratan margin yang berlaku. Kondisi ini bisa dipicu oleh penurunan harga, penggunaan buying power yang terlalu besar, atau perubahan house requirement dari broker.
Karena itu, penggunaan margin sebaiknya tidak hanya dilihat dari tambahan daya beli.
Perhatikan juga jumlah pinjaman, equity buffer, maintenance requirement, serta risiko forced liquidation jika akun mengalami kekurangan margin.
Kamu bisa menggunakan Gotrade untuk memantau saham AS yang sedang dipelajari, melihat pergerakan harga dan volatilitasnya, lalu mempertimbangkan risiko yang bisa menekan equity sebelum margin call terjadi.
Buka akun Gotrade dan mulai pantau saham AS yang ingin kamu analisis.
Referensi
U.S. Securities and Exchange Commission, “Margin: Borrowing Money to Pay for Stocks.”
U.S. Securities and Exchange Commission, “Margin Call.”
Financial Industry Regulatory Authority (FINRA), “Brokerage Accounts.”
U.S. Securities and Exchange Commission, “Investor Bulletin: Understanding Margin Accounts.”
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














