Gotrade News - Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75% pada RDG 21-22 April 2026. Keputusan ini sejalan dengan strategi stabilisasi rupiah yang tertekan di kisaran Rp17.170 per dolar AS.
Gubernur Perry Warjiyo menyatakan langkah ini konsisten dengan penguatan efektivitas kebijakan moneter. BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility di 3,75% dan lending facility di 5,50%.
Key Takeaways:
- BI Rate tetap 4,75% untuk jaga stabilitas rupiah di tengah tekanan geopolitik global
- Inflasi Maret 2026 turun ke 3,48% dari 4,76% di Februari, memberi ruang kebijakan
- Proyeksi PDB Indonesia 2026 tetap 4,9%-5,7% meski pertumbuhan global direvisi ke 3%
Inflasi Maret 2026 tercatat 3,48% secara tahunan menurut data Bank Indonesia. Angka ini turun signifikan dari 4,76% pada Februari 2026.
Penurunan inflasi memberi ruang bagi BI untuk tidak menaikkan suku bunga. Target inflasi 2026-2027 ditetapkan di kisaran 2,5% plus minus 1%.
BI merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global hanya di level 3% pada tahun ini. Penurunan prospek global dipengaruhi konflik Timur Tengah dan volatilitas pasar keuangan.
Meski demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap di kisaran 4,9% hingga 5,7%. Pertumbuhan kuartal I 2026 didorong konsumsi domestik yang meningkat pasca Lebaran.
Warjiyo menegaskan BI siap memperkuat kebijakan moneter lebih lanjut jika diperlukan. Langkah ini untuk memastikan rupiah stabil dan inflasi tetap terkendali di target.
Rupiah tercatat di level Rp17.140 per dolar AS pada Selasa (21/04) menurut data Bloomberg. Mata uang Garuda melemah 0,87% dari posisi akhir Maret 2026.
Pada Rabu (22/04), rupiah bergerak di kisaran Rp17.172 per dolar AS pukul 14.00 WIB. Tekanan terhadap rupiah berlanjut seiring ketidakpastian geopolitik global yang meningkat.
BI juga menetapkan countercyclical capital buffer sebesar 0% dan rasio intermediasi di 84-94%. Kebijakan makroprudensial ini bertujuan mendorong intermediasi perbankan di tengah pelambatan global.
Belanja pemerintah turut menopang pertumbuhan melalui pencairan THR dan transfer sosial ke daerah. Investasi juga terdorong oleh akselerasi program prioritas pemerintah pada awal 2026.
Stabilisasi rupiah menjadi prioritas utama BI di tengah eskalasi konflik AS-Iran. Pelaku pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan di level saat ini dalam beberapa bulan ke depan.












