Memilih saham yang menarik hanyalah langkah awal dalam investasi. Setelah membelinya, kamu juga perlu memikirkan bagaimana saham tersebut ditempatkan bersama investasi lain agar membentuk portofolio yang sesuai dengan tujuanmu.
Dilansir dari laman Investopedia, portofolio merupakan kumpulan berbagai posisi investasi yang disusun untuk membantu investor mencapai tujuan finansial tertentu. Komposisinya perlu mempertimbangkan toleransi risiko, tujuan investasi, dan jangka waktu. Lalu, apa sebenarnya portofolio saham dan bagaimana cara menyusunnya agar lebih terarah?
Apa Itu Portofolio Saham?
Portofolio saham adalah kumpulan saham yang dimiliki investor sebagai bagian dari strategi investasi. Bukan sekadar daftar saham yang kamu beli, setiap kepemilikan sebaiknya punya peran dan tujuan yang jelas dalam keseluruhan portofolio. Misalnya, kamu memiliki saham dari sektor teknologi, kesehatan, dan consumer goods. Seluruhnya menjadi bagian dari satu portofolio yang perlu dilihat sebagai satu kesatuan, termasuk bagaimana masing-masing investasi memengaruhi risiko dan diversifikasi.
Portofolio membantu kamu mengatur investasi agar lebih terarah sekaligus menyebarkan risiko. Sebelum memilih saham, pertimbangkan beberapa hal berikut:
Dengan begitu, setiap saham yang dipilih punya alasan yang jelas dan tetap mendukung strategi portofolio secara keseluruhan.
Mengapa Portofolio Saham Perlu Diversifikasi?
Diversifikasi artinya menyebarkan investasi ke beberapa saham, sektor, wilayah, atau jenis aset. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan portofolio pada satu sumber risiko. OJK juga menjelaskan kalau diversifikasi merupakan, salah satu strategi untuk mengelola risiko dengan menyebarkan investasi ke berbagai instrumen aset.
Bayangkan jika kamu hanya memiliki saham dari satu sektor. Saat sektor tersebut menghadapi masalah, sebagian besar isi portofolio berpotensi terdampak dari masalah itu.
Dalam penelitian Stock Portfolio: Theoretical Analysis and Its Implementation in Modern Investment with Python Algorithm Practice in Indonesia, diversifikasi dianggap sebagai prinsip penting dalam mengurangi unsystematic risk pada portofolio saham.
Diversifikasi Mampu Mengurangi Risiko yang Tidak Sistematis
Risiko dalam portofolio dapat berasal dari berbagai sumber. Unsystematic risk berkaitan dengan kondisi perusahaan, atau sektor tertentu yang mana bisa dikurangi dengan menggunakan diversifikasi.
Sementara itu, systematic risk berasal dari faktor pasar yang lebih luas, seperti perubahan kondisi ekonomi atau kebijakan suku bunga. Risiko ini tetap dapat memengaruhi portofolio, walaupun kamu masih memiliki banyak saham yang lain. .
Oleh sebab itu diversifikasi sebaiknya dipahami, sebagai cara untuk mengelola risiko tertentu, bukan jaminan bahwa nilai investasi tidak akan turun.
Diversifikasi Bukan Berarti Membeli Sebanyak Mungkin Saham
Jumlah saham yang dimiliki, bukan satu-satunya ukuran diversifikasi. Sebagai contoh memiliki lima saham dari sektor teknologi, nyatanya masih membuat portofolio sangat bergantung pada sektor yang sama. Sebaliknya, beberapa saham dengan karakter bisnis berbeda dapat memberikan penyebaran risiko yang lebih beragam.
Kamu juga perlu memperhatikan potensi overlap, terutama jika kamu memiliki saham individual sekaligus ETF yang ternyata memuat perusahaan yang sama. Secara jumlah memang terlihat memiliki banyak investasi, tetapi eksposurnya bisa tetap terkonsentrasi.
Berapa Banyak Saham yang Sebaiknya Dimiliki?
Tidak ada jumlah saham yang ideal untuk semua investor. Tentukan jumlahnya berdasarkan modal, tujuan investasi, toleransi risiko, serta kemampuan kamu dalam memahami dan memantau setiap saham.
Dalam penelitian tersebut, penulis mengutip penelitian Statman (1987) menunjukkan bahwa diversifikasi bisa membantu mengurangi unsystematic risk secara nyata. Tapi, jumlah saham yang diperlukan tetap tidak dapat dijadikan aturan yang berlaku untuk semua investor.
Cara Membuat Portofolio Saham yang Terstruktur
Setelah kamu mengerti fungsi portofolio saham dan pembahasan mengenai pentingnya diversifikasi, kamu juga harus mengerti cara membuat portofolio saham yang tertata. Cara ini sebaiknya dilakukan dari kondisi dan tujuan awal investasi kamu, bukan mulai dilakukan saat saham sedang ramai diperbincangkan.
1. Buat Tujuan Investasi
Pikirkan dan buat dulu apa yang ingin kamu capai dari investasi, sebagai contoh untuk menyiapkan dana jangka panjang atau membangun aset. Setelah itu, tentukan kapan dana tersebut akan digunakan karena jangka waktu dapat memengaruhi strategi dan tingkat risiko yang sesuai.
2. Pahami Toleransi Risiko
Setiap investor punya batas sendiri yang berbeda, saat nilai investasi naik atau turun. Kenali seberapa besar fluktuasi yang sanggup kamu hadapi, agar komposisi portofolio tidak membuat kamu mudah panik ketika pasar bergerak turun.
3. Sesuaikan Alokasi Dana
Setelah memahami tujuan dan risiko, sesuaikan dan tentukan juga berapa besar dana yang akan kamu tempatkan pada setiap investasi. Tidak perlu mengikuti persentase milik investor lain, sebab alokasi dana sebaiknya disesuaikan dengan strategi dan kondisi finansialmu.
Pendekatan
Cocok untuk
Contoh Isi
Perhatian
Defensif
Investor yang mengutamakan kestabilan
Saham perusahaan mapan, ETF luas
Tetap memiliki risiko pasar
Seimbang
Investor yang ingin menggabungkan pertumbuhan dan diversifikasi
Saham mapan, growth stock, ETF
Perlu menjaga proporsi
Growth
Investor yang mengejar pertumbuhan modal
Growth stock, ETF
Volatilitas dan valuasi
Income
Investor yang mengutamakan potensi pendapatan
Saham pembayar dividen, ETF
Dividen tidak dijamin
Catatan: Tabel ini merupakan ilustrasi edukasi, bukan rekomendasi alokasi investasi.
4. Pilih Saham Berdasarkan Fundamental
Perlu kamu ingat, untuk jangan memilih saham hanya karena sedang ramai atau harganya naik. Perhatikan kondisi bisnis dan perusahaannya, kinerja keuangan, prospek industri, dan valuasinya agar setiap saham yang masuk ke portofolio punya alasan yang jelas. Sehingga kamu juga lebih paham bagaimana, bisnis tersebut bisa bertumbuh dan bisa menganalisa profil risikonya.
5. Sebarkan Investasi Antar Sektor dan Wilayah
Hindari menempatkan dana kamu, hanya pada satu saham atau sektor. Selain jumlah saham, perhatikan juga penyebaran sektor, wilayah, dan potensi overlap agar portofolio tidak terlihat beragam tetapi sebenarnya masih terkonsentrasi pada sumber risiko yang sama.
6. Evaluasi Portofolio
Setelah portofolio sudah ada, kamu bisa melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan komposisinya masih sesuai dengan tujuan, toleransi risiko, dan strategi awal. Perubahan harga atau kondisi perusahaan, bisa membuat alokasi portofolio bergeser sehingga perlu sering dievaluasi.
Contoh Portofolio Saham untuk Pemula
Contoh berikut digunakan untuk menunjukkan, bagaimana tujuan investasi bisa memengaruhi pembuatan portofolio saham. Angka dan komposisinya bukan rekomendasi investasi. Misalnya, kamu memiliki dana Rp 10 juta dan ingin membuat portofolio yang relatif sederhana. Salah satu pendekatan adalah menggunakan ETF sebagai bagian dari diversifikasi, lalu menambahkan beberapa saham individual untuk mendapatkan eksposur pada perusahaan atau sektor tertentu. Sebagai contoh, saham AS seperti Apple (AAPL) dapat menjadi bagian dari portofolio saham individual. Lewat fitur fractional shares di Gotrade, kamu tidak harus membeli satu saham penuh karena pembelian AAPL dapat dimulai dari US$1
Komponen
Alokasi Ilustrasi
Contoh
Peran dalam Portofolio
ETF
50%
ETF pasar luas
Diversifikasi
Saham perusahaan mapan
30%
AAPL
Eksposur perusahaan individual
Growth stock
20%
Saham AS sesuai strategi
Potensi pertumbuhan
Catatan: Tabel ini merupakan ilustrasi edukasi, bukan rekomendasi alokasi investasi.
Bagaimana Langkah Mengelola Portofolio Setelah Dibuat?
Ketika kamu selesai membangun portofolio, bukan berarti pekerjaan selesai setelah semua saham dibeli. Komposisi investasi bisa berubah karena pergerakan harga, kondisi perusahaan. Oleh karena itu, portofolio perlu ditinjau dari waktu ke waktu.
Pantau Rutin Portofolio, Bukan Harga Setiap Hari
Kamu tidak perlu memantau harga saham setiap hari. Lebih penting melihat apakah kinerja perusahaan, komposisi portofolio, dan tujuan investasi masih sesuai dengan strategi keuangan yang kamu rancang di awal.
Kapan Perlu Melakukan Rebalancing?
Rebalancing dilakukan ketika komposisi portofolio sudah terlalu jauh dari alokasi yang direncanakan. Misalnya, kenaikan harga membuat porsi satu saham menjadi terlalu besar sehingga risiko portofolio ikut berubah.
Evaluasi Alasan Kamu Membeli Saham
Jangan hanya melihat, apakah harga saham sedang naik atau turun. Evaluasi kembali alasan kamu membelinya, termasuk kondisi bisnis, kinerja keuangan, dan prospek industrinya. Jika hal tersebut berubah secara signifikan, posisi saham tersebut layak dievaluasi kembali.
Beberapa Kesalahan Saat Membuat Portofolio Saham
Membangun portofolio tidak hanya soal memilih saham, serta menentukan alokasi dana. Tanpa strategi yang jelas, beberapa keputusan justru bisa membuat portofolio kamu keluar dari strategi dan tujuan investasi yang sudah disusun. Yuk, simak beberapa kesalahan dalam membuat portofolio saham dibawah ini!
Terlalu fokus pada satu saham atau sektor: Konsentrasi yang tinggi membuat kinerja portofolio lebih bergantung pada satu perusahaan atau industri.
Berpikir jika banyak saham berarti sudah terdiversifikasi: Jumlah saham bukan satu-satunya, ukuran diversifikasi. Perhatikan juga sektor, wilayah, karakter bisnis, dan potensi overlap antar investasi.
Membeli saham karena tren tanpa memahami fundamentalnya: Saham yang sedang ramai dibicarakan, belum tentu sesuai dengan strategi kamu. Pahami dulu bisnis, kondisi keuangan, dan risiko perusahaan tersebut sebelum kamu membeli sahamnya.
Tidak menyesuaikan portofolio dengan tujuan: Portofolio untuk tujuan jangka panjang, belum tentu sesuai untuk kebutuhan dana dalam waktu dekat.
Tidak pernah meninjau portofolio: Perubahan harga, kondisi perusahaan, atau tujuan investasi dapat membuat komposisi portofolio tidak lagi sesuai dengan strategi awal. Sebaiknya lakukan evaluasi secara rutin, untuk melihat apakah portofolio saham kamu bertumbuh atau tidak.
Mulai Membangun Portofolio Saham dengan Lebih Terarah
Membangun portofolio tidak harus dimulai dengan banyak saham. Yang lebih penting adalah memahami tujuan, risiko, dan alasan di balik setiap investasi yang kamu pilih. Gotrade menyediakan akses ke berbagai saham AS dan ETF yang dapat menjadi bagian dari strategi investasi kamu. Download aplikasi Gotrade dan mulai bangun portofolio investasimu.
FAQ Seputar Portofolio Saham
Portofolio saham adalah apa?
Portofolio saham adalah kumpulan saham yang dimiliki investor dan disusun sebagai bagian dari strategi investasi dengan mempertimbangkan tujuan, risiko, dan jangka waktu investasi.
Berapa jumlah saham yang ideal dalam portofolio?
Tidak ada jumlah yang berlaku untuk semua investor. Jumlah saham perlu disesuaikan dengan modal, tujuan, toleransi risiko, tingkat diversifikasi, serta kemampuan kamu dalam memahami dan memantau investasi.
Apakah semakin banyak saham berarti portofolio semakin terdiversifikasi?
Tidak selalu. Memiliki banyak saham dari sektor atau karakter bisnis yang sama tetap dapat membuat portofolio terkonsentrasi. Selain jumlah saham, perhatikan juga penyebaran sektor, wilayah, dan potensi overlap antar investasi.
Referensi
Investopedia. Creating and Managing a Financial Portfolio: A Comprehensive Guide.
Listiadi, A., dkk. Stock Portfolio: Theoretical Analysis and Its Implementation in Modern Investment with Python Algorithm Practice in Indonesia.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Gabriella dengan pengalaman 2+ tahun sebagai Content Writer yang telah menangani berbagai niche, mulai dari digital marketing, mental health, parenting, travel, furniture, teknologi, hingga finansial. Ia memiliki ketertarikan dalam menulis topik seputar finansial dan investasi. Berbekal latar belakang S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, ia terbiasa melakukan riset, keyword research, menulis artikel yang mengikuti prinsip E-E-A-T, serta melakukan editing dan proofreading agar konten lebih akurat, relevan, dan nyaman dibaca.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.