Gotrade News - BPS menyoroti kenaikan harga cabai merah dan minyak goreng yang tercatat di lebih dari 200 kabupaten dan kota.
Tekanan harga plastik juga muncul, meski Kepala BPS menegaskan dampaknya belum terasa langsung pada konsumen akhir bulan ini.
Key Takeaways
- Cabai merah naik 7,71% di 247 kabupaten/kota dengan harga rata-rata Rp 47.637 per kilogram.
- Minyak goreng naik 1,23% di 227 kabupaten/kota, MinyaKita di Rp 16.301 melebihi HET Rp 15.700.
- Harga plastik meningkat di pasar, tetapi BPS menilai efek ke barang kemasan belum signifikan.
Menurut laporan Kumparan, cabai merah mencatat kenaikan harga di 247 kabupaten dan kota.
Rata-rata harga cabai merah berada di level Rp 47.637 per kilogram, masih di rentang HAP Rp 37.000 hingga Rp 55.000. Posisi ini tetap memberi tekanan pada belanja rumah tangga di banyak daerah.
Minyak Goreng dan Bawang Jadi Perhatian
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan minyak goreng mulai perlu mendapat perhatian karena kenaikan terjadi di 227 kabupaten dan kota.
Harga rata-rata minyak goreng mencapai Rp 19.927 per kilogram, sementara MinyaKita berada di Rp 16.301, di atas HET Rp 15.700 per liter. Selisih ini menambah beban biaya pangan rumah tangga.
Menurut pemberitaan Kompas, BPS juga meminta pemerintah menyoroti kenaikan harga bawang merah.
Komoditas hortikultura kerap menjadi pendorong inflasi volatile food di Indonesia. Pemerintah diharapkan menjaga pasokan agar tekanan harga tidak menjalar lebih luas ke daerah lain.
Plastik Belum Tembus ke Konsumen
Kepala BPS menyebut, "harga plastik yang di pasaran itu meningkat dan belum kemudian terasa secara langsung kepada konsumen."
Dampak harga plastik biasanya mengalir lewat barang kemasan seperti air mineral dan makanan kemasan. BPS akan memantau apakah biaya kemasan akhirnya diteruskan ke harga jual eceran.
Berdasarkan data BPS, bobot inflasi April 2026 didominasi tarif listrik 4,8850% dan bensin 4,4336%, dengan kontribusi bensin 0,0094%. Beras mencatat bobot 3,4260% dengan kontribusi inflasi 0,1754%.
Struktur ini menunjukkan komoditas energi dan pangan pokok tetap menjadi penggerak utama inflasi. Volatilitas pangan dari cabai, minyak goreng, dan bawang bisa menambah risiko bulan ini.
Investor yang ingin mendapat paparan ekonomi Indonesia bisa melihat EIDO sebagai proksi pasar saham domestik.
Diversifikasi ke pasar berkembang juga tersedia lewat VWO. Sementara UUP bisa menjadi acuan pergerakan dolar AS terhadap rupiah jika tekanan inflasi pangan menguat.
Komponen volatile food secara historis menjadi penggerak utama cetakan inflasi headline bulanan Indonesia selama periode April hingga Mei tiap tahun. Lonjakan harga cabai merah dan minyak goreng berisiko mendorong angka inflasi bulan Mei ke kisaran lebih tinggi dari konsensus.
Pelemahan rupiah ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS turut menaikkan biaya impor bahan baku plastik dan minyak sawit olahan. Tekanan kurs ini berpotensi memperpanjang siklus kenaikan harga pangan kemasan rumah tangga selama beberapa bulan ke depan.
Bank Indonesia kemungkinan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate demi menjaga stabilitas rupiah dan menahan ekspektasi inflasi domestik tetap terjaga. Investor global biasanya mencari US Treasury jangka panjang sebagai lindung nilai saat tekanan inflasi pasar berkembang ikut menguat.












