Harga saham naik 4% hari ini. Kelihatannya menarik. Tapi ada satu hal yang belum terjawab: kenaikan itu terjadi saat pasar benar-benar ramai, atau hanya karena transaksi yang relatif tipis?
Di sinilah volume trading berguna.
Volume membantu kamu melihat seberapa aktif sebuah saham diperdagangkan ketika harga bergerak. Namun, volume bukan tombol buy atau sell. Angkanya baru lebih bermakna setelah dibandingkan dengan pergerakan harga, rata-rata volume historis, level teknikal, dan apa yang sedang terjadi pada perusahaan.
Sebelum menggunakan volume untuk membaca chart, hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah mengetahui apa yang sebenarnya dihitung oleh indikator ini.
Jumlah saham atau kontrak yang diperdagangkan selama periode waktu tertentu disebut volume trading.
Jika ada satu transaksi saham AS di mana 100 saham berpindah tangan, maka volume transaksi tersebut adalah 100 saham. Menurut Nasdaq, share volume adalah jumlah saham yang benar-benar ditransaksikan.
Volume dapat dilihat dalam berbagai interval waktu. Pada chart harian, satu batang volume biasanya mewakili aktivitas yang terjadi selama satu hari. Pada chart 15 menit, setiap batang mewakili volume yang terjadi selama 15 menit tersebut.
Histogram volume biasanya terletak tepat di bawah grafik harga.
Hal yang sering salah dipahami
Volume tinggi tidak selalu berarti lebih banyak pembeli daripada penjual.
Setiap transaksi melibatkan dua pihak: satu pihak membeli dan satu pihak menjual. Yang berubah adalah seberapa aktif transaksi berlangsung dan pada harga berapa keduanya bertemu.
Oleh karena itu, peningkatan volume lebih tepat diinterpretasikan sebagai tanda meningkatnya aktivitas pasar, bukan sebagai sinyal yang langsung menunjukkan tren bullish atau bearish.
Cara Membaca Volume Trading
Setelah memahami definisinya, tantangannya adalah menentukan apakah angka volume di chart benar-benar signifikan atau hanya aktivitas biasa.
Angka volume saja tidak banyak membantu. Satu saham mungkin memiliki volume 5 juta lembar setiap hari, tetapi untuk saham lain angka tersebut bisa tergolong sepi.
Membacanya secara relatif adalah pendekatan yang lebih logis.
1. Bandingkan dengan volume normal
Misalnya, saham A rata-rata diperdagangkan 10 juta lembar setiap hari selama beberapa minggu terakhir.
Volumenya saat ini mencapai 25 juta lembar.
Informasinya bukan hanya "volume 25 juta", tetapi aktivitas hari ini sekitar 2,5 kali lebih tinggi dari biasanya.
Untuk menentukan apakah aktivitas suatu periode berada di atas atau di bawah rata-rata, Fidelity juga menggunakan pendekatan average volume.
Untuk analisis intraday, jangan membandingkan volume tengah hari dengan volume satu hari penuh. Gunakan perbandingan yang sesuai dengan jangka waktu yang sedang kamu amati.
2. Baca volume saat harga bergerak
Volume menjadi lebih bermanfaat ketika dibaca bersama pergerakan harga.
Beberapa kondisi yang dapat diamati antara lain:
Harga naik + volume meningkat: partisipasi dalam kenaikan sedang meningkat.
Harga naik + volume menurun: kenaikan terjadi dengan partisipasi yang lebih kecil.
Harga turun + volume meningkat: aktivitas meningkat ketika harga sedang tertekan.
Harga turun + volume menurun: aktivitas selama penurunan mulai berkurang.
Namun, pola ini bukan aturan untuk menentukan harga berikutnya.
Charles Schwab menjelaskan bahwa perubahan volume di atas rata-rata dapat membantu trader melihat seberapa besar partisipasi di balik tren atau breakout. Namun, perubahan volume saja tidak cukup untuk memprediksi arah harga berikutnya.
Volume Saat Breakout
Breakout adalah salah satu keadaan yang paling sering diperhatikan oleh trader karena mereka ingin tahu apakah penembusan level harga terjadi dengan partisipasi pasar yang lebih besar.
Sederhananya, katakanlah sebuah saham tertahan di US$100 beberapa kali, lalu harganya naik ke US$103 dengan volume 2,5 kali rata-rata. Ini menunjukkan bahwa penembusan US$100 terjadi bersamaan dengan aktivitas pasar yang jauh lebih tinggi daripada biasanya.
Itu membuat breakout lebih penting untuk diperhatikan. Namun, ini tidak berarti trader harus langsung membeli.
Selain itu, periksa apakah harga dapat bertahan di atas level tersebut, apa katalis yang mendorong pergerakan, seperti apa spread-nya, dan di mana titik invalidasi jika harga kembali ke range sebelumnya.
Volume membantu memberikan konfirmasi, bukan kepastian.
Contoh Membaca Volume Trading
Situasi pasar yang umum bisa membantu kamu memahami teori volume dengan lebih mudah.
1. Breakout dengan volume tinggi
Saham ABC memiliki resistance di US$50 dan rata-rata volume 8 juta saham setiap hari.
Pada suatu hari, harga ditutup di US$52 dengan volume 20 juta saham. Volume sekitar 2,5 kali rata-rata menunjukkan bahwa breakout terjadi saat aktivitas meningkat cukup besar.
Setelah itu, trader dapat melihat apakah harga mampu bertahan di atas US$50 pada sesi berikutnya.
Yang keliru adalah menganggap bahwa volume tinggi berarti harga akan terus naik.
2. Harga turun setelah earnings
Sebuah perusahaan merilis laporan keuangan. Volume melonjak beberapa kali lipat dari rata-rata, sementara harga saham turun 9%.
Volume yang tinggi dalam kondisi ini tidak secara otomatis menunjukkan bahwa saham sudah murah atau akan rebound.
Pasar mungkin sedang menilai kembali informasi baru, seperti guidance yang menurun, margin yang melemah, atau prospek bisnis yang berubah.
Sebelum mengambil keputusan, faktor yang menyebabkan lonjakan volume perlu diperhatikan terlebih dahulu.
3. Saham kecil tiba-tiba ramai
Saham small-cap biasanya hanya diperdagangkan sekitar 300 ribu saham setiap hari. Setelah berita dirilis, volumenya meningkat menjadi 2 juta saham.
Secara relatif, peningkatannya cukup besar.
Namun, ini tidak berarti masalah likuiditas otomatis selesai. FINRA menjelaskan bahwa meskipun volume yang lebih tinggi umumnya berkaitan dengan likuiditas yang lebih baik, spread dan jumlah pelaku pasar pada berbagai level harga juga perlu diperhatikan.
Karena itu, jangan melihat volume secara terpisah.
Relative Volume: Membandingkan Volume dengan Kondisi Normal
Setiap saham memiliki tingkat aktivitas perdagangan yang berbeda, sehingga angka volume absolut sering sulit dibandingkan begitu saja.
Untuk mengetahui seberapa aktif sebuah saham dibandingkan kondisi normalnya, trader juga sering menggunakan relative volume, atau RVOL.
Secara sederhana, relative volume dihitung dengan membagi volume saat ini dengan volume rata-rata. Misalnya, jika sebuah saham memiliki volume rata-rata 10 juta lembar dan volume hari ini mencapai 20 juta lembar, maka relative volume-nya sekitar 2 kali rata-rata.
Inilah alasan mengapa angka absolut sering menyesatkan.
Volume 10 juta mungkin tergolong normal untuk saham mega-cap. Namun, untuk saham yang biasanya hanya diperdagangkan 500 ribu lembar per hari, angka tersebut justru sangat tidak biasa.
Perlu diingat bahwa metode yang digunakan untuk menghitung RVOL dapat berbeda antarplatform, terutama untuk data intraday.
Indikator Berbasis Volume yang Perlu Kamu Ketahui
Beberapa indikator menggunakan data volume untuk membantu trader melihat aktivitas pasar dari berbagai sudut, selain histogram volume biasa.
Kamu tidak perlu memasang semuanya sekaligus. Beberapa indikator yang paling umum untuk pemula antara lain:
1. Average Volume
Average volume menunjukkan rata-rata volume perdagangan dalam periode tertentu.
Indikator ini dapat membantu melihat apakah aktivitas perdagangan saat ini berada di atas atau di bawah kondisi normal.
2. Relative Volume (RVOL)
RVOL menunjukkan seberapa besar volume saat ini dibandingkan dengan volume rata-rata.
Karena menggunakan perbandingan, RVOL biasanya lebih bermanfaat daripada hanya melihat angka volume saat ini.
3. On-Balance Volume (OBV)
OBV adalah indikator yang menggunakan volume dan arah pergerakan harga untuk melihat apakah tekanan volume bergerak sejalan dengan tren harga.
4. Volume-Weighted Average Price (VWAP)
VWAP menghitung rata-rata harga transaksi dengan mempertimbangkan volume perdagangan.
VWAP lebih sering digunakan sebagai benchmark intraday daripada sebagai sinyal untuk menentukan arah harga.
Tidak ada indikator berbasis volume yang dapat memprediksi harga selanjutnya dengan pasti.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membaca Volume
Volume terlihat sederhana, sehingga cukup mudah untuk menarik kesimpulan terlalu cepat dari satu lonjakan atau satu batang histogram. Beberapa kesalahan berikut cukup umum.
Menganggap volume tinggi selalu bullish Volume tinggi hanya menunjukkan aktivitas pasar yang meningkat. Harga tetap dapat naik, turun, atau bahkan berbalik setelah volume melonjak.
Melihat volume tanpa membandingkannya Volume 10 juta saham bisa tergolong normal untuk satu saham, tetapi sangat tinggi untuk saham lain. Karena itu, bandingkan volume saat ini dengan rata-rata volume saham tersebut pada periode sebelumnya.
Menganggap volume besar berarti institusi sedang membeli Dari volume saja, kamu tidak dapat mengetahui siapa yang melakukan transaksi atau alasan mereka membeli dan menjual. Volume tinggi tidak selalu berarti sedang terjadi akumulasi institusi.
Mengabaikan penyebab lonjakan volume Berita perusahaan, perubahan guidance, aksi korporasi, atau kondisi pasar dapat menyebabkan volume melonjak. Sebelum menarik kesimpulan dari chart, cari tahu penyebabnya terlebih dahulu.
Menggunakan volume sebagai sinyal tunggal Volume lebih bermanfaat sebagai alat konfirmasi. Sebelum membuat keputusan, perhatikan juga tren, support dan resistance, pergerakan harga, serta konteks penting lainnya.
Menyamakan volume tinggi dengan likuiditas tinggi Keduanya berkaitan, tetapi tidak sama. Bid-ask spread dan kedalaman order juga perlu diperhatikan, terutama pada saham berkapitalisasi kecil.
Volume Trading dan Likuiditas Tidak Sama
Meskipun volume sering digunakan untuk menilai aktivitas saham, aktivitas perdagangan dan likuiditas sebenarnya mengukur hal yang berbeda.
Dalam banyak kasus, saham yang aktif diperdagangkan memang lebih mudah diperjualbelikan. Namun, likuiditas juga dipengaruhi oleh bid-ask spread, kedalaman pasar, ukuran transaksi, dan jumlah order yang tersedia pada berbagai level harga.
Menurut FINRA, saham dengan volume perdagangan harian yang lebih besar biasanya memiliki likuiditas yang lebih tinggi. Namun, volume atau spread saja tidak memberikan gambaran yang lengkap jika dilihat secara terpisah.
Hal ini penting untuk kamu perhatikan, terutama ketika memperdagangkan saham berkapitalisasi kecil atau saham yang baru saja mendapat perhatian pasar.
Jadi, Kapan Volume Berguna?
Volume paling berguna ketika tidak dilihat secara terpisah, tetapi digunakan untuk mengonfirmasi pergerakan harga.
Ada breakout, ada level harga yang sedang diuji, atau ada tren yang sudah berjalan. Bisa juga ada berita yang menyebabkan pergerakan saham lebih besar dari biasanya.
Volume membantu menjawab pertanyaan berikutnya: apakah pergerakan itu diikuti oleh partisipasi pasar yang meningkat atau justru mengecil?
Cara membacanya sebaiknya tetap sederhana.
Lihat harga, bandingkan volume dengan kondisi normal, cari tahu faktor pendorongnya, lalu tentukan apa yang membuat analisismu salah.
Bukan sebaliknya.
Kesimpulan
Meskipun informasi yang diberikan terbatas, volume trading dapat membantu memberi konteks tambahan saat membaca chart.
Seberapa aktif saham diperdagangkan dapat dilihat dari volumenya. Setelah berita dirilis, data ini dapat membantu kamu memahami tren, breakout, koreksi, dan lonjakan harga.
Namun, volume tidak memprediksi harga dan sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Daripada hanya mencari "volume tinggi", bandingkan aktivitas saat ini dengan rata-rata saham tersebut, lihat posisi harga terhadap level penting, pahami katalisnya, dan tentukan batas risiko sebelum membuka posisi.
Jika kamu ingin mempelajari saham AS, kamu bisa mulai dengan membuat watchlist lalu memeriksa harga, volume, dan berita terbaru sebelum membuat keputusan.
Melalui aplikasi Gotrade, kamu dapat memantau dan melakukan transaksi saham AS langsung dari satu platform.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Atalya adalah content marketer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga keuangan. Spesialis dalam penulisan topik bisnis, teknologi, dan keuangan untuk audiens profesional.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.