Gotrade News - Blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat menciptakan efek domino hingga ke Selat Malaka di Asia Tenggara. Kepala IEA Fatih Birol memperkirakan produksi energi Timur Tengah membutuhkan waktu dua tahun untuk pulih ke level sebelum perang.
Key Takeaways:
- Blokade Selat Hormuz berdampak langsung ke Selat Malaka yang dilalui 40% perdagangan global
- IEA prediksi produksi energi Timur Tengah butuh 2 tahun untuk kembali ke level pra-perang
- Tidak ada pengisian muatan tanker baru sepanjang Maret, mengancam pasokan energi Asia
Selat Malaka menjadi titik rawan baru karena perairan ini dilalui 40% perdagangan global. Sekitar 82 ribu kapal melintas setiap tahun melalui selat yang hanya 2,7 km pada titik tersempitnya, menurut laporan Kumparan.
Presiden Trump menginstruksikan Angkatan Laut AS mencegat kapal yang membayar tarif ke Iran di perairan internasional. Perairan Selat Malaka menjadi titik penting untuk transfer minyak kapal Iran menuju negara-negara Asia, khususnya China.
Dampak ke Pasokan Energi Asia
Fatih Birol memperingatkan pasar masih meremehkan dampak penutupan Selat Hormuz jangka panjang. Tidak ada pengisian muatan tanker baru sepanjang Maret lalu, mengakibatkan terputusnya pengiriman minyak dan gas ke pasar Asia termasuk Indonesia, menurut Reuters.
"Jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali, kita harus bersiap untuk harga energi yang jauh lebih tinggi," kata Birol. IEA menegaskan kesiapan melepaskan cadangan minyak darurat jika diperlukan sebagai opsi intervensi pasar.
Respons Kawasan Asia Tenggara
Indonesia melalui Presiden Prabowo sedang mempertimbangkan proposal pemberian akses penerbangan militer AS. Namun militer Indonesia menunjukkan resistensi internal terkait risiko kedaulatan, menurut sumber yang sama.
Singapura menolak negosiasi dengan Iran dan menekankan hak transit berdasarkan hukum internasional. Malaysia telah mencapai kesepakatan terpisah dengan Iran melalui dialog tingkat tinggi untuk mengamankan jalur kapalnya.
Sekitar 70% energi dan perdagangan Asia Timur melewati perairan Indonesia termasuk Selat Malaka. Situasi ini menempatkan kawasan pada persimpangan antara kepentingan ekonomi global dan kedaulatan nasional.
Sources:













