Selat Hormuz Lumpuh, Jalur Alternatif Minyak Belum Memadai

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Selat Hormuz Lumpuh, Jalur Alternatif Minyak Belum Memadai

Share this article

Gotrade News - Konflik AS-Iran terus melumpuhkan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi minyak utama dunia. International Energy Agency menyebut gangguan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah modern.

Dua supertanker Iran bernama Hero II dan Hedy menerobos blokade AS pada Minggu (20/04). Kedua kapal membawa muatan hingga 4 juta barel minyak mentah menuju perairan Laut Arab.


Key Takeaways:

  • IEA sebut gangguan Selat Hormuz sebagai disrupsi pasokan terbesar dalam sejarah modern
  • Dua supertanker Iran terobos blokade AS dengan muatan 4 juta barel minyak
  • Jalur alternatif minyak hanya mampu menampung sekitar 4,5 juta barel per hari dari kebutuhan global

Kedua kapal merupakan bagian dari armada yang membawa sekitar 9 juta barel ke pasar. Trump sebelumnya mengumumkan blokade yang melarang kapal Iran keluar masuk Teluk Persia.

AS merespons dengan menyita satu kapal kargo dan memeriksa tanker minyak di timur Sri Lanka. Namun armada Iran berhasil melewati kapal perang AS tanpa konfrontasi langsung.

Jalur Alternatif Belum Siap

East-West Pipeline Arab Saudi membentang 1.200 kilometer dari ladang minyak ke Pelabuhan Yanbu. Kapasitas teoretis mencapai 7 juta barel per hari, namun efektifnya hanya 4,5 juta barel.

Pipeline Habshan-Fujairah milik UEA sepanjang 360 kilometer menjadi alternatif lainnya. Jalur ini menghubungkan ladang darat ke Pelabuhan Fujairah di luar Selat Hormuz.

Namun kapasitas total jalur alternatif masih jauh dari cukup untuk kebutuhan global. Ancaman kelompok Houthi terhadap tanker di dekat Selat Bab el-Mandeb menambah risiko distribusi.

Dampak ke Indonesia

Indonesia turut terdampak setelah dua kapal Pertamina terjebak di Selat Hormuz. Pemerintah didesak untuk lebih aktif melobi Iran demi kelancaran pasokan minyak nasional.

Pertamina mulai mengalihkan pembelian minyak ke Afrika Barat dan Brasil untuk menjaga pasokan. Diversifikasi sumber minyak menjadi langkah darurat di tengah disrupsi Hormuz yang berkepanjangan.

Trump juga mengkaji perpanjangan pengecualian UU Jones yang diterbitkan 18 Maret 2026. Kebijakan ini membebaskan pengangkutan minyak antarpelabuhan AS dari kewajiban menggunakan kapal berbendera Amerika.

Pengecualian berdurasi 60 hari tersebut akan berakhir pada Mei 2026. Pemerintah AS menilai perpanjangan diperlukan untuk meredam tekanan harga minyak di pasar domestik.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade