Yield dalam Saham: Jenis, Cara Hitung, dan Faktor yang Mempengaruhi

Ringkasan Gotrade
- Yield dalam saham digunakan untuk melihat dividen, laba, arus kas, atau pengembalian modal relatif terhadap harga atau nilai pasar.
- Dividend yield, earnings yield, FCF yield, dan shareholder yield mengukur hal yang berbeda sehingga perlu dibaca sesuai konteksnya.
- Sebelum membandingkan yield, pastikan jenis, periode, dan metode perhitungannya sama agar perbandingan lebih relevan.
Saat membuka data fundamental sebuah saham kamu mungkin akan menemukan istilah seperti dividend yield, earnings yield, dan free cash flow yield. Meski sama-sama menggunakan kata yield, ketiganya mengukur hal yang berbeda-beda.
Dividend yield berfokus pada dividen, earnings yield pada laba sedangkan free cash flow yield melihat arus kas bebas relatif terhadap nilai pasar perusahaan.
Karena itu, jangan langsung menilai sebuah saham hanya dari angka yield yang tinggi saja. Pahami dulu jenis yield yang digunakan dan apa yang sebenarnya diukur.
Apa Itu Yield dalam Saham?
Secara umum, yield adalah rasio yang menunjukkan hasil atau pendapatan relatif terhadap harga atau nilai investasi dan biasanya dinyatakan dalam persentase.
Menurut Corporate Finance yield berfokus pada pendapatan yang dihasilkan dari suatu investasi dan berbeda dari capital gain yang berasal dari perubahan harga.
Dalam saham, istilah yield merujuk pada beberapa ukuran, seperti dividend yield, earnings yield atau free cash flow yield. Karena itu, ketika melihat angka “yield 8%” kamu perlu mengetahui terlebih dahulu 8% tersebut berasal dari apa.
Misalnya, saham seharga US$50 membayar dividen US$2 per tahun maka dividend yield-nya adalah:
US$2 ÷ US$50 × 100% = 4%
Jika EPS saham tersebut sebesar US$5 maka earnings yield-nya akan menjadi:
US$5 ÷ US$50 × 100% = 10%
Jadi, satu saham bisa saja memiliki beberapa angka yield sekaligus karena masing-masing yield mengukur hal yang berbeda.
Rumus dan Cara Menghitung Yield
Tidak ada satupun rumus yield yang berlaku untuk semua jenis yield saham karena ukuran keuangan yang digunakan berbeda.
Secara umum rumus yield adalah:
Yield = Financial Measure ÷ Price atau Market Value × 100%
Perbedaan setiap yiekd terletak pada financial measure yang digunakan. Perhatikan tabel berikut ini:
Jenis Yield | Rumus Dasar | Mengukur |
Annual DPS ÷ Share Price | Dividen relatif terhadap harga saham | |
Earnings Yield | EPS ÷ Share Price | Laba relatif terhadap harga saham |
FCF Yield | Free Cash Flow ÷ Market Cap | Arus kas bebas relatif terhadap nilai pasar |
Shareholder Yield | Dividend Yield + Net Buyback Yield | Distribusi modal kepada pemegang saham |
Karena setiap yield mengukur hal yang berbeda kamu jangan langsung membandingkan dividend yield 4% dengan earnings yield 8% lalu menyimpulkan bahwa angka 8% lebih baik.
Sebelum membandingkan yield, kamu harus pastikan jenis yield dan komponen yang digunakan dalam perhitungannya sama.
Jenis-Jenis Yield dalam Saham
Dalam analisis saham, istilah yield bisa merujuk pada beberapa ukuran yang berbeda. Karena itu, kamu harus memahami apa yang menjadi dasar perhitungannya.
1. Dividend Yield
Dividend yield menunjukkan dividen tahunan per saham relatif terhadap harga saham. Rumus yang biasa digunakan adalah:
Dividend Yield = Annual Dividend per Share ÷ Share Price × 100%
Sebagai contoh, perusahaan membayar dividen US$2 per saham dan harga sahamnya US$50, maka hasilnya adalah:
US$2 ÷ US$50 × 100% = 4%
Menurut Fidelity dividend yield membantu untuk membandingkan pembayaran dividen antar perusahaan dalam bentuk persentase. Tetapi, dividend yield juga akan dipengaruhi oleh harga saham. Jika dividen tetap US$2 tetapi harga turun dari US$50 menjadi US$40 maka yield naik dari 4% menjadi 5%.
Artinya, dividend yield yang lebih tinggi belum tentu menunjukkan kondisi perusahaan yang lebih kuat.
2. Earnings Yield
Earnings yield membandingkan EPS dengan harga saham. Rumus yang biasa digunakan adalah:
Earnings Yield = EPS ÷ Share Price × 100%
Misalnya EPS perusahaan US$5 dan harga saham US$50:
US$5 ÷ US$50 × 100% = 10%
Earnings yield merupakan kebalikan dari P/E. Jika P/E 10x, maka:
Earnings Yield = 1 ÷ 10 = 10%
Tetapi, angka tersebut bukan berarti investor akan menerima 10% dalam bentuk kas. Laba perusahaan bisa digunakan untuk dividen, buyback, pembayaran utang atau diinvestasikan kembali ke bisnis. Karena itu, earnings yield lebih tepat digunakan sebagai indikator valuasi.
3. Free Cash Flow Yield
Free cash flow yield membandingkan free cash flow perusahaan dengan nilai pasarnya.
FCF Yield = Free Cash Flow ÷ Market Capitalization × 100%
Misalnya perusahaan menghasilkan free cash flow US$3 miliar dengan market cap US$50 miliar, maka:
US$3 miliar ÷ US$50 miliar × 100% = 6%
FCF yield bisa memberi perspektif tambahan karena laba akuntansi dan arus kas belum tentu bergerak sama. Tetapi, free cash flow juga tidak seluruhnya dibagikan kepada investor. Dana tersebut bisa digunakan untuk buyback, dividen, pembayaran utang, akuisisi atau investasi kembali ke bisnis.
Karena itu, kamu harus perhatikan juga apakah FCF perusahaan cukup konsisten atau hanya tinggi pada periode tertentu saja.
4. Shareholder Yield
Shareholder yield digunakan untuk melihat pengembalian modal kepada pemegang saham secara lebih luas tidak hanya melalui dividen tetapi juga share buyback.
Dalam versi sederhana rumus yang biasa digunakan adalah:
Shareholder Yield = Dividend Yield + Net Buyback Yield
Net buyback yield adalah pembelian kembali saham setelah memperhitungkan penerbitan saham baru.
Misalnya:
Dividend yield: 4%
Gross buyback: US$2 miliar
Penerbitan saham baru: US$1 miliar
Market cap: US$50 miliar
Maka net buyback adalah US$1 miliar atau 2% dari market cap.
Shareholder Yield = 4% + 2% = 6%
Penggunaan net buyback penting karena perusahaan bisa melakukan buyback sekaligus menerbitkan saham baru.
Perlu diperhatikan juga bahwa definisi shareholder yield dapat berbeda antar penyedia data sehingga metodologinya perlu diperiksa sebelum membandingkan angka.
Satu Saham Bisa Memiliki Banyak Yield
Satu saham bisa memiliki beberapa angka yield karena masing-masing mengukur hal yang berbeda. Misalnya sebuah perusahaan memiliki:
Harga saham: US$50
Dividen: US$2 per saham
EPS: US$5
Market cap: US$50 miliar
Free cash flow: US$3 miliar
Net buyback: US$1 miliar
Hasilnya:
Metrik | Hasil |
Dividend Yield | 4% |
Earnings Yield | 10% |
FCF Yield | 6% |
Net Buyback Yield | 2% |
Simplified Shareholder Yield | 6% |
Tidak ada satu angka yang paling benar yang perlu diperhatikan adalah apa yang ingin kamu ukur.
Jika fokus kamu adalah pendapatan dividen maka dividend yield lebih relevan. Untuk melihat valuasi saham berdasarkan laba, kamu bisa menggunakan earnings yield.
Jika ingin melihat kemampuan perusahaan menghasilkan kas, FCF yield bisa memberi perspektif tambahan. Sementara itu, shareholder yield akan membantu kamu melihat pengembalian modal melalui dividen dan buyback secara lebih luas.
Gunakan widget berikut untuk melihat bagaimana satu saham dapat menghasilkan beberapa angka yield sekaligus, lalu bandingkan metrik mana yang paling relevan dengan hal yang ingin kamu ukur.
Faktor yang Mempengaruhi Yield Saham
Nilai yield mampu berubah karena harga saham maupun komponen keuangan yang digunakan dalam perhitungannya. Karena itu, kenaikan yield perlu dilihat bersama penyebabnya, seperti:
1. Harga Saham
Karena harga saham biasanya berada di bagian pembagi maka penurunan harga bisa membuat yield naik meskipun dividen atau laba tidak berubah.
Misalnya dividen US$2 per saham:
Harga US$50 → Dividend Yield 4%
Harga US$40 → Dividend Yield 5%
Kenaikan yield seperti ini belum tentu memiliki hasil positif karena harga bisa turun akibat ekspektasi laba melemah, risiko bisnis meningkat atau potensi pemotongan dividen.
2. Dividen dan Laba
Dividend yield naik jika dividen per saham meningkat sementara harga tetap dan earnings yield akan berubah ketika EPS berubah.
Tetapi, kenaikan dividen atau EPS tetap perlu dilihat dari kualitasnya. Kamu perlu periksa kembali apakah hal ini didukung oleh pertumbuhan operasi, free cash flow, margin, dan kondisi neraca.
3. Free Cash Flow
FCF yield bisa berubah akibat pergerakan operating cash flow maupun capital expenditure. Misalnya perusahaan meningkatkan capex untuk ekspansi.
FCF bisa turun sementara tanpa membuat bisnis memburuk. Karena itu, kamu lebih baik melihat FCF selama beberapa periode daripada hanya satu tahun.
4. Buyback dan Dilusi
Share buyback bisa meningkatkan shareholder yield. Tetapi, jika perusahaan juga menerbitkan saham baru dalam jumlah besar maka pengembalian modal bersihnya bisa lebih kecil. Karena itu, net buyback lebih berguna daripada hanya melihat nilai gross buyback.
5. Siklus Bisnis
Perusahaan di sektor siklikal seperti energi, komoditas, semikonduktor atau shipping bisa mengalami perubahan laba dan arus kas yang besar. Saat laba berada dekat puncak siklus, earnings yield atau FCF yield bisa terlihat tinggi. Angka tersebut akan turun ketika kondisi bisnis kembali normal.
6. Metodologi Data
Platform berbeda juga bisa menampilkan angka yield yang berbeda karena metode perhitungannya tidak selalu sama. Seperti Nasdaq yang menjelaskan indicated yield berdasarkan dividen terbaru yang dianualisasi relatif terhadap harga saat ini.
Platform lain bisa saja menggunakan total dividen 12 bulan terakhir. Karena itu, sebelum membandingkan yield periksa kembali apakah datanya menggunakan basis trailing atau forward, TTM atau fiscal year, serta gross atau net buyback.
Bagaimana Cara Membaca Yield dengan Benar?
Sebelum menggunakan yield untuk membandingkan saham pastikan angkanya benar-benar sebanding. Perhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Bandingkan Jenis Yield yang Sama
Jangan membandingkan dividend yield satu perusahaan dengan FCF yield perusahaan lain. Jika tujuannya untuk membandingkan valuasi atau pendapatan kamu bisa gunakan jenis yield yang sama.
2. Gunakan Periode yang Konsisten
Pastikan basis datanya sebanding, misalnya TTM dengan TTM atau forward estimate dengan forward estimate. Perbedaan periode bisa menghasilkan angka yield yang berbeda.
3. Cari Tahu Penyebab Yield Berubah
Yield bisa naik karena ukuran keuangannya meningkat atau karena harga saham turun. Keduanya membawa informasi yang berbeda-beda. Karena itu, jangan hanya melihat perubahan persentasenya.
4. Periksa Keberlanjutannya
Untuk dividend yield kamu harus memperhatikan laba, FCF, payout ratio, dan utang. Untuk FCF yield, lihat capex, working capital, dan siklus bisnis. Sementara untuk shareholder yield kamu harus periksa net buyback dan dilusinya.
5. Bandingkan dengan Peer dan Lihat Total Return
Perusahaan dari industri berbeda bisa memiliki struktur pertumbuhan, kebutuhan modal, dan kebijakan distribusi yang berbeda. Karena itu, perbandingan yield lebih relevan jika dilakukan pada perusahaan yang sejenis.
Pahami Yield Sesuai Jenis dan Konteksnya
Yield adalah istilah yang mencakup beberapa rasio dengan fungsi berbeda. Dividend yield melihat dividen, earnings yield melihat laba, FCF yield melihat arus kas bebas sedangkan shareholder yield memberi konteks lebih luas terhadap distribusi modal kepada pemegang saham.
Karena itu, jangan berhenti pada angka seperti “yield 7%”. Cari tahu dulu jenis yield, periode data yang digunakan, dan apa yang membuat angkanya tinggi.
Yield yang meningkat bisa berasal dari fundamental yang membaik, tetapi juga bisa terjadi karena harga saham turun. Selain itu, yield bukanlah total return karena perubahan harga saham juga mempengaruhi hasil investasi.
Kamu bisa menggunakan Gotrade untuk memantau saham AS yang sedang dipelajari lalu membandingkan yield dengan laba, cash flow, valuasi, dan risiko perusahaan sebelum mengambil keputusan.
Buka akun Gotrade dan mulai pantau saham AS yang ingin kamu analisis.
Referensi
Nasdaq, “Indicated Yield.”
Fidelity Investments, “Dividend Yield: What It Is and How to Calculate It.”
Corporate Finance Institute, “Yield: Definition, Formula, Stocks, Bonds, Real Estate.”
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














