Ingin punya investasi di banyak perusahaan tanpa harus memilih saham satu per satu? ETF bisa menjadi salah satu pilihannya. Dalam satu produk, kamu bisa mendapatkan eksposur ke berbagai aset sekaligus dan memperdagangkannya di bursa seperti saham.
Menurut Investopedia, ETF banyak digunakan karena menggabungkan diversifikasi dengan fleksibilitas transaksi. Namun, setiap ETF memiliki aset, strategi, dan risiko yang berbeda. Karena itu, memahami cara kerja dan karakteristiknya penting sebelum kamu memilih ETF untuk portofolio.
Artikel ini akan membahas pengertian ETF, cara kerja, jenis, keuntungan dan risiko, hingga cara memilih dan mulai berinvestasi ETF.
ETF atau Exchange-Traded Fund adalah reksa dana yang unitnya diperdagangkan di bursa seperti saham. Menurut PT Bursa Efek Indonesia (BEI), ETF berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) dan menggabungkan pengelolaan dana seperti reksa dana dengan mekanisme jual beli seperti saham.
Sederhananya, satu ETF dapat berisi kumpulan saham, obligasi, atau aset lainnya. Jadi, kamu bisa mendapatkan eksposur ke banyak aset dalam satu transaksi tanpa harus membelinya satu per satu.
**Dengan membeli satu ETF, investor memperoleh eksposur ke berbagai aset sekaligus sehingga portofolio menjadi lebih terdiversifikasi.
Cara kerja ETF sebenarnya cukup sederhana. ETF mengumpulkan berbagai aset dalam satu produk, lalu unitnya diperdagangkan di bursa seperti saham. Ketika kamu membeli ETF, kamu mendapatkan eksposur ke aset yang ada di dalam portofolio bisnis tanpa harus membelinya satu per satu.
Sebagai contoh, ETF yang mengikuti S&P 500 sudah pasti memberi kamu eksposur ke berbagai perusahaan yang tergabung dalam indeks tersebut. Nilainya akan bergerak, mengikuti kinerja indeks.
Kenapa Harga ETF Bisa Berubah Setiap Waktu?
ETF diperdagangkan di bursa, sehingga harga ETF terbentuk dari aktivitas jual dan beli para investor sepanjang jam jual beli dibuka. Waktu permintaan meningkat, maka harga ETF juga akan ikut naik. Namun, jika tekanan jual tinggi, maka harganya ikut turun. Jadi, harga ETF bisa berubah sepanjang hari, mengikuti aktivitas jual beli yang dilakukan para investor.
Jenis-Jenis ETF yang Perlu Diketahui
ETF memiliki berbagai jenis berdasarkan aset yang dimiliki. sektor yang menjadi fokus, wilayah investasi, maupun strategi yang digunakan. Dengan kamu memahami jenis-jenis ETF, tentunya akan membantu kamu dalam memilih ETF untuk berinvestasi. Berikut jenis ETF yang perlu kamu ketahui!
1. Equity ETF
Equity ETF berisi kumpulan saham dan biasanya mengikuti indeks tertentu, seperti S&P 500 atau Nasdaq-100. Hanya dengan satu ETF, kamu dapat memiliki eksposur ke banyak perusahaan tanpa perlu membeli sahamnya satu per satu. Tapi perlu kamu catat juga bahwa karakter dan risiko ETF ini tetap bergantung pada indeks serta saham yang ada di dalam portofolionya.
2. Bond ETF
Bond ETF berinvestasi pada obligasi pemerintah maupun korporasi.Kalau kamu membeli ETF ini, kamu mendapatkan eksposur ke sejumlah obligasi dalam satu produk tanpa harus memilih dan membeli setiap obligasi secara langsung. Karakteristik dan risikonya tetap bergantung pada jenis obligasi yang ada di dalam portofolionya.
3. Sector ETF
Sector ETF berfokus pada perusahaan dalam sektor industri tertentu, seperti teknologi, kesehatan, energi, atau keuangan. ETF jenis ini bisa membuat kamu mendapatkan eksposur yang lebih spesifik terhadap suatu sektor tanpa harus memilih perusahaan satu per satu. Mengingat fokusnya lebih sempit, pergerakannya juga dapat dipengaruhi kuat oleh kondisi sektor tersebut.
4. Commodity ETF
Commodity ETF memberikan eksposur terhadap komoditas seperti emas, perak, atau minyak. Jenis ETF ini bisa jadi salah satu cara untuk kamu menambahkan aset komoditas dalam portofolio investasimu, tanpa harus punya komoditas tersebut secara nyata. Kinerjanya tetap dipengaruhi oleh perubahan harga komoditas yang menjadi acuannya.
5. International ETF
International ETF memberikan eksposur ke pasar di luar satu negara. Dengan satu produk, kamu bisa memiliki akses ke perusahaan berbagai negara. Jenis ETF ini dapat digunakan, untuk memperluas diversifikasi portofolio secara geografis.
6. Dividend ETF
Dividend ETF memakai strategi yang berfokus pada saham dengan karakteristik atau riwayat pembayaran dividen tertentu. ETF ini dapat menjadi pilihan bagi para investor yang ingin mendapatkan eksposur ke perusahaan yang membagikan dividen. Tetapi perlu dipahami, soal pembagian dividen tetap bergantung pada kebijakan ETF dan aset yang ada di dalam portofolionya.
Jenis ETF
Fokus Investasi
Umumnya Cocok Untuk
Equity ETF
Saham
Investor yang ingin mengikuti pertumbuhan pasar saham
Bond ETF
Obligasi
Investor yang mencari kestabilan portofolio
Sector ETF
Sektor tertentu
Investor dengan pandangan pada industri tertentu
Commodity ETF
Komoditas
Diversifikasi dan lindung nilai terhadap kondisi pasar
Dividend ETF
Saham pembayar dividen
Investor yang mencari potensi pendapatan dividen
International ETF
Pasar global
Investor yang ingin memperluas diversifikasi lintas negara
ETF vs Saham vs Reksa Dana: Apa Bedanya?
ETF sering disebut sebagai instrumen yang berada di antara saham dan reksa dana. Dari sisi pengelolaan, ETF memiliki kemiripan dengan reksa dana karena berisi kumpulan aset yang dikelola sesuai strategi tertentu. Namun, dari sisi transaksi, sebenarnya ETF juga diperjualkan di bursa sehingga dapat dibeli dan dijual kapan saja selama jam perdagangan, seperti transaksi jual beli pada saham. Perbedaan ini membuat masing-masing instrumen memiliki karakteristik yang berbeda. Saham memberikan investor kepemilikan langsung pada suatu perusahaan, berbeda dengan reksa dana yang mengumpulkan dana investor untuk dikelola sesuai strategi oleh manajer investasi. Sedangkan ETF memiliki karakteristik serupa dengan reksa dana dari sisi kumpulan aset, tetapi unitnya diperdagangkan di bursa seperti saham.
ETF menawarkan beberapa karakteristik yang membuatnya menarik bagi investor, terutama mereka yang ingin membangun portofolio terdiversifikasi tanpa memilih banyak aset secara individual. Namun, kemudahan tersebut bukan berarti ETF bebas dari risiko.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di European Scientific Journal, ETF dinilai berkembang pesat karena menawarkan kombinasi diversifikasi, transparansi, likuiditas, dan biaya pengelolaan yang relatif rendah dibanding banyak produk investasi lainnya. Pada penelitian ini juga ditekankan, kalau TEF bukan pilihan yang cocok bagi semua investor. Sebelum memulai investasi, ada baiknya kamu memahami betul apa tujuan investasimu, menganalisa profil risiko serta memahami waktu jual dan pembelian ETF, agar tujuan finansialmu bisa tercapai.
Keuntungan Investasi ETF
ETF memberi kamu cara praktis untuk mendapatkan eksposur ke banyak aset dalam satu transaksi. Selain diversifikasi, ETF juga bisa diperjualbelikan selama jam bursa dan umumnya memiliki biaya pengelolaan yang relatif rendah, terutama ETF yang mengikuti indeks secara pasif.
Risiko Investasi ETF
Diversifikasi tidak membuat ETF bebas risiko. Pasalnya, saham bisa naik dan turun. Nilainya tetap bisa turun ketika pasar atau aset acuannya melemah. Untuk ETF tertentu, kamu juga perlu memperhatikan tracking error, risiko perubahan nilai tukar, serta likuiditas yang dapat memengaruhi kemudahan saat melakukan transaksi.
6 Cara Memilih ETF yang Tepat
Banyaknya pilihan ETF bisa membuat proses memilih terasa membingungkan. Daripada hanya melihat ETF yang sedang populer, lebih baik mulai dari tujuan investasi dan memahami apa yang sebenarnya ada di dalam produk tersebut.
1. Tentukan Tujuan Investasimu
Tentukan dulu apa yang ingin kamu capai. Apakah kamu ingin mendapatkan eksposur ke pasar saham Amerika secara luas, fokus pada sektor tertentu, atau mencari ETF dengan strategi dividen? Tujuan ini akan membantumu dalam mempersempit pilihan, mengingat tiap ETF memiliki strategi yang berbeda-beda.
2. Pahami Indeks Acuannya
Jika ETF mengikuti indeks tertentu, pahami aset yang ada di dalamnya dan bagaimana indeks tersebut dibentuk. Dengan begitu, kamu tidak hanya memilih ETF berdasarkan namanya, tetapi tahu eksposur yang sebenarnya kamu dapatkan.
3. Perhatikan Expense Ratio
Expense ratio menunjukkan biaya operasional tahunan ETF. Biaya yang lebih rendah dapat membantu mengurangi beban investasi dalam jangka panjang, tetapi tetap perlu dibandingkan dengan faktor lain seperti strategi dan kinerja ETF.
4. Lihat Ukuran Dana Kelolaan dan Likuiditas
Perhatikan ukuran dana kelolaan atau Assets Under Management (AUM) serta aktivitas perdagangannya. Likuiditas yang baik dapat memudahkan kamu melakukan transaksi, sementara bid-ask spread membantu melihat selisih antara harga beli dan jual.
5. Pelajari Komposisi Portofolionya
Jangan hanya melihat nama ETF. Periksa aset yang ada di dalamnya, termasuk bobot masing-masing aset. Dua ETF dengan tema yang sama belum tentu memiliki komposisi portofolio yang serupa.
6. Sesuaikan dengan Profil Risiko
Pilih ETF yang sesuai dengan kemampuan dan kenyamananmu menghadapi fluktuasi. ETF pasar luas dan ETF yang berfokus pada sektor tertentu, misalnya, dapat memiliki tingkat risiko yang berbeda.
Mengenal Contoh ETF Populer di Amerika Serikat
Pasar Amerika Serikat menawarkan berbagai ETF dengan tujuan dan strategi yang berbeda. Beberapa nama berikut sering digunakan sebagai contoh untuk memahami kategori ETF, bukan berarti satu produk otomatis lebih baik daripada yang lain.
Setelah memahami jenis dan karakteristik ETF, berikut beberapa contoh ETF yang dapat membantu kamu melihat penerapannya di pasar Amerika Serikat:
VOO, mengikuti indeks S&P 500 dan memberikan eksposur ke berbagai perusahaan besar di Amerika Serikat.
VTI, memberikan eksposur yang lebih luas terhadap pasar saham Amerika Serikat, termasuk perusahaan dengan berbagai ukuran.
QQQ, mengikuti indeks Nasdaq-100 yang memiliki eksposur besar terhadap perusahaan teknologi dan growth.
SCHD, berfokus pada saham dengan karakteristik dividen, sehingga dapat menjadi contoh ETF dengan strategi pendapatan.
BND, memberikan eksposur ke pasar obligasi Amerika Serikat dan menunjukkan bahwa ETF tidak hanya digunakan untuk investasi saham.
Catatan: Contoh di atas digunakan untuk menjelaskan karakteristik masing-masing ETF, bukan sebagai rekomendasi untuk membeli produk tertentu.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Berinvestasi ETF
Sebelum membeli ETF, ada beberapa kesalahan umum yang sebaiknya kamu hindari agar pilihanmu tetap sesuai dengan tujuan investasi.
Memilih ETF hanya karena sedang populer. Popularitas tidak selalu berarti sesuai dengan tujuan investasimu.
Tidak memahami indeks acuannya. Pastikan kamu tahu aset dan strategi yang diikuti ETF.
Mengabaikan expense ratio. Biaya kecil tetap dapat memengaruhi hasil investasi dalam jangka panjang.
Menganggap semua ETF memiliki risiko yang sama. Setiap ETF punya karakteristik dan tingkat fluktuasi berbeda.
Terlalu fokus pada harga per unit. Harga murah tidak otomatis berarti ETF lebih menarik.
Mengira diversifikasi berarti bebas risiko. ETF tetap bisa turun ketika pasar atau aset acuannya melemah.
Mulai Investasi ETF dengan Gotrade
Setelah memahami cara kerja dan faktor yang perlu diperhatikan, kamu bisa mulai mengenal ETF yang tersedia di pasar Amerika Serikat melalui Gotrade. Pilih ETF berdasarkan tujuan dan strategi investasimu, lalu pahami karakteristiknya sebelum melakukan transaksi. Lewat Gotrade, kamu bisa mengakses berbagai ETF Amerika dalam satu aplikasi. Download aplikasi Gotrade dan mulai kenali ETF yang sesuai dengan tujuan investasimu.
Gabriella dengan pengalaman 2+ tahun sebagai Content Writer yang telah menangani berbagai niche, mulai dari digital marketing, mental health, parenting, travel, furniture, teknologi, hingga finansial. Ia memiliki ketertarikan dalam menulis topik seputar finansial dan investasi. Berbekal latar belakang S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, ia terbiasa melakukan riset, keyword research, menulis artikel yang mengikuti prinsip E-E-A-T, serta melakukan editing dan proofreading agar konten lebih akurat, relevan, dan nyaman dibaca.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.