Gotrade News - Harga emas global turun 1% ke USD 4.495,06 per troy ounce karena investor melepas posisi di tengah kekhawatiran inflasi.
Koreksi terjadi seiring penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi pemerintah. Harga emas Antam ikut turun Rp 5.000 per gram pada perdagangan hari ini.
Key Takeaways
- Emas spot global turun 1% ke USD 4.495,06 per troy ounce, perak anjlok 2,5% ke USD 74,06.
- Antam koreksi Rp 5.000 menjadi Rp 2.764.000 per gram, sedangkan Pegadaian Galeri24 stabil di level yang sama.
- ANZ tetap optimistis dan memproyeksikan harga emas mencapai USD 6.000 per troy ounce pada pertengahan 2027.
Menurut laporan Kumparan, koreksi emas dipicu kekhawatiran inflasi dari eskalasi konflik Iran-AS. Ekspektasi suku bunga lebih tinggi mendorong yield obligasi naik dan menekan minat investor terhadap aset non-yielding.
Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1% sehingga membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Penguatan dolar secara historis menjadi tekanan utama bagi harga logam mulia di pasar internasional.
Perak mengalami koreksi lebih dalam dengan penurunan 2,5% ke USD 74,06 per troy ounce. Logam putih ini sudah turun lebih dari 5% pada minggu sebelumnya akibat aksi profit-taking investor.
Pasar Lokal Indonesia
Harga emas Antam tercatat Rp 2.764.000 per gram setelah penurunan Rp 5.000 dari sesi sebelumnya. Harga buyback Antam berada di level Rp 2.569.000 per gram untuk transaksi hari ini.
Menurut data Liputan6, Pegadaian Galeri24 mempertahankan harga emas 24 karat di Rp 2.764.000 per gram. Stabilitas Pegadaian kontras dengan koreksi yang terjadi di Antam.
Berbeda dengan emas, harga perak Antam justru naik Rp 250 per gram pada hari ini. Pergerakan berlawanan ini menunjukkan dinamika pasar logam mulia domestik yang belum sepenuhnya searah dengan pasar global.
Prospek Jangka Menengah
Analis ANZ Daniel Hynes menilai profil risk-reward emas memburuk sehingga investor mulai melepas posisi. Pernyataan ini menjelaskan tekanan jual yang muncul setelah reli panjang sepanjang awal tahun.
Meski begitu, ANZ tetap mempertahankan outlook bullish jangka menengah untuk komoditas emas. Bank investasi tersebut memproyeksikan harga emas dapat mencapai USD 6.000 per troy ounce pada pertengahan 2027.
Bagi investor saham AS, paparan terhadap pergerakan emas tersedia melalui Newmont (NEM) sebagai pure-play gold miner global. Newmont memberikan eksposur langsung pada margin operasi tambang emas terbesar.
Alternatif diversifikasi adalah VanEck Gold Miners ETF (GDX) yang menampung puluhan perusahaan tambang sekaligus. Instrumen ini cocok untuk investor yang ingin paparan sektor tanpa risiko single-stock.
Untuk eksposur perak, iShares Silver Trust (SLV) menjadi pilihan utama investor global. ETF ini bergerak mengikuti harga spot perak fisik secara langsung.
Koreksi jangka pendek ini patut diwaspadai namun tidak mengubah narasi struktural pasar logam mulia. Investor disarankan menyesuaikan ukuran posisi dengan toleransi risiko masing-masing.
Pasar saat ini menimbang ulang ekspektasi pemangkasan Fed seiring data inflasi AS yang tetap di atas target dua persen. Korelasi negatif emas terhadap dolar membuat penguatan greenback langsung menekan harga logam mulia di pasar global.
Investor lokal cenderung memegang emas Antam sebagai lindung nilai fisik, sementara saham miner menawarkan leverage terhadap kenaikan harga emas global. Perak menarik karena permintaan industrial dari panel surya dan elektronik kendaraan listrik, bukan hanya status safe-haven seperti emas.












