Arti Risk Aversion dalam Investasi, Contoh, hingga Pilarnya

Ringkasan
- Risk aversion adalah kecenderungan memilih hasil yang pasti dibandingkan hasil yang tidak pasti meskipun memiliki nilai harapan yang setara.
- Tingkat risk aversion dapat diukur melalui certainty equivalent dan risk premium yang dapat dihitung secara kuantitatif.
- Manajemen risiko umumnya mencakup empat pilar utama, yaitu identifikasi, penilaian, pengendalian (risk control), dan pemantauan risiko secara berkelanjutan.
Istilah risk aversion menjadi salah satu konsep penting yang dipahami terutama bagi investor. Pasalnya, tingkat toleransi terhadap risiko bisa mempengaruhi pilihan aset, strategi, hingga cara untuk merespons perubahan kondisi pasar.
Konsep ini juga jadi fondasi dalam ilmu ekonomi dan behavioral finance. Alasannya, karena hampir semua keputusan investasi pada dasarnya merupakan soal bagaimana kita menyikapi ketidakpastian. Memahami apa itu risk aversion akan membantumu mengenali cara kita sendiri mengambil keputusan finansial.
Arti dari Risk Aversion
Secara definisi, risk aversion adalah kecenderungan seseorang untuk memilih hasil yang lebih pasti dibandingkan yang tidak pasti, meskipun rata-rata nilai keduanya sama atau bahkan hasil yang tidak pasti bisa berpotensi lebih besar.
Singkatnya, orang yang tipe risk averse artinya lebih memilih "aman" ketimbang "untung besar namun belum tentu".
Dalam makalah pendiri Bernoulli (1738) yang terjemahannya terbit di Econometrica pada 1954, menyebutkan bahwa nilai uang bagi seseorang bukanlah jumlah nominalnya melainkan utilitasnya, yang bertambah dengan peningkatan yang makin mengecil (diminishing marginal utility). Inilah akar matematis mengapa seseorang cenderung menghindari risiko.
Memahami Contoh Risk Aversion
Mari kita pahami contoh konsep risk aversion lewat ilustrasi sederhana berikut:
Jual Sekarang vs Tahan Posisi Saham AS
Bayangkan kamu punya saham teknologi Amerika Serikat yang harganya lagi naik dan posisimu untung. Menjelang rilis laporan kuartalan, broker menawarkan dua pilihan:
Pilihan A, jual sekarang dan kunci keuntungan Rp500.000 secara pasti
atau
Pilihan B, tahan posisinya sampai laporan kuartalan rilis. Kalau hasilnya bagus, untung kamu bisa membesar jadi Rp 2.000.000. Tapi kalau hasilnya mengecewakan, untung ini bisa hilang total jadi Rp0.
Secara matematis, nilai harapan (expected value) dari Pilihan B adalah:
50% × Rp2.000.000 + 50% × Rp0 = Rp1.000.000 → lebih besar dari Pilihan A yang cuma Rp 500.000.
Namun kenyataannya, banyak investor dengan kecenderungan risk averse tetap akan memilih di Pilihan A. Kenapa? ya karena mereka mengunci untung yang sudah pasti di tangan, meski secara matematis expected value dari menahan posisi jauh lebih besar.
Kecenderungan tersebutlah yang disebut risk aversion dan pola "buru-buru jual saat untung" seperti ini juga disebut sebagai bagian dari disposition effect dalam behavioral finance.
Certainty Equivalent dan Risk Premium
Dari ilustrasi di atas, certainty equivalent dan risk premium merupakan istilah penting dalam ekonomi risiko. Di mana:
Certainty equivalent merupakan jumlah uang pasti yang menurut seseorang setara nilainya dengan sebuah peluang berisiko. Dalam contoh di atas, jika investor memilih menjual sekarang berarti certainty equivalent-nya adalah Rp500.000. Hal ini dianggap "sama enaknya" dengan potensi menahan posisi yang rata-rata bernilai Rp1.000.000.
Risk premium merupakan selisih antara expected value dan certainty equivalent. Dalam contoh tadi, risk premium-nya adalah Rp1.000.000 − Rp500.000 = Rp500.000, nilai potensi keuntungan yang rela "dikorbankan" investor demi memastikan cuan tidak hilang.
Semakin besar risk premium seseorang, semakin tinggi pula tingkat risk aversion-nya. Prinsip yang sama juga berlaku saat memegang ETF saham AS: makin dekat dengan target profit, makin besar godaan untuk "jual sekarang" ketimbang menahan demi potensi kenaikan lebih lanjut.
Contoh Risk Averse
Dalam praktik sehari-hari, sikap risk averse hadir di kebiasaan dan pilihan finansial yang konkret. Umumnya, beberapa contoh risk averse yang kerap muncul di antaranya:
Lebih memilih deposito daripada reksa dana saham, meskipun tahu kalau potensi imbal hasil reksa dana saham lebih tinggi dalam jangka panjang.
Menjual saham begitu harganya turun sedikit, demi "menyelamatkan" sisa modal (meskipun sebelum tren jangka panjangnya terlihat jelas).
Alih-alih menaruhnya di instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi tapi fluktuatif, mereka sebagian besar akan menyimpan dana darurat di bentuk tunai.
Tidak berani mencoba instrumen baru seperti saham AS atau ETF, meski sudah memahami konsep diversifikasi. Hal ini terjadi karena belum familier dengan volatilitasnya.
Memilih asuransi dengan premi lebih tinggi namun cakupan lebih luas, demi memastikan risiko besar benar-benar tertutup.
Kalau dari poin-poin di atas kamu merasa relate, artinya kemungkinan kamu punya kecenderungan risk averse. Sifat ini wajar kok, dan bukan berarti kamu tidak bisa berinvestasi, cuma perlu pendekatan yang sesuai dengan kenyamananmu.
Risk Aversion vs Loss Aversion
Secara spesifik, loss aversion itu menjelaskan bahwa rasa sakit akibat kerugian terasa jauh lebih besar dibanding rasa senang dari keuntungan dengan nominal yang sama. Ini berbeda dari risk aversion yang lebih umum, yakni soal preferensi terhadap ketidakpastian.
Konsep loss aversion pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky lewat prospect theory pada 1979. Menurut temuan Kahneman dan Tversky, secara psikologis rasa "sakit" kehilangan Rp1.000.000 kira-kira terasa dua kali lipat dibanding rasa "senang" mendapat untung Rp1.000.000.
Hal ini yang sering menjelaskan kenapa banyak investor ritel bersikap terlalu takut rugi. Mereka seolah panik jual saat harga saham sedikit turun, atau justru enggan sama sekali menyentuh instrumen saham karena trauma volatilitas. Padahal secara rasional, peluang laba jangka panjangnya bisa jauh lebih besar dibanding risikonya.
Dalam Meta-analisis yang dilakukan Brown, dkk, (2024) di Journal of Economic Literature menggabungkan 607 estimasi dari 150 artikel dan menemukan koefisien loss aversion rata-rata sekitar 1,96 (rentang 1,82 sampai 2,10), sedikit di bawah angka klasik 2,25 tapi tetap menegaskan bahwa kerugian terasa kira-kira dua kali lebih besar daripada keuntungan yang setara.
Pilar Manajemen Risiko (Risk Control)
Dalam kerangka manajemen risiko ada istilah risk awareness dan risiko inheren. Risk awareness merupakan kesadaran akan keberadaan risiko itu sendiri. Ini jadi langkah paling awal sebelum seseorang bisa mengambil keputusan yang tepat terhadap risiko yang dihadapinya.
Sementara, risiko inheren adalah risiko bawaan yang melekat pada suatu aset atau aktivitas sebelum ada langkah pengendalian apa pun. Misalnya,
Contoh, risiko inheren dari saham individual memang lebih tinggi dibanding deposito, terlepas dari strategi mitigasi yang nanti diterapkan. Dari dua fondasi ini, manajemen risiko umumnya dibangun di atas 4 langkah mitigasi atau pilar risiko berikut:

Biasanya, pengendalian risiko atau risk control mengacu lewat empat pendekatan utama, yakni risk avoidance, risk reduction, risk transfer, dan risk acceptance.
Pendekatan | Penjelasan | Contoh Penerapan |
Risk Avoidance | Risk avoidance merupakan upaya menghindari sepenuhnya aktivitas/aset yang berisiko tinggi. | Tidak membeli instrumen dengan leverage karena dianggap terlalu fluktuatif. |
Risk Reduction | Mengurangi kemungkinan atau dampak risiko tanpa menghindarinya sepenuhnya. | Diversifikasi portofolio ke beberapa aset (tidak saling berkorelasi). |
Risk Transfer | Memindahkan sebagian risiko ke pihak lain. | Membeli produk asuransi untuk melindungi dari risiko finansial besar. |
Risk Acceptance | Menerima risiko secara sadar karena dampaknya relatif kecil. Selain itu, biaya mitigasinya lebih besar dari manfaatnya. | Menyisihkan porsi kecil portofolio untuk instrumen volatil sebagai bagian dari strategi jangka panjang. |
Bagi investor yang cenderung risk averse, kombinasi risk reduction (lewat diversifikasi) dan risk acceptance menjadi porsi kecil yang jadi jalan tengah paling realistis. Hal ini dilakukan dibanding risk avoidance total yang justru bisa menghambat pertumbuhan aset dalam jangka panjang.
Di Mana Posisimu? Risk Aversion dan Profil Risiko
Di Indonesia, tingkat risk aversion indiviu biasanya dipetakan melalui kuesioner profil risiko yang mengacu pada kerangka edukasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Profil risiko investor umumnya terbagi menjadi tiga kategori, yakni konservatif, moderat, dan agresif.
Profil Risiko | Karakteristik | Instrumen Tipikal |
Konservatif | Sangat risk averse Mengutamakan keamanan modal di atas segalanya. | Deposito, Surat Berharga Negara (SBN). |
Moderat | Siap menerima fluktuasi tertentu. Demi potensi imbal hasil lebih tinggi. | Reksa dana campuran, obligasi korporasi. |
Agresif | Toleransi risiko tinggi Cocok untuk karakter yang nyaman dengan fluktuasi besar demi mengejar potensi keuntungan maksimal. | Saham, ETF, instrumen dengan volatilitas tinggi |
Sebelum membeli produk investasi seperti reksa dana, kamu biasanya akan diminta mengisi kuesioner ini terlebih dahulu, supaya instrumen yang kamu pilih benar-benar sesuai dengan tingkat kenyamananmu terhadap risiko.
Investor Risk Averse Juga Tetap Bisa Bertumbuh lewat Gotrade
Kalaupun kamu tipe investor yang risk averse, bukan berarti kamu tidak bisa mengeksplor instrumen global. Melalui modal yang rendah, diversifikasi, dan horizon waktu panjang, kamu tetap bisa mendapat eksposur ke saham dan ETF Amerika Serikat secara fraksional.
Investasi ke saham AS dan ETF global bisa kamu lakukan di aplikasi Gotrade dengan aman. Aplikasi ini sudah berizin Otoritas Jasa Keuangan serta didukung Nasdaq dan TradingView. Buka akun Gotrade sekarang dan mulai investasi saham AS dari $1.
Kesimpulan
Risk aversion adalah konsep kecenderungan menghindari ketidakpastian, sementara risk averse merupakan sebutan bagi tipe investor yang punya kecenderungan tersebut. Keduanya normal dan bukan sesuatu yang perlu dihindari begitu saja.
Kunci pentingnya yaitu dengan mengenali profil risikomu sendiri lewat risk awareness, memahami pilar manajemen risiko mulai dari identifikasi hingga pengendalian (risk control). Dengan begitu, kamu bisa menyusun strategi investasi yang sesuai dan lebih bijak.
Misalnya, lewat diversifikasi, horizon waktu panjang, maupun ukuran posisi yang terukur. Mulai belajar dan praktik investasi bisa jadi langkah awal yang baik.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














