Gotrade News - Pertamina menaikkan harga BBM dan LPG nonsubsidi per Sabtu (18/04), mengikuti lonjakan harga minyak global. Kenaikan ini langsung menekan biaya operasional jutaan pelaku UMKM yang bergantung pada energi gas.
Key Takeaways:
- LPG 12 kg nonsubsidi naik 18,75% ke Rp 228.000, sementara tabung 5,5 kg naik Rp 17.000 ke Rp 107.000
- Pemerintah menjamin harga BBM dan LPG subsidi tidak ikut naik selama ICP di bawah $100 per barel
- Pembatasan pembelian BBM subsidi 50 liter per hari diberlakukan untuk mencegah migrasi konsumen
Kenaikan Harga dan Tekanan ke UMKM
Harga LPG nonsubsidi 12 kg melonjak dari Rp 192.000 menjadi Rp 228.000 per tabung. Tabung 5,5 kg juga naik Rp 17.000 menjadi Rp 107.000, membebani rumah tangga dan usaha kecil perkotaan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan kenaikan ini merupakan konsekuensi mekanisme pasar transparan. Indonesia Crude Price (ICP) mencapai $102,26 per barel pada Maret 2026, didorong ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
Selat Hormuz menangani sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia. Ketidakstabilan di kawasan tersebut mendorong harga energi global naik secara signifikan.
Pelaku UMKM, terutama sektor kuliner dan restoran, menghadapi lonjakan biaya bahan bakar operasional. Kenaikan ini memaksa pelaku usaha kecil meninjau ulang struktur harga jual produk mereka.
Subsidi Tetap, Pengawasan Diperketat
Menurut Liputan6, harga BBM dan LPG 3 kg subsidi dipastikan stabil. Keputusan Menteri No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 menjamin harga tidak naik selama ICP di bawah $100 per barel.
Pemerintah juga memberlakukan batas pembelian BBM subsidi maksimal 50 liter per hari per kendaraan. Dilansir BloombergTechnoz, kebijakan ini mencegah migrasi konsumen ke Pertalite dan Solar.
Bahlil menegaskan 50 liter cukup untuk kebutuhan harian kendaraan pribadi. Kebijakan ini juga mempertimbangkan kebutuhan truk logistik secara terpisah.
Harga nonsubsidi mengacu pada pricing Saudi Aramco yang berfluktuasi setiap bulan. Penyesuaian ini tidak memengaruhi harga BBM bersubsidi yang dilindungi regulasi.
Bagi investor, sektor energi global turut terdampak dinamika harga minyak ini. Saham seperti Exxon Mobil dan Chevron cenderung diuntungkan saat harga minyak tinggi.
Tekanan fiskal dari subsidi energi tetap menjadi tantangan APBN jangka menengah. Pemerintah berupaya menyeimbangkan proteksi UMKM dengan keberlanjutan anggaran negara.
Sources: Kompas Money, Dilema Elpiji Non Subsidi: Dinamika Fiskal vs Proteksi UMKM, 2026 BloombergTechnoz, Harga BBM Nonsubsidi Naik, Bahlil Mau Cegah Pertalite-Solar Jebol, 2026 Liputan6, Harga BBM dan LPG Subsidi Pertamina Dipastikan Tak Naik, 2026












