Gotrade News - Rupiah menembus rekor terlemah baru pada awal pekan ini di tengah eskalasi konflik geopolitik. Mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp17.661 per dolar AS pada Senin pagi.
Tekanan datang dari memanasnya konflik AS-Iran serta arus keluar dana asing dari aset emerging market. Investor global beralih ke aset safe haven berdenominasi dolar untuk melindungi portofolio.
Key Takeaways
- Rupiah menyentuh rekor terlemah Rp17.661 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi.
- Konflik AS-Iran memperparah tekanan jual dengan investor memburu dolar sebagai safe haven.
- Pelemahan rupiah berisiko menekan daya beli melalui jalur BBM, pupuk, dan input pertanian.
Menurut laporan Kompas, rupiah dibuka melemah dan langsung menyentuh level Rp17.661 per dolar. Posisi tersebut menjadi yang terlemah sepanjang sejarah perdagangan mata uang Indonesia.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari pekan sebelumnya saat rupiah ditutup di kisaran Rp17.500 per dolar. Pembukaan pagi ini tercatat di Rp17.570 atau turun sekitar 0,6 persen.
Pemicu Pelemahan Rupiah
Dilansir Liputan6, kekhawatiran pasar terhadap konflik AS-Iran menjadi pemicu utama tekanan jual. Investor global mencari perlindungan dengan memborong dolar AS sebagai aset safe haven.
Permintaan dolar yang melonjak menekan mayoritas mata uang emerging market termasuk rupiah. Arus keluar dana asing dari pasar obligasi dan saham domestik turut memperdalam pelemahan.
Sentimen risk-off juga mendorong investor masuk ke instrumen seperti Invesco DB US Dollar (UUP) sebagai proxy penguatan dolar. ETF tersebut menjadi salah satu kendaraan populer untuk eksposur USD-denominated.
Selain dolar, obligasi pemerintah AS bertenor panjang seperti iShares 20+ Year Treasury Bond (TLT) ikut menjadi tujuan dana global. Treasury dipandang aset lindung nilai paling likuid di tengah ketidakpastian geopolitik.
Dampak ke Ekonomi Domestik
Melansir Bloomberg Technoz, pelemahan rupiah berfungsi sebagai pajak tersembunyi bagi masyarakat. Efeknya menjalar melalui kenaikan harga barang impor dan input produksi.
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafni menyebut tiga jalur utama dampaknya yakni pupuk, input pertanian, dan BBM. Ketiga sektor tersebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen impor berdenominasi dolar.
Kenaikan biaya impor berisiko terus menjalar ke harga pangan dan tarif logistik domestik. Tekanan inflasi dari sisi pasokan ini berpotensi menggerus daya beli rumah tangga.
Pelaku pasar juga mencermati dampak ke kinerja emiten yang sensitif terhadap kurs. ETF terkait pasar Indonesia seperti iShares MSCI Indonesia (EIDO) menjadi indikator persepsi investor asing terhadap aset domestik.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun ruang kebijakan menyempit di tengah cadangan devisa yang harus dijaga untuk antisipasi gejolak lanjutan.
Pelaku pasar menanti kejelasan arah konflik geopolitik dan sikap Federal Reserve terhadap suku bunga. Dua faktor ini akan menentukan tekanan lanjutan terhadap rupiah dalam beberapa pekan ke depan.
Bank Indonesia kemungkinan menahan suku bunga acuan lebih lama untuk menjaga selisih imbal hasil dengan obligasi Treasury AS yang menarik. Importir bahan baku farmasi dan elektronik akan menghadapi tekanan margin sehingga mendorong investor mencari lindung nilai pada aset berdenominasi dolar.












