Harga Emas Dunia Ditutup di US$4.193,9, Naik 1,2% Sepanjang Pekan

Ringkasan
- Harga emas dunia ditutup di US$4.193,9 per troy ounce pada 9 Oktober 2026, naik 1,2% sepanjang pekan dan tertinggi sejak 25 September.
- Kenaikan didorong aksi beli masif, sementara World Gold Council mencatat arus masuk ETF emas global US$31 miliar pada kuartal III 2026.
- Secara teknikal, resistance terdekat ada di US$4.239 dan support di US$4.130, dengan RSI 44 yang masih menandakan sentimen bearish.
Gotrade News - Harga emas dunia ditutup di US$4.193,9 per troy ounce pada Jumat (9/10/2026), naik 1,47% dalam sehari dan menguat 1,2% sepanjang pekan. Menurut Bloomberg Technoz, posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak 25 September, setelah harga emas menguat 2,02% dalam dua hari beruntun.
Dengan level US$4.200 kini tinggal selangkah lagi, pelaku pasar mencermati apakah reli ini bisa berlanjut pada pekan kedua Oktober. Sinyal teknikal mingguan masih bercampur, sehingga arah harga belum sepenuhnya jelas.
Aksi Borong dan Arus Masuk ETF Emas
Dilansir Bloomberg Technoz yang mengutip Bloomberg News, kenaikan harga emas didorong oleh aksi beli yang masif. Arus modal ke ETF emas sepanjang September disebut sebagai yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Menurut laporan World Gold Council, ETF emas global mencatat arus masuk US$10 miliar pada September dan US$31 miliar sepanjang kuartal III 2026, rekor untuk satu kuartal. Kepemilikan emas ETF global naik 67 ton menjadi 4.256 ton, meski total aset kelolaan turun 7% secara bulanan menjadi US$574 miliar karena harga emas yang lebih rendah pada bulan itu.
World Gold Council juga mencatat arus masuk kuartal III dipimpin Eropa sebesar US$14 miliar, disusul Amerika Utara US$12 miliar dan Asia US$4,9 miliar. Dalam laporan yang sama, kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September disebut ikut menekan harga emas saat itu.
Indikator | Data |
|---|---|
Harga emas (9/10/2026) | US$4.193,9/troy ounce |
Perubahan mingguan | +1,2% |
Arus masuk ETF emas global September | US$10 miliar |
Arus masuk ETF emas global kuartal III | US$31 miliar |
Kepemilikan ETF emas global | 4.256 ton |
Level Teknikal Emas: Resistance US$4.239, Support US$4.130
Secara teknikal, Bloomberg Technoz mencatat Relative Strength Index (RSI) 14 hari di level 44, masih di bawah 50 yang menandakan sentimen bearish. Indikator Stochastic RSI berada di 33, mendekati area jenuh jual.
Meski begitu, harga sudah menembus pivot point di US$4.156 per troy ounce, sehingga Bloomberg Technoz menilai emas masih berpotensi naik pekan ini. Resistance terdekat ada di US$4.239 (rata-rata bergerak 5 hari), lalu US$4.341 (rata-rata bergerak 10 hari), dengan skenario paling optimistis di US$4.407.
Jika tekanan jual muncul, support terdekat berada di US$4.130 per troy ounce, diikuti rentang US$4.104 sampai US$3.982. Skenario paling pesimistis menempatkan harga di US$3.962.
Peluang The Fed Tahan Suku Bunga 82,3%
Dari sisi fundamental, Bloomberg Technoz menyebut peluang The Fed menahan suku bunga mencapai 82,3% berdasarkan CME FedWatch. Faktor ini penting karena emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga sensitif terhadap ekspektasi suku bunga.
Laporan yang sama juga menyoroti kesepakatan pasokan diesel dari Rusia yang dapat meredam kekhawatiran inflasi energi global. Meredanya kekhawatiran inflasi dapat mengurangi salah satu alasan permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Harga emas juga memengaruhi kinerja perusahaan tambang emas yang tercatat di bursa saham AS, seperti Newmont (NEM) dan Agnico Eagle Mines (AEM), serta ETF sektor tambang emas VanEck Gold Miners ETF (GDX). Data di atas bersifat informasi pasar, bukan rekomendasi beli atau jual.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.












