Gotrade News - Harga minyak global melonjak setelah ancaman Presiden Donald Trump kepada Iran kembali memicu kekhawatiran pasokan dunia. Brent kontrak Juli naik 1,98% menjadi US$111,42 per barel pada perdagangan pekan ini.
Tekanan tambahan datang dari keputusan Amerika Serikat mengakhiri relaksasi sanksi minyak Rusia. Kondisi ini memperketat pasokan global di saat persediaan dunia sudah mendekati level rekor terendah.
Key Takeaways
- Brent Juli menguat ke US$111,42 per barel, sementara WTI Juni naik 2,43% menjadi US$107,98 per barel.
- UBS memperkirakan inventori minyak global dapat mendekati rekor terendah 7,6 miliar barel pada akhir Mei 2026.
- Saham energi AS seperti XOM, CVX, dan COP berpotensi menjadi penerima manfaat langsung dari ketatnya pasokan.
Lonjakan harga minyak terjadi setelah Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran melalui platform Truth Social. Pernyataan ini menambah tensi geopolitik yang sudah memanas sejak operasi militer akhir Februari lalu.
Trump menulis bahwa waktu bagi Iran semakin menipis dan mereka harus segera bertindak. Pasar membaca pernyataan ini sebagai sinyal eskalasi yang dapat mengganggu jalur pasokan strategis.
Selat Hormuz dan Krisis Pasokan
Iran masih membatasi akses Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Blokade ini telah berlangsung hampir 12 minggu sejak konflik dengan AS dan Israel meletus.
Menurut laporan Kompas, IEA memperingatkan persediaan minyak global terus menipis di tengah ketegangan ini. Bank investasi UBS memproyeksikan inventori dapat menyentuh 7,6 miliar barel pada akhir Mei.
Sebagaimana dikutip Sindonews, Moody's Ratings memprediksi Brent bertahan di kisaran US$100 per barel sepanjang 2026. IEA mencatat kerugian pasokan kumulatif sudah melampaui 1 miliar barel sejak konflik dimulai.
Produksi minyak global tercatat turun 3,9 juta barel per hari sepanjang 2026. Angka ini menjadi salah satu kontraksi pasokan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Sanksi Rusia dan Dampak ke Saham Energi
Tekanan pasokan semakin berat setelah AS resmi mengakhiri relaksasi sanksi minyak terhadap Rusia. Kebijakan ini menutup celah ekspor yang sebelumnya membantu menjaga keseimbangan pasar global.
Menurut Bloomberg Technoz, langkah ini memperketat suplai global di tengah kondisi pasokan yang sudah rapuh. Kombinasi tekanan dari Iran dan Rusia mendorong premium risiko geopolitik pada harga minyak.
Pelaku pasar mulai mengarahkan perhatian ke saham emiten energi AS yang berpotensi menikmati kenaikan harga ini. Saham Exxon Mobil (XOM) menjadi salah satu nama besar yang paling diuntungkan.
Selain itu, Chevron (CVX) juga berada di posisi strategis dengan portofolio hulu yang luas. Margin operasional perusahaan terintegrasi cenderung membaik saat harga Brent berada di atas US$100 per barel.
Investor jangka menengah turut melirik ConocoPhillips (COP) yang fokus pada eksplorasi dan produksi. Sensitivitas laba COP terhadap harga minyak relatif tinggi dibanding emiten energi terintegrasi.
Risiko utama tetap ada jika ketegangan geopolitik mereda lebih cepat dari ekspektasi pasar. Namun selama Selat Hormuz tertekan dan sanksi Rusia berlanjut, harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi.












