Apa Itu Margin Call? Alasan, Cara Menghitung, dan Risikonya

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Apa Itu Margin Call? Alasan, Cara Menghitung, dan Risikonya

Ringkasan Gotrade

  • Margin call terjadi ketika equity akun tidak lagi memenuhi persyaratan margin yang berlaku.
  • Penyebab margin call dapat berupa penurunan harga, penggunaan buying power yang terlalu besar, atau kenaikan house requirement dari broker.
  • Untuk mengurangi risiko margin call, kamu perlu memperhatikan maintenance requirement, jumlah pinjaman, equity buffer, ukuran posisi, dan risiko forced liquidation.

Kamu memiliki modal US$5.000 lalu meminjam US$5.000 untuk membuka posisi saham senilai US$10.000.

Jika harga sahamnya turun 10% maka nilai posisi menjadi US$9.000. Tetapi, utang kepada broker tetap US$5.000 akhirnya equity kamu turun menjadi US$4.000.

Artinya, meskipun harga saham hanya turun 10% tetapi modal sendiri sudah turun sebanyak 20%, dari US$5.000 menjadi US$4.000.

Baca juga: Apa Itu OPEX? Jenis, Contoh, dan Cara Menghitungnya

Inilah mengapa margin trading memiliki risiko yang lebih besar. Jika equity terus turun hingga melewati batas minimum yang ditentukan broker maka akun kamu akan terkena margin call.

Apa Itu Margin Call?

Margin call adalah kondisi ketika equity dalam margin account turun hingga tidak bisa lagi memenuhi persyaratan margin minimum yang ditetapkan oleh broker.

Menurut Investor.gov, equity dalam margin account merupakan nilai sekuritas dikurangi jumlah yang masih terutang kepada broker. Jika equity turun di bawah maintenance requirement maka broker bisa meminta tambahan dana atau sekuritas.

Baca juga: Efisiensi Pajak Saham, Ini Strategi Domestik dan Global 2026

Karena itu, margin call bukan terjadi karena harga saham yang turun. Masalahnya muncul ketika nilai equity yang menopang posisi sudah berada di bawah batas minimum yang berlaku.

Mekanisme ini relevan pada akun yang menggunakan margin borrowing. Pada cash account investor akan membayar penuh sekuritas yang dibeli sehingga tidak menggunakan pinjaman margin.

Cara Kerja dan Penyebab Margin Call

Ada beberapa kondisi yang bisa membuat equity akun tidak lagi memenuhi persyaratan margin sehingga terjadi margin call, yaitu:

1. Nilai Posisi Turun

Ketika harga saham turun maka posisi nilai saham akan ikut turun sementara pinjaman relatif tetap. Akibatnya, equity akan semakin kecil.

Jika equity turun di bawah maintenance requirement maka akun akan mengalami margin deficiency.

2. Transaksi Melebihi Buying Power

Margin account memiliki batas daya beli. Jika transaksi membutuhkan equity lebih besar daripada yang tersedia maka investor akan diminta untuk menambah dana dan memenuhi persyaratan margin.

Menurut FINRA margin call juga bisa muncul ketika transaksi melebihi buying power akun.

3. Broker Menaikkan House Requirement

Broker bisa menetapkan house maintenance requirement di atas minimum regulasi dan menaikkannya ketika risiko suatu saham meningkat.

Sebagai contoh saat equity ratio akun sebesar 37,5% sementara requirement awal 30%. Jika broker menaikkan requirement menjadi 40% maka akun bisa langsung berada di bawah batas meskipun harga saham tidak berubah.

Karena itu, risiko margin bukan hanya tentang seberapa jauh harga bisa turun tetapi juga berapa besar persyaratan margin yang berlaku pada akun dan posisi tersebut.

Cara Menghitung Kapan Margin Call Terjadi

Perhatikan contoh sederhana margin call berikut ini:

  • 100 saham × US$100 = US$10.000

  • Modal sendiri = US$5.000

  • Margin loan = US$5.000

  • Maintenance requirement = 30%

Pada awal posisi:

Equity = US$10.000 − US$5.000 = US$5.000

Equity ratio = US$5.000 ÷ US$10.000 = 50%

Maka artinya nilai akun masih berada di atas batas minimum sebesar 30%.

Jika Harga Turun ke US$80

Lalu nilai posisi mulai menjadi:

100 × US$80 = US$8.000

Maka yang terjadi adalah:

Equity = US$8.000 − US$5.000 = US$3.000

Equity ratio = US$3.000 ÷ US$8.000 = 37,5%

Saat turun ke angka US$80 nilai akun masih berada di atas maintenance requirement.

Jika Harga Turun ke US$70

Kemudian nilai posisi menjadi:

100 × US$70 = US$7.000

Equity = US$7.000 − US$5.000 = US$2.000

Equity ratio = US$2.000 ÷ US$7.000 ≈ 28,6%

Karena nilainya sudah mulai berada di bawah batas 30% maka akun telah mengalami margin deficiency.

Berapa Harga Batasnya?

Untuk satu posisi long sederhanany adalah:

Trigger Market Value = Margin Loan ÷ (1 − Maintenance Requirement)

Dengan loan US$5.000 dan maintenance requirement 30%, maka hasilnya:

US$5.000 ÷ 70% = US$7.142,86

Lalu digunakan untuk 100 saham, maka:

US$7.142,86 ÷ 100 = sekitar US$71,43 per saham

Jadi, equity ratio akan menyentuh 30% ketika harga saham berada di sekitaran US$71,43.

Dalam akun nyata, batasnya bisa berbeda karena akan dipengaruhi oleh margin interest, beberapa posisi sekaligus, house requirement, aturan khusus saham tertentu, options, short position atau perubahan nilai aset lain.

Karena itu, perhitungan ini hanyalah ilustrasi sederhana saja bukannya pengganti perhitungan resmi dari broker.

Apa yang Terjadi Setelah Margin Call?

Tindakan setelah margin call bergantung pada ketentuan broker dan jenis akun. Secara umum, ada beberapa kemungkinan terjadi, yaitu:

1. Menambah Kas

Investor bisa menambahkan dana agar equity kembali memenuhi persyaratan margin. Tetapi, tambahan dana tidak akan menghilangkan risiko posisi. Jika harga terus bergerak berlawanan maka equity bisa kembali turun.

2. Menambahkan Sekuritas yang Memenuhi Syarat

Pada beberapa margin account sekuritas tertentu bisa digunakan sebagai tambahan collateral. Nilai dan kelayakannya akan mengikuti ketentuan broker.

3. Mengurangi Posisi

Investor bisa menjual sebagian posisi untuk mengurangi exposure serta kebutuhan margin dengan itu kerugian pada bagian yang dijual akan menjadi terealisasi.

4. Broker Menjual Aset

Jika kekurangan margin tidak bisa diperbaiki, maka broker bisa menjual aset dalam akun untuk menutup shortfall. Menurut Investor.gov, broker mampu menentukan sekuritas mana saja yang akan dijual.

Karena itu, setelah margin call fokus kamu bukan hanya menambah dana tetapi juga mengevaluasi apakah ukuran posisi dan risikonya masih sesuai.

Margin Call dan Forced Liquidation, Apa Bedanya?

Keduanya berkaitan memang saling berkaitan tetapi memiliki arti yang berbeda, yaitu:

Aspek

Margin Call

Forced Liquidation

Kondisi

Equity tidak memenuhi persyaratan margin

Broker menjual posisi atau aset dalam akun

Tujuan

Memperbaiki margin deficiency

Mengurangi exposure dan menutup kekurangan margin

Harus berupa penjualan?

Belum tentu

Ya

Investor bisa menambah dana?

Bisa, sesuai ketentuan broker

Penjualan sudah dilakukan broker

Harus terjadi berurutan?

Belum tentu

Dalam kondisi tertentu broker dapat menjual tanpa menunggu investor

Margin call menunjukkan bahwa akun sudah tidak lagi memenuhi persyaratan margin sedangkan forced liquidation adalah tindakan broker menjual posisi untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Jadi, menerima margin call bukan berarti seluruh posisi akan langsung dilikuidasi.

Apakah Broker Pasti Memberi Waktu untuk Memenuhi Margin Call?

Belum tentu. Ketentuan setiap broker dan margin agreement bisa berbeda-beda.

SEC menjelaskan bahwa broker bisa menjual sekuritas dalam akun untuk memenuhi margin deficiency dan dalam kondisi tertentu broker tidak diwajibkan memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada investor.

Karena itu, istilah margin call jangan dipahami sebagai:

“Broker pasti akan menghubungi dan memberi waktu untuk menambah dana.”

Sebelum menggunakan margin kamu harus pahami terlebih dahulu batas margin, prosedur margin call, dan kondisi yang memungkinkan broker melakukan likuidasi posisi.

Cara Mengurangi Risiko Margin Call

Risiko margin call dapat dikurangi dengan memahami struktur margin dan menjaga equity tetap memiliki ruang terhadap batas minimum. Perhatikan lima hal berikut ini:

1. Ketahui Maintenance Requirement

Periksa kembali maintenance requirement yang berlaku pada akun dan saham yang kamu gunakan. Broker bisa menetapkan house requirement yang lebih tinggi dan mengubahnya sesuai dengan kondisi risiko.

2. Gunakan Leverage Secukupnya

Semakin besar pinjaman dibandingkan dengan modal sendiri maka semakin sensitif equity terhadap pergerakan harga. Karena itu, penggunaan leverage perlu disesuaikan kembali dengan kemampuan kamu dalam menanggung kerugian.

3. Sisakan Buffer dan Hindari Konsentrasi Berlebihan

Kamu jangan hanya melihat persentase kerugian dari harga entry. Kamu juga harus memperhatikan equity, pinjaman, requirement, dan seberapa besar portofolio akan terkonsentrasi pada satu saham.

4. Jangan Bergantung Sepenuhnya pada Stop Loss

Stop order memiliki risiko dalam eksekusi. Saat terjadi gap, earnings atau market shock harga jual aktual bisa saja berbeda dari level yang telah kamu rencanakan.

5. Evaluasi Sebelum Menambah Dana

Menambah dana bisa memperbaiki equity ratio tetapi juga menambah modal pada posisi yang sedang tertekan. Maka dari itu kamu perlu memeriksa kembali thesis, ukuran posisi, volatilitas, dan requirement sebelum melakukan top up.

Kenali Risikonya Sebelum Margin Call Terjadi

Margin call terjadi ketika equity akun tidak lagi memenuhi persyaratan margin yang berlaku. Kondisi ini bisa dipicu oleh penurunan harga, penggunaan buying power yang terlalu besar, atau perubahan house requirement dari broker.

Karena itu, penggunaan margin sebaiknya tidak hanya dilihat dari tambahan daya beli.

Perhatikan juga jumlah pinjaman, equity buffer, maintenance requirement, serta risiko forced liquidation jika akun mengalami kekurangan margin.

Kamu bisa menggunakan Gotrade untuk memantau saham AS yang sedang dipelajari, melihat pergerakan harga dan volatilitasnya, lalu mempertimbangkan risiko yang bisa menekan equity sebelum margin call terjadi.

Buka akun Gotrade dan mulai pantau saham AS yang ingin kamu analisis.

Referensi

U.S. Securities and Exchange Commission, “Margin: Borrowing Money to Pay for Stocks.”

U.S. Securities and Exchange Commission, “Margin Call.”

Financial Industry Regulatory Authority (FINRA), “Brokerage Accounts.”

U.S. Securities and Exchange Commission, “Investor Bulletin: Understanding Margin Accounts.”

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku