Harga Minyak Tembus US$111, Saham Energi AS Menguat

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Harga Minyak Tembus US$111, Saham Energi AS Menguat

Share this article

Gotrade News - Harga minyak global melonjak setelah ancaman Presiden Donald Trump kepada Iran kembali memicu kekhawatiran pasokan dunia. Brent kontrak Juli naik 1,98% menjadi US$111,42 per barel pada perdagangan pekan ini.

Tekanan tambahan datang dari keputusan Amerika Serikat mengakhiri relaksasi sanksi minyak Rusia. Kondisi ini memperketat pasokan global di saat persediaan dunia sudah mendekati level rekor terendah.

Key Takeaways

  • Brent Juli menguat ke US$111,42 per barel, sementara WTI Juni naik 2,43% menjadi US$107,98 per barel.
  • UBS memperkirakan inventori minyak global dapat mendekati rekor terendah 7,6 miliar barel pada akhir Mei 2026.
  • Saham energi AS seperti XOM, CVX, dan COP berpotensi menjadi penerima manfaat langsung dari ketatnya pasokan.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran melalui platform Truth Social. Pernyataan ini menambah tensi geopolitik yang sudah memanas sejak operasi militer akhir Februari lalu.

Trump menulis bahwa waktu bagi Iran semakin menipis dan mereka harus segera bertindak. Pasar membaca pernyataan ini sebagai sinyal eskalasi yang dapat mengganggu jalur pasokan strategis.

Selat Hormuz dan Krisis Pasokan

Iran masih membatasi akses Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Blokade ini telah berlangsung hampir 12 minggu sejak konflik dengan AS dan Israel meletus.

Menurut laporan Kompas, IEA memperingatkan persediaan minyak global terus menipis di tengah ketegangan ini. Bank investasi UBS memproyeksikan inventori dapat menyentuh 7,6 miliar barel pada akhir Mei.

Sebagaimana dikutip Sindonews, Moody's Ratings memprediksi Brent bertahan di kisaran US$100 per barel sepanjang 2026. IEA mencatat kerugian pasokan kumulatif sudah melampaui 1 miliar barel sejak konflik dimulai.

Produksi minyak global tercatat turun 3,9 juta barel per hari sepanjang 2026. Angka ini menjadi salah satu kontraksi pasokan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Sanksi Rusia dan Dampak ke Saham Energi

Tekanan pasokan semakin berat setelah AS resmi mengakhiri relaksasi sanksi minyak terhadap Rusia. Kebijakan ini menutup celah ekspor yang sebelumnya membantu menjaga keseimbangan pasar global.

Menurut Bloomberg Technoz, langkah ini memperketat suplai global di tengah kondisi pasokan yang sudah rapuh. Kombinasi tekanan dari Iran dan Rusia mendorong premium risiko geopolitik pada harga minyak.

Pelaku pasar mulai mengarahkan perhatian ke saham emiten energi AS yang berpotensi menikmati kenaikan harga ini. Saham Exxon Mobil (XOM) menjadi salah satu nama besar yang paling diuntungkan.

Selain itu, Chevron (CVX) juga berada di posisi strategis dengan portofolio hulu yang luas. Margin operasional perusahaan terintegrasi cenderung membaik saat harga Brent berada di atas US$100 per barel.

Investor jangka menengah turut melirik ConocoPhillips (COP) yang fokus pada eksplorasi dan produksi. Sensitivitas laba COP terhadap harga minyak relatif tinggi dibanding emiten energi terintegrasi.

Risiko utama tetap ada jika ketegangan geopolitik mereda lebih cepat dari ekspektasi pasar. Namun selama Selat Hormuz tertekan dan sanksi Rusia berlanjut, harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi.

Sumber

Disclaimer: Gotrade Indonesia adalah aplikasi investasi yang terdaftar resmi di OJK dan didukung oleh PT Valbury Asia Futures.

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade