Istilah buy, hold, dan sell artinya skala peringkat yang digunakan analis maupun investor. Fungsi ketiganya adalah untuk membantu menentukan langkah terbaik terhadap suatu saham.
Rekomendasi ini biasanya disusun berdasarkan analisis fundamental dan teknikal yang mendalam. Dengan memperhatikan dari kondisi pasar, kinerja keuangan perusahaan, hingga tren harga. Mempelajari konsep ini membantu investor dalam membaca alasan di balik setiap rekomendasi.
Buy, Hold, Sell pada Analisis Saham
Buy, hold, sell adalah tiga kategori atau rating utama rekomendasi yang dikeluarkan setelah dilakukannya riset laporan keuangan, prospek bisnis suatu perusahaan, dan valuasi oleh para analis saham
Buy (Beli): Rating yang menandakan bahwa analis menilai suatu saham layak dibeli karena potensi laba. Baik karena valuasinya masih murah atau berkat prospek bisnisnya positif.
Sell (Jual): Rekomendasi untuk menjual saham atau melikuidasi aset karena analis menilai risiko penurunan lebih besar dibandingkan potensi labanya.
Hold (Tahan): Rating saat saham tersebut diperkirakan akan berkinerja sama dengan perusahaan sejenis atau sejalan dengan pergerakan pasar secara umum. Jadi, tidak ada kepentingan untuk membeli atau menjualnya.
Selain tiga rating tadi, analis juga kerap menyebutkan istilah tambahan untuk memberikan gradasi rekomendasi yang lebih spesifik. Supaya lebih paham, pahami penjelasan berikut.
Rating
Istilah Lain
Penjelasan
Buy
Strong Buy, "dalam daftar rekomendasi"
Rekomendasi untuk membeli sekuritas tertentu karena dinilai berpotensi memberikan keuntungan.
Sell
Strong Sell
Rekomendasi untuk menjual sekuritas atau melikuidasi aset karena dinilai berisiko atau overvalued.
Hold
—
Saham diperkirakan berkinerja sama dengan perusahaan sejenis atau sejalan dengan pergerakan pasar secara umum.
Outperform
Moderate Buy, Akumulasi, Overweight
Saham diperkirakan akan berkinerja sedikit lebih baik dibandingkan rata-rata pengembalian pasar.
Underperform
Moderate Sell, Weak Hold, Underweight
Saham diperkirakan akan berkinerja sedikit lebih buruk dibandingkan rata-rata pengembalian pasar.
Waktu yang Tepat Membeli, Menjual, atau Menahan Saham
Sinyal beli muncul saat saham undervalued atau harga turun karena koreksi pasar, sementara sinyal tahan berlaku saat fundamental masih kuat dan jangka waktu investasi masih panjang.
Untuk sinyal jual muncul saat harga sudah mencapai target, fundamental memburuk, atau portofolio perlu diseimbangkan kembali. Keputusan kapan membeli, menahan, atau menjual saham bisa dipetakan seperti pada infografik berikut ini.
Moving average (MA) atau rata-rata pergerakan merupakan indikator yang menghitung rata-rata harga penutupan saham selama periode tertentu. Kemudian memperbarui angkanya setiap hari seiring waktu.
Ini berfungsi untuk menghaluskan fluktuasi harga harian sehingga arah tren keseluruhan lebih mudah terlihat. Dua yang paling umum dipakai adalah MA 50 hari (tren jangka pendek-menengah) dan MA 200 hari (tren jangka panjang).
Ketika dua MA ini saling memotong, maka akan muncul sinyal. Pertama, saam death cross (MA 50 hari memotong ke bawah MA 200 hari) ini merupakan sinyal bearish, potensi harga turun.
Kedua, tanda sinyal bullish, potensi harga naik. Hal ini terjadi kalau golden cross MA 50 hari memotong ke atas MA 200 hari.
2. Sinyal Fundamental
Lihat tren laba, posisi kompetitif, atau kualitas manajemen perusahaan. Saham undervalued karena koreksi pasar bisa jadi sinyal beli, fundamental yang terus negatif walauharga masih stabil bisa jadi sinyal jual awal.
3.Target Harga dan Portofolio
Saat harga ada pada target yang ditetapkan sejak awal, ini jadi sinyal jual. Sementara, portofolio yang sangat terkonsentrasi di satu sektor/saham itu jadi sinyal untuk penyesuaian kembali. Sinyal biaya peluang untuk beralih, ini akibat saham yang terus berkinerja rendah dibandingkan peluang lain.
4. Memperhatikan Rekomendasi Analis
Ini bisa jadi hal yang investor kritisi. Salah satu contohnya, dilihat dari penelitian oleh Jegadeesh dkk. (2004) dalam The Journal of Finance, menemukan kalau rekomendasi analis paling bernilai ketika sejalan dengan sinyal kuantitatif lain seperti momentum dan valuasi, bukan saat dibaca berdiri sendiri.
Michaely & Womack (1999) dalam jurnal Conflict of Interest and the Credibility of Underwriter Analyst Recommendationss, juga menemukan kalau rekomendasi 'buy' dari analis yang perusahaannya juga menjadi penjamin emisi (underwriter) karena sahamnya berkinerja lebih buruk dibanding rekomendasi analis independen. Ini bisa jadi bukti adanya konflik kepentingan dalam rating sell-side.
Penting untuk diingat, jangan andalkan satu sinyal saja. Kita juga bisa kombinasikan dengan teknikal, fundamental, target pribadi, hingga rekomendasi analis. Ini membantu untuk membuat keputusan yang lebih solid dibanding bereaksi terhadap satu sinyal.
Contoh Penerapan Buy, Hold, Sell di Saham Populer
Barber dkk. (2001) dalam The Journal of Finance menemukan bahwa saham dengan konsensus rekomendasi paling positif secara rata-rata mengungguli yang paling negatif, tapi keunggulan itu menuntut perputaran portofolio yang tinggi dan sebagian besar hilang setelah biaya transaksi diperhitungkan.
Supaya bisa memahami akurasi rating analis, berikut ada beberapa contoh nyata dari perusahaan besar dunia seperti Apple, Starbucks, dan Coca Cola dirangkum dari Investopedia:
1. Coca-Cola (KO)
Hasil: Rating yang Tepat Sasaran Saham Coca-Cola melonjak lebih dari 15% (dari $61,50 ke $71,35) karena kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi pada awal 2025, Sebelumnya, Deutsche Bank, TD Cowen, serta Jefferies sudah menaikkan dari "hold" ke "buy". Hasil analisis dalam kasus ini terbukti akurat.
2. Starbucks (SBUX)
Hasil Analisis: Konsensus Analis Meleset
Saat Maret 2024, mayoritas analis merating "Strong Buy" daripada "sell". Tapi, padabulan April di tahun yang sa,a, saham Starbucks justru merosot hampir 20% karena kinerja kuartalan yang lemah. Dalam hal ini, optimisme analis tidak menjamin performa saham.
3. Apple (AAPL)
Hasil Analis: Sinyal Salah Prediksi
Pada awal pandemi COVID-19 di Februari 2020, Goldman Sachs menurunkan rating Apple menjadi "sell" karena gangguan produksi di China. Tapi, Agustus 2020, saham ini justru mencetak rekor tertinggi baru. Dalam hal ini, sinyal salah prediksi membuat investor yang mengikuti rekomendasi "sell" menyesal.
Dari tiga contoh saham perusahaan global tadi terlihat kalau rating buy, hold, atau sell bukan jadi jaminan mutlak. Coca-Cola menunjukan kalau analisis fundamental yang matang bisa menghasilkan prediksi akurat, sementara Starbucks dan Apple menunjukan kalau sentimen pasar, kondisi eksternal, serta faktor tak terduga juga bisa membuat rating analis sepenuhnya meleset.
Maka dari itu, investor perlu mempertimbangkan berbagai sumber analisis serta melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Tips Mengambil Keputusan Buy, Hold, Sell yang Tepat
1. Mengenali Jangka Waktu Investasi Sejak Awal
Tentukan dulu untuk berapa lama kamu berencana menahannya. Investor dengan jangka waktu panjang, cenderung lebih tahan menghadapi koreksi pasar, sedangkan investor yang mendekati pensiun atau butuh dana dalam 1–2 tahun ke depan memerlukan strategi yang lebih konservatif karena tidak punya cukup waktu untuk menunggu pemulihan pasar.
2. Sesuaikan dengan Toleransi Risiko
Setiap investor punya tingkat kenyamanan berbeda terhadap risiko. Kalau kamu memilih keamanan, aset rendah risiko seperti obligasi pemerintah bisa jadi pilihan meski imbal hasilnya lebih kecil.
Sementara, kalau nyaman dengan fluktuasi demi potensi keuntungan lebih besar maka bisa pilih saham atau reksadana indeks. Toleransi risiko ini akan menentukan seberapa besar alokasi dananya.
3. Cek dan Pantau Fundamental Perusahaan
Pantau evaluasi laporan keuangan, tren penjualan, pendapatan, serta kualitas manajemen perusahaan. Kalau kinerja mulai menurun secara konsisten atau kalah dibanding kompetitor sejenis, ini merupakan sinyal untuk mulai mengurangi posisi sebelum kondisi keuangan perusahaan memburuk lebih jauh.
4. Ada Target Harga Awal
Pastikan investor punya kisaran harga jual saat pertama kali membeli saham. Dengan begitu, saat harga saham mencapai target tersebut, kita bisa menjual sepenuhnya atau bertahap mengurangi posisi di beberapa level harga.
5. Pakai Analisis Teknikal sebagai Alat Bantu
Untuk membaca pergeseran tren harga bisa gunakan indikator seperti moving average. Sinyal teknikal semacam ini cukup membantu menentukan waktu keluar yang lebih tepat.
6. Hitung Implikasi Pajak Sebelum Menjual
Saham yang ditahan dan dijual setelah lebih dari satu tahun biasanya dikenakan tarif pajak capital gain jangka panjang yang lebih ringan. Perhatikan juga metode penjualan lot saham (umumnya FIFO/first-in first-out).
Hal tadi akan memengaruhi besarnya keuntungan yang dikenakan pajak. Menjual saham yang merugi juga bisa dimanfaatkan untuk mengimbangi keuntungan modal dari saham lain (menekan biaya pajak).
7. Kenali Alasan Emosional yang Merugikan
Reaksi emosional jadi salah satu kesalahan investor (bukan analisis rasional). Misalnya, panik karena volatilitas jangka pendek, ikut-ikutan tren pasar, nggak punya rencana jangka panjang, sampai terlalu fokus pada kinerja masa lalu.
8. Nggak terlalu FOMO (Fear of Missing Out)
Tetap berpegang pada strategi investasi yang sudah direncanakan dan hindari mengejar tren sesaat. Ingat bahwa pasar selalu menawarkan peluang baru di masa depan. Sikap tenang dan tidak reaktif, ditambah diversifikasi portofolio, dapat membantu mengurangi dorongan untuk bertindak berdasarkan euforia sesaat maupun penyesalan karena melewatkan momentum tertentu.
Penting untuk dicatat, kalau artikel ini bertujuan edukasi, bukan rekomendasi untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Sebaiknya, setiap keputusan investasi mempertimbangkan profil risiko, tujuan finansial, riset, maupun hasil konsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi.
Rating buy, hold, sell ibarat pendapat orang lain tentang cuaca besok. Jadi bisa membantu kamu siap-siap, tapi tetap bukan kepastian.
Setelah mengetahui paham cara baca rating analis tadi, sekarang saatnya praktik langsung. Lewat Gotrade, kamu bisa mulai beli saham perusahan-perusahaan besar seperti Nvidia, Meta, hingga Apple dengan modal mulai dari $1 dolar aja.
Gotrade sudah aman dan gampang dipakai buat pemula. Unduh Gotrade sekarang di App Store atau Google Play Store dan mulai bangun portofolio kamu sendiri.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Kholida Qothrunnada adalah konten strategis dan editor lulusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun bekerja di media nasional sebagai reporter di bidang ekonomi dan bisnis. Memiliki minat untuk mendalami konten seputar keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.